Peneliti Gunakan AI untuk Mempelajari Perilaku Monyet Liar di Kosta Rika
Tim peneliti Emory University mengembangkan perangkat CapuchinAI untuk mempelajari cara monyet kapusin liar berpikir dan memecahkan masalah di Cagar Hutan Taboga, Kosta Rika. Perangkat ini menggabungkan layar sentuh, kamera, dan dispenser makanan, serta menggunakan pengenalan wajah untuk mengidentifikasi individu. Dari 16 monyet yang berinteraksi, 10 berhasil menyelesaikan tantangan, dan delapan masih mengingat cara kerja perangkat pada sesi berikutnya.
Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya digunakan oleh manusia. Para peneliti mulai memanfaatkan teknologi ini untuk mengamati cara monyet liar berpikir, belajar, dan memecahkan masalah di habitat aslinya. Inisiatif ini dilakukan oleh tim peneliti dari Emory University yang mengembangkan perangkat bernama CapuchinAI.
Perangkat tersebut diujicobakan di Cagar Hutan Taboga, Kosta Rika, dengan fokus pada monyet kapusin. CapuchinAI berupa stasiun pengujian portabel yang dilengkapi layar sentuh, kamera web, dan dispenser makanan hasil cetak tiga dimensi, semuanya dirangkai dalam bingkai kayu. Perangkat lunak pengenalan wajah yang dilatih menggunakan foto monyet kapusin di Taboga digunakan untuk mengenali hewan yang mendekat.
Monyet yang mendekat akan diberikan tantangan sederhana, yaitu menyentuh layar untuk mendapatkan sepotong pisang kering. Para peneliti harus menunggu selama dua hari sebelum ada monyet yang berani mendekati perangkat tersebut. Pada hari ketiga, seekor monyet jantan dominan bernama Papi mulai mendekat dan mempelajari pola permainan.
Dari 16 monyet kapusin yang berinteraksi dengan perangkat, sebanyak 10 berhasil memahami tugas yang diberikan. Menariknya, sedikitnya delapan ekor di antaranya masih mengingat cara kerja perangkat saat sesi pengujian berikutnya dilakukan. Hal ini menunjukkan adanya kemampuan belajar dan memori pada hewan tersebut.
Ahli primata dari Emory University, Marcela Benítez, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengamati bagaimana primata memecahkan masalah di bawah tekanan yang mereka alami di alam liar. Menurutnya, kondisi seperti itu sulit untuk direplikasi di lingkungan laboratorium, sehingga pengamatan langsung di habitat alami menjadi penting.
Tim peneliti berencana menguji versi terbaru CapuchinAI pada musim panas ini. Perangkat baru tersebut dirancang untuk mengenali setiap individu monyet kapusin, bukan hanya spesiesnya. Sistem ini juga akan digunakan untuk menguji pengendalian impuls dan fleksibilitas kognitif masing-masing monyet, dengan kemajuan setiap individu yang akan dilacak seperti statistik pemain dalam sebuah gim.
CapuchinAI dinilai lebih interaktif dibandingkan teknologi pengenalan wajah yang sebelumnya digunakan untuk mengidentifikasi simpanse liar. Perangkat ini tidak hanya mengenali hewan, tetapi juga memberikan tantangan dan hadiah secara langsung. Dengan sistem ini, peneliti dapat mempelajari perilaku monyet liar tanpa harus memindahkan mereka dari habitat aslinya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0