LPPM UNES Gelar Monev Lapangan, Dorong LPS Air Pacah Jadi Pusat Ekonomi Sirkular
LPPM Universitas Ekasakti melakukan Monev LPS Air Pacah untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis green economy dan ekonomi sirkular.
PADANG — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Ekasakti melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Lapangan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) Air Pacah, Minggu, 13 September 2026.
Monev tersebut merupakan bagian dari evaluasi program “Pemberdayaan Lembaga Pengelolaan Sampah Air Pacah Menuju Masyarakat Mandiri Finansial Berbasis Green Economy”. Kegiatan dipimpin langsung Ketua LPPM Universitas Ekasakti, Prof. Dr. Ir. I Ketut Budaraga, M.Si., bersama Tim Monev yang terdiri dari Dr. Ir. Murnita, MP., Zelmi Zola, Ph.D., dan Agung Syukra, S.Si., M.Si.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengevaluasi pelaksanaan program, tetapi juga melihat secara langsung capaian, manfaat, kapasitas kelembagaan, serta peluang keberlanjutan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Ketua LPPM Universitas Ekasakti menekankan bahwa persoalan sampah saat ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Sampah memiliki dimensi sosial, ekonomi, kesehatan, tata kelola, dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, program di Air Pacah diarahkan untuk mengubah paradigma masyarakat dari melihat sampah sebagai beban menjadi sumber daya dan peluang ekonomi.
Pendekatan yang dikembangkan menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai pengelola sampah, tetapi sebagai pelaku ekonomi hijau yang mampu menciptakan nilai tambah dari material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Konsep tersebut diwujudkan melalui pendekatan ekonomi sirkular, yaitu sampah dipilah, dikumpulkan, diolah, dimanfaatkan kembali, kemudian dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Sampah organik diarahkan untuk dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau produk bernilai guna. Sementara sampah anorganik, khususnya plastik, dipilah dan diolah menjadi material bernilai tambah.
Salah satu hasil pengembangan yang ditampilkan dalam dokumen Monev adalah pengolahan sampah plastik menjadi cacahan plastik dan Eco Paving Block.
Ketua pengolah sampah plastik LPS Air Pacah, Mul Afriyal, menjelaskan bahwa pendampingan Universitas Ekasakti memberikan pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah sampah plastik.
Sebelumnya, sampah plastik lebih banyak dipandang sebagai limbah yang sulit ditangani. Melalui program pendampingan, masyarakat mulai melihat plastik sebagai bahan baku yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Proses pengolahan dilakukan melalui pemilahan berdasarkan jenis dan kondisi bahan, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan, pengeringan, dan pencacahan. Cacahan tersebut dapat menjadi bahan baku pengolahan lebih lanjut maupun memiliki nilai jual sebagai material hasil pemilahan.
Selain cacahan plastik, LPS Air Pacah juga mengembangkan Eco Paving Block dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai salah satu komponennya.
Pengembangan produk tersebut masih membutuhkan penguatan, khususnya pada aspek kualitas, kekuatan, daya tahan, keamanan, desain, standardisasi, perhitungan biaya produksi, hingga pemasaran.
Ketua LPPM Universitas Ekasakti menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur berdasarkan jumlah kegiatan yang terlaksana maupun jumlah peserta yang mengikuti kegiatan.
Monev diarahkan untuk melihat perubahan yang terjadi setelah program dijalankan. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain peningkatan kapasitas lembaga, volume sampah yang berhasil dikelola, partisipasi masyarakat dalam memilah sampah, peningkatan nilai ekonomi sampah, pencatatan keuangan, serta kemampuan lembaga menghasilkan pendapatan secara mandiri.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Program diharapkan tetap berjalan dan berkembang meskipun periode pendampingan perguruan tinggi telah berakhir.
