Sesar Naik Flores Ternyata Pernah Picu 5 Gempa Dahsyat, Dua di Antaranya Memicu Tsunami dan Ribuan Korban
Sesar Naik Flores tercatat pernah memicu sedikitnya lima gempa kuat di kawasan Bali dan Nusa Tenggara, sebagian disertai tsunami dan menelan korban hingga ribuan orang. Gempa M7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) disebut berkaitan dengan aktivitas sesar aktif ini. Ahli mengingatkan potensi gempa dan tsunami di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara bersifat permanen dan harus terus diwaspadai.
Sesar Naik Flores atau Flores Back-Arc Thrust kembali menjadi sorotan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) pagi. Patahan aktif di dasar laut yang membentang di perairan utara Bali, Nusa Tenggara, hingga Wetar itu disebut menjadi pemicu gempa tersebut.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa Sesar Naik Flores bukan sumber gempa biasa. Sepanjang catatan sejarah, sesar ini pernah memicu sedikitnya lima gempa kuat di kawasan Bali dan Nusa Tenggara, dengan sebagian di antaranya menimbulkan tsunami dan menelan korban hingga ribuan jiwa.
"Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen," kata Daryono dalam keterangannya, Sabtu (15/8).
Menurut Daryono, Sesar Naik Flores terbentuk akibat tekanan tektonik dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Sesar naik busur belakang seperti ini merupakan fenomena yang kerap ditemukan di belakang zona subduksi lempeng.
Catatan sejarah menempatkan lima gempa besar yang berkaitan dengan aktivitas sesar tersebut. Gempa Bali-Lombok 22 November 1815 berkekuatan M7,0 memicu tsunami di Bali utara dan Lombok. Berikutnya, gempa Bima 28 November 1836 dengan M7,5 mengguncang wilayah Bima. Pada 13 Mei 1857, gempa M7,0 kembali mengguncang Bali-Lombok dan dilaporkan memicu tsunami di kedua wilayah itu.
Peristiwa berikutnya terjadi pada 14 Juli 1976 ketika gempa M6,6 menghantam Seririt, Bali. Gempa itu merusak 67.419 rumah dan menewaskan 559 orang di Bali. Puncaknya, gempa Flores 12 Desember 1992 berkekuatan M7,8 memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.
Keberadaan Sesar Naik Flores telah lama menjadi perhatian para ahli kebumian. Pakar geologi dan tektonik Amerika Serikat Warren B Hamilton disebut sebagai salah satu peneliti awal yang mengkaji kondisi tektonik Laut Flores melalui data profil refleksi. Dalam buku Tectonics of the Indonesian Region yang terbit pada 1979, Hamilton mengungkap keberadaan sesar di utara Sumbawa hingga Flores yang dikenal sebagai sesar busur belakang.
Penelitian kemudian dilanjutkan Eli A Silver dari University of California Santa Cruz melalui ekspedisi bahari untuk mendapatkan profil refleksi kawasan busur belakang Flores. Silver memperkirakan sistem sesar tersebut berlanjut hingga Cekungan Bali di Laut Bali. Riset yang dipublikasikan pada 1986 dengan judul Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt menggambarkan struktur kerak Bumi dan jalur Sesar Naik Flores di dasar laut. Penelitian Robert McCaffrey dan John L Nabelek pada 1987 terhadap sejumlah gempa signifikan di utara Bali juga menunjukkan keberadaan patahan naik dengan deformasi berarah utara-selatan.
Studi gempa lokal dan mekanisme sumber yang dilakukan Masturyono pada 1994 dan Daryono pada 2000 kembali menunjukkan aktivitas gempa serta bidang sesar yang memiliki kemiripan dengan Sesar Naik Flores. Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), sejumlah segmen Sesar Naik Flores memiliki laju pergeseran yang relatif aktif. Segmen Bali memiliki laju pergeseran 6,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,4. Segmen Lombok-Sumbawa memiliki laju pergeseran 9,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 8,0. Sementara Segmen Flores Barat dan Flores Tengah masing-masing memiliki laju pergeseran 11,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5, dan Segmen Flores Timur memiliki laju pergeseran 5,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5.
Daryono menegaskan bahwa gempa tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Karena itu, mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan. "Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya," ujarnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)