Asap Karhutla Kalimantan Terbawa Angin, Polusi Udara Sarawak Capai Level Sangat Tidak Sehat
BMKG mengungkap pola angin membawa asap karhutla dari Kalimantan dan Sumatra menyebar ke wilayah sekitar. Berkurangnya curah hujan akibat El Nino sangat kuat dan IOD positif memicu karhutla. Dampaknya, Serian di Sarawak mencatat indeks polusi udara tertinggi 217 atau kategori sangat tidak sehat, sementara sembilan wilayah lain di Sarawak masuk kategori tidak sehat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pola pergerakan angin telah membawa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Kalimantan dan Sumatra hingga menyebar ke kawasan sekitarnya. Temuan itu berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026 yang mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan serta di Kalimantan.
Menurut BMKG, meluasnya asap karhutla tidak lepas dari berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Pada analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah.
Kondisi tersebut diperkuat oleh perkembangan El Nino yang mencapai intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam fase positif. Keduanya turut mendukung berkurangnya curah hujan secara umum di sebagian besar wilayah Indonesia.
"Berkurangnya curah hujan tersebut berimplikasi pada sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Indonesia," kata BMKG dalam laporan Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 21-27 Agustus 2026.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan rawan terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api atau hotspot.
Dampak karhutla di Kalimantan ternyata turut dirasakan sejumlah wilayah Malaysia, terutama Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Berdasarkan data portal Malaysian Air Pollutant Index Management System (APIMS), per Sabtu (22/8) hingga pukul 16.00 waktu setempat, Serian di Sarawak mencatat indeks polusi udara (API) tertinggi, yakni 217, dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Sementara itu, sembilan wilayah lain di Sarawak mencatatkan indeks dalam kategori tidak sehat. Setelah Serian, Sri Aman berada di tingkat polusi terburuk berikutnya dengan angka 186, disusul Sarikei 173, Kuching 171, dan Samarahan 170.
Sibu dan Samalaju masing-masing mencatat API sebesar 156. Selanjutnya, Bintulu berada di angka 153, Mukah 125, dan Kapit 108.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0