Ketua tim pengusul, Elvianti, ST., MT., menyampaikan bahwa program pengabdian tersebut diharapkan menghasilkan perubahan nyata dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Program melibatkan tim lintas bidang ilmu serta dua mahasiswa dari Teknik Sipil. Salah satu tujuan utamanya adalah membangun LPS Air Pacah agar semakin kuat, profesional, mandiri, dan mampu menjalankan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Penguatan kelembagaan mencakup pembagian tugas yang jelas, administrasi, pencatatan kegiatan dan keuangan, serta kemampuan mengelola kegiatan secara mandiri.
Selain itu, masyarakat didorong meningkatkan keterampilan dalam pemilahan sampah, pengolahan sampah organik dan anorganik, pengembangan produk bernilai tambah, pengelolaan bank sampah, pemasaran, pencatatan keuangan, serta pengembangan model bisnis berbasis ekonomi hijau.
Ketua LPS Air Pacah, Parmilis, menyampaikan bahwa program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengubah cara pandang masyarakat.
Menurutnya, masyarakat mulai memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat menjadi sumber daya sekaligus sumber pendapatan.
LPS Air Pacah berharap kapasitas pengurus dan anggota terus meningkat, termasuk dalam pemilahan, pengumpulan, pengolahan, pencatatan, serta pemasaran hasil pengelolaan sampah.
Partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penting. Pemilahan sampah diharapkan tidak hanya dilakukan ketika terdapat program tertentu, tetapi berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
LPPM Universitas Ekasakti menargetkan program pemberdayaan di Air Pacah tidak berhenti pada satu kelompok masyarakat.
Ke depan, LPS Air Pacah diharapkan dapat berkembang menjadi pusat ekonomi sirkular berbasis masyarakat, dengan berbagai unit usaha seperti bank sampah, pengolahan sampah organik, produksi kompos, pengolahan sampah anorganik, kerajinan daur ulang, pengembangan produk bernilai tambah, hingga pemasaran digital.
Model tersebut juga diharapkan dapat menjadi contoh yang dapat direplikasi di kelurahan atau wilayah lain di Kota Padang.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari capaian satu kelompok, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan model pemberdayaan yang dapat diperluas dan memberikan dampak lebih besar.
Pengembangan LPS Air Pacah juga diarahkan melalui pendekatan kemitraan yang melibatkan berbagai unsur.
Universitas berperan membawa ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat menghadirkan pengalaman serta potensi lokal, pemerintah memberikan dukungan kebijakan, sedangkan dunia usaha dapat membuka akses pasar dan jejaring usaha.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan pentahelix yang diharapkan dapat memperkuat akses LPS terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, pelatihan, kebijakan, dan pengembangan usaha.
Program tersebut juga diarahkan untuk berkontribusi terhadap sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim.
Pengembangan pengolahan plastik di LPS Air Pacah memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan peluang ekonomi masyarakat.
Mul Afriyal menyampaikan komitmen untuk terus meningkatkan jumlah sampah plastik yang dikelola, memperbaiki kualitas produk, menjaga keselamatan kerja, serta membangun sistem pengolahan yang lebih tertib dan berkelanjutan.
LPS juga berharap pendampingan Universitas Ekasakti dapat terus berlanjut dalam peningkatan teknologi, formulasi Eco Paving Block, pengujian mutu, standardisasi, branding, perhitungan harga jual, pemasaran, dan pengembangan jaringan kerja sama.
Melalui Monev lapangan tersebut, LPPM Universitas Ekasakti mendorong agar program pengabdian tidak berhenti pada pemenuhan luaran administratif. Program diharapkan menghasilkan perubahan nyata berupa lingkungan yang lebih bersih, kelembagaan masyarakat yang lebih kuat, peningkatan nilai ekonomi sampah, serta kemandirian masyarakat.
Bagi LPS Air Pacah, arah pengembangan tersebut dirangkum dalam satu gagasan: dari plastik yang dibuang menjadi cacahan yang bernilai, dari cacahan menjadi Eco Paving Block, dan dari sampah menjadi sumber ekonomi masyarakat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)