Studi Science Ungkap Efek Samping Ekspansi Solar Panel China terhadap Burung
Studi di jurnal Science mengungkap ekspansi solar panel besar-besaran di China menurunkan keanekaragaman burung. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai green dilemma, karena pembangunan energi bersih membuka lahan pertanian dan padang rumput secara cepat. Dampak terkuat terjadi di wilayah makmur dan non-gurun, sementara burung pegunungan relatif tak terdampak.
Sebuah riset terbaru yang dimuat di jurnal Science pada Kamis (20/8) menyoroti dampak tersembunyi dari perluasan pembangkit listrik tenaga surya di China. Studi tersebut menemukan bahwa ekspansi solar panel besar-besaran berkaitan dengan penurunan keanekaragaman burung di negara itu.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai green dilemma, yakni situasi ketika upaya menekan emisi karbon justru berbenturan dengan kepentingan menjaga kelestarian lingkungan. Menurut mereka, kebijakan yang mendorong energi surya membuat lahan pertanian dan padang rumput dibuka dengan cepat untuk pembangunan.
Penulis utama studi, Huiming Zhang dari Nanjing University of Information Science & Technology, menegaskan bahwa temuan ini bukan alasan untuk memperlambat transisi energi terbarukan. Ia menilai pembangunan energi surya perlu mempertimbangkan faktor ekologis secara lebih matang.
China sendiri tengah mengejar target netralitas karbon sebelum 2060. Pada 2024, luas area yang dipakai untuk energi surya diperkirakan mencapai 4.520 kilometer persegi, setara dengan luas negara bagian Rhode Island di Amerika Serikat. Negara itu memproyeksikan energi surya menyumbang sekitar 45 persen dari bauran energinya pada 2060.
Penentuan lokasi pembangkit surya di China tidak hanya mempertimbangkan paparan sinar matahari dan ketersediaan lahan, tetapi juga penyesuaian dengan Rencana Lima Tahun pemerintah untuk mendorong pembangunan ekonomi di wilayah tertentu. Dalam penelitiannya, Zhang dan tim memanfaatkan perbedaan kebijakan pengembangan energi surya di 2.344 kabupaten sepanjang 2014 hingga 2023, sekaligus memperhitungkan tren nasional, cuaca, kondisi ekonomi, tutupan lahan, dan aktivitas pengamatan burung.
Hasil riset menunjukkan adanya trade-off negatif. Semakin ketat kebijakan pendorong energi surya, semakin besar penurunan keanekaragaman burung, meski dampaknya tergolong sedang. Efek ini lebih kuat di wilayah yang lebih makmur dan non-gurun. Burung menetap maupun migran sama-sama mengalami penurunan signifikan, sementara spesies dari habitat pegunungan atau wilayah yang kurang cocok untuk pembangkit surya tidak terpengaruh.
Para peneliti juga menemukan adanya upaya penghijauan yang kurang berkualitas. Jumlah tutupan vegetasi mungkin meningkat, tetapi karena terlalu homogen, kualitas ekologisnya justru menurun. Yuanning Liang dari Universitas Peking menyebut burung sebagai kelompok indikator yang efektif untuk penilaian keanekaragaman hayati berskala besar karena populasinya tersedia sepanjang waktu dan di berbagai wilayah.
Liang menambahkan, persoalan serupa berpotensi muncul pada bentuk energi terbarukan lain, seperti pembangkit listrik tenaga angin. Ia mendorong langkah lanjutan berupa penilaian nilai yang mengaitkan perubahan keanekaragaman burung dengan jasa ekosistem dan nilai konservasi, agar analisis kebijakan tidak meremehkan biaya sosial pembangunan.
Studi ini merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain mengarahkan proyek surya berskala besar ke lokasi dengan konflik ekologis lebih rendah, melakukan penilaian menyeluruh pada setiap lokasi, serta membatasi perubahan fungsi lahan di wilayah produktif dan kaya habitat. Zhang menegaskan pembangunan energi bersih dan konservasi keanekaragaman hayati tidak harus saling mengorbankan, asalkan pemilihan lokasi tepat dan perlindungan hayati dijalankan dengan serius.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0