Ketua DPR AS Sebut Perang dengan Iran Segera Masuk Babak Baru, Klaim Sekutu Siap Turun Tangan
Ketua DPR AS Mike Johnson menyatakan perang Amerika Serikat melawan Iran akan memasuki fase baru karena konflik tak menunjukkan tanda berakhir. Ia mengklaim negara sekutu siap membantu dan menegaskan Iran tak bisa dipercaya di meja perundingan. Pernyataan ini muncul di tengah gencatan senjata dan MoU 60 hari yang kerap dibayangi ancaman serangan Trump.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat Mike Johnson menilai perang negaranya melawan Iran akan segera memasuki babak baru. Pernyataan itu ia sampaikan karena hingga kini belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan berakhir.
Dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip Middle East Eye pada Minggu (23/8), Johnson mengungkapkan keyakinannya bahwa fase berikutnya akan segera dimulai. Menurutnya, negara-negara sekutu AS sudah bersiap memberikan bantuan pada tahap selanjutnya hingga perang tuntas.
"Saya kira kita akan memasuki fase baru segera. Saya yakin negara-negara sekutu kami siap membantu di fase selanjutnya, sampai kami menyelesaikannya," ujar Johnson.
Politikus Partai Republik itu juga menyatakan bahwa tujuan pemerintahan AS sebelumnya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir, dan ia mengeklaim Presiden Donald Trump telah mewujudkan hal tersebut. Johnson turut mengulang narasi Trump yang tidak mempercayai Iran.
"Iran tak bisa dipercaya di meja perundingan," tegasnya.
Ketegangan antara AS dan Iran sendiri telah berlangsung panjang. Pada akhir Februari, Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Operasi itu mengakibatkan sejumlah pejabat tinggi pertahanan dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Teheran tidak tinggal diam dan langsung membalas dengan menyerang wilayah Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Yordania dan Bahrain. Kedua pihak sempat melakukan gencatan senjata pada April, meski tanpa kejelasan soal perpanjangannya.
Memasuki Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan perang. Kesepakatan itu memberi waktu 60 hari bagi kedua negara bernegosiasi demi terciptanya perdamaian di kawasan. Namun, di tengah proses tersebut, Trump berulang kali melontarkan ancaman akan menyerang Iran.
Sejumlah ancaman itu benar-benar dilakukan, sementara sebagian lainnya hanya menjadi pernyataan tanpa tindakan. Iran merespons dengan serangan balasan sekaligus menegaskan tidak bersedia bernegosiasi di bawah tekanan ancaman maupun serangan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0