Netanyahu Siap Kuasai Gaza? Strategi Baru Israel Picu Kecaman Dunia

Netanyahu bahas strategi perang baru: Israel diprediksi akan ambil alih Gaza secara penuh. Dunia internasional beri peringatan tegas. #Gaza

Aug 6, 2025 - 19:06
 0
Netanyahu Siap Kuasai Gaza? Strategi Baru Israel Picu Kecaman Dunia
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara kepada hadirin di sebuah konferensi di Yerusalem, Minggu, 27 Juli 2025 [Ohad Zwigenberg/AP]

Netanyahu Bahas Strategi Baru di Gaza, Ada Rencana Kuasai Penuh Wilayah Palestina?

Jakarta – Situasi di wilayah Gaza tampaknya akan kembali memanas. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah pejabat tinggi militer dan keamanan Israel untuk menyusun arah baru strategi perang di Gaza. Dalam diskusi tersebut, Netanyahu dikabarkan mempertimbangkan langkah drastis: mengambil alih sepenuhnya wilayah Palestina yang saat ini diduduki oleh militer Israel.

Menurut laporan dari kantor berita Reuters, pertemuan penting itu berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Dalam forum tersebut, Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menyampaikan sejumlah skenario operasional terkait kelanjutan misi militer di Jalur Gaza. Ini bukan sekadar diskusi biasa, tetapi lebih sebagai ajang pematangan langkah politik dan militer yang besar di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan Khusus Bahas Strategi di Gaza

Pertemuan yang digelar secara tertutup itu turut dihadiri oleh dua tokoh penting dalam pemerintahan Netanyahu, yakni Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, dan Menteri Urusan Strategis, Ron Dermer, yang dikenal sebagai orang kepercayaan sang perdana menteri. Mereka dikabarkan fokus pada satu tujuan: merumuskan strategi komprehensif yang akan dibawa ke rapat kabinet pada minggu ini.

Media lokal Israel, termasuk Channel 12, melaporkan bahwa kabinet Israel dijadwalkan bersidang pada Kamis (7/8) pukul 18.00 waktu setempat. Dalam laporan itu, sumber dari kantor perdana menteri menyebut Netanyahu condong pada opsi ekstrem: mengambil alih kendali penuh atas wilayah Gaza.

Langkah ini akan membatalkan kebijakan penarikan pasukan dan warga sipil Israel dari Jalur Gaza yang diberlakukan pada 2005. Meski sejak saat itu Israel tetap mengontrol perbatasan, wilayah udara, dan suplai kebutuhan vital seperti listrik dan air, kini Netanyahu disebut ingin menempatkan pasukan secara permanen di wilayah tersebut.

Mengulang Sejarah Atau Strategi Baru?

Rencana untuk mengambil alih Gaza sepenuhnya jelas bukan hal yang sepele. Keputusan serupa di masa lalu telah memicu ketegangan panjang dan berujung pada kekacauan politik. Penarikan Israel dari Gaza pada 2005 kerap disalahkan oleh partai-partai sayap kanan karena dianggap membuka jalan bagi kemenangan kelompok Hamas dalam pemilu tahun berikutnya.

Namun yang masih menjadi tanda tanya besar adalah: apakah Netanyahu mengincar penguasaan jangka panjang atau hanya misi militer sementara untuk melemahkan Hamas dan membebaskan sandera? Hingga saat ini, kantor Netanyahu belum memberikan komentar resmi soal laporan tersebut.

Dalam pidatonya di hadapan para rekrutan baru di sebuah pangkalan militer, Netanyahu menyampaikan bahwa prioritas utama Israel saat ini adalah menumpas habis Hamas, membebaskan para sandera yang masih ditahan, dan memastikan Gaza tidak akan menjadi ancaman di masa depan.

Tekanan Dunia Internasional

Sementara itu, tekanan dari komunitas internasional semakin besar terhadap Israel. Banyak negara mendesak dilakukannya gencatan senjata demi membuka jalan bagi bantuan kemanusiaan dan menghentikan krisis kelaparan yang semakin memburuk di Gaza.

Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Menurut laporan otoritas kesehatan di Gaza, setidaknya 20 warga sipil tewas saat sedang mengantre bantuan dari truk-truk PBB di wilayah utara Jalur Gaza. Di Gaza selatan, 20 lainnya mengalami luka-luka dalam situasi serupa, tepatnya di dekat Lapangan Morag, Rafah.

Lebih parah lagi, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa delapan orang meninggal dunia dalam beberapa hari terakhir akibat kelaparan dan malnutrisi. Dalam rentetan serangan terbaru yang dilakukan Israel, setidaknya 80 orang dilaporkan tewas.

Krisis Kemanusiaan yang Tak Kunjung Usai

Gaza saat ini berada dalam kondisi terparahnya sejