Dark AI: Senjata Baru Hacker, Ancaman Keamanan Siber 2025

Dark AI jadi senjata baru kejahatan siber. Kaspersky ungkap ancaman ini dan cara melindungi diri dari serangan berbasis AI berbahaya.

Aug 10, 2025 - 17:00
 0
Dark AI: Senjata Baru Hacker, Ancaman Keamanan Siber 2025
Ilustrasi Dark AI

Jakarta – Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengingatkan publik akan ancaman serius dari fenomena Dark AI, atau kecerdasan buatan gelap, yang kini menjadi otak di balik berbagai serangan siber tingkat lanjut. Teknologi ini memanfaatkan kemampuan AI untuk tujuan ilegal, mulai dari phishing hingga spionase digital berskala global.

Menurut Kaspersky, Dark AI telah menjadi salah satu temuan penting mereka dalam riset terbaru. Kepala Tim Riset Analisis Global (GReAT) untuk META dan APAC, Sergey Lozhkin, menjelaskan bahwa popularitas AI publik seperti ChatGPT sejak 2023 memicu dua sisi perkembangan teknologi.
Di satu sisi, AI digunakan untuk keperluan positif seperti pembuatan konten video, analisis data, hingga deteksi ancaman. Namun di sisi gelapnya, para peretas memanfaatkannya untuk memperkuat serangan mereka.

“Kita kini hidup di era di mana AI adalah perisai, sementara Dark AI adalah pedangnya,” ujar Lozhkin, Selasa (5/8).

Apa Itu Dark AI?

Dark AI merujuk pada penerapan model bahasa besar (LLM) yang dijalankan secara lokal atau jarak jauh tanpa pengawasan, tanpa batasan etika, dan di luar kendali tata kelola resmi. Model ini dapat diprogram untuk melakukan aktivitas berbahaya seperti penipuan, manipulasi, penyusupan sistem, pencurian data, hingga membuat deepfake.

Salah satu bentuk Dark AI yang paling banyak dikenal adalah Black Hat GPT — model AI yang sengaja dimodifikasi untuk mendukung kejahatan siber. Sejak pertengahan 2023, muncul berbagai versi seperti WormGPT, DarkBard, FraudGPT, dan Xanthorox. Alat ini mampu menghasilkan kode berbahaya, membuat email phishing yang sangat meyakinkan, hingga membantu operasi Red Team untuk menguji dan mengeksploitasi kelemahan sistem keamanan.

Ancaman yang Kian Terorganisir

Tidak hanya kelompok kriminal independen, tren terbaru menunjukkan bahwa aktor negara juga mulai memanfaatkan Dark AI dalam operasi mereka.
OpenAI bahkan mengungkapkan telah menggagalkan lebih dari 20 kampanye siber terselubung yang mencoba memanfaatkan sistem AI untuk menciptakan persona palsu, berinteraksi dengan target secara real-time, dan memproduksi konten multibahasa yang sulit terdeteksi oleh filter keamanan tradisional.

“AI itu netral—ia hanya menjalankan perintah. Yang berbahaya adalah ketika teknologi ini jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Lozhkin.

Langkah Pencegahan yang Disarankan

Dengan semakin mudah diaksesnya teknologi Dark AI, Kaspersky mengingatkan organisasi dan individu di Asia Pasifik untuk memperketat higiene keamanan siber.
Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Berinvestasi pada sistem deteksi ancaman berbasis AI

  • Melakukan pelatihan keamanan siber secara rutin

  • Meningkatkan literasi digital agar tidak mudah tertipu phishing dan deepfake

  • Memperbarui perangkat lunak keamanan secara berkala

Lozhkin menegaskan bahwa kesadaran dan pengetahuan adalah kunci menghadapi era di mana teknologi AI bisa menjadi pelindung atau senjata mematikan, tergantung siapa yang mengendalikannya.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0