El Nino Kini Masuk Kategori Kuat, BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem dan Risiko Karhutla Meluas

BMKG menyebut El Nino kini masuk kategori kuat dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik timur di atas +2 derajat Celcius. Dampaknya, kemarau di Indonesia berpotensi lebih kering, hari tanpa hujan memanjang, kekeringan meluas, dan risiko karhutla meningkat. Pemerintah mencatat lebih dari 107 ribu hektare lahan terdampak karhutla hingga awal Agustus 2026.

Sep 15, 2026 - 03:20
Updated: 2 months ago
0
El Nino Kini Masuk Kategori Kuat, BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem dan Risiko Karhutla Meluas
El Nino Kini Masuk Kategori Kuat, BMKG Peringatkan Kemarau Ekstrem dan Risiko Karhutla Meluas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa El Nino yang kini masuk kategori kuat berdampak serius terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Fenomena ini disebut memicu kemarau yang lebih ekstrem di sejumlah wilayah sekaligus meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa El Nino mulai dikategorikan kuat karena nilai anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik timur atau Nino 3.4 berada di atas +2 derajat Celcius. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diwaspadai karena dapat mengurangi curah hujan dan membuat musim kemarau lebih kering dari biasanya.

"Karena dapat menyebabkan hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, meningkatkan potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian maupun kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan risiko karhutla," ujar Linda, seperti dikutip dari Antara, Kamis (13/8).

Linda menambahkan, salah satu pemicu El Nino kategori kuat adalah anomali suhu muka laut di Samudra Hindia bagian barat dan timur yang tercermin dari indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada rentang positif 0,63. Indeks itu mengindikasikan suplai air cenderung bergerak dari Indonesia bagian barat menuju pesisir timur Afrika. Kombinasi kondisi tersebut membuat musim kemarau di Indonesia berpotensi lebih kering dibanding kondisi normal.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyatakan bahwa fenomena El Nino turut mempercepat proses kebakaran hutan dan lahan yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, El Nino kategori kuat mulai berlaku dan diperkirakan bertahan hingga awal Oktober, sehingga kondisi itu akan mempercepat perambatan api.

"Keadaan ini [El Nino kuat] akan sangat mempercepat proses penanganan kebakaran hutan kita yang terjadi saat ini," kata Djamari dalam konferensi pers di kantornya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan catatan pemerintah, lebih dari 107 ribu hektare lahan terdampak karhutla di Indonesia hingga awal Agustus 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan masih menjadi tantangan besar di tengah kondisi cuaca yang kian kering.

Guru Besar Kehutanan IPB University, Bambang Hero Sajarjo, menilai El Nino memang menjadi salah satu pemicu karhutla, meski bukan faktor utama. Menurut dia, El Nino mempercepat pengeringan biomassa sehingga bahan bakar di permukaan lebih mudah terbakar dan api cepat meluas.

"Sejatinya ada El Nino atau tidak, kegiatan pengendalian kebakaran wajib dilakukan karena akan berdampak sangat buruk terhadap manusia dan lingkungannya," kata Bambang kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/8).

Bambang menjelaskan, peran El Nino lebih kepada mempercepat pengeringan bahan bakar atau biomassa. Akibatnya, jumlah material yang siap terbakar menjadi lebih banyak dan tinggal menunggu sumber api. Karena itu, ia menekankan bahwa upaya pengendalian kebakaran tetap harus dijalankan tanpa menunggu ada atau tidaknya El Nino.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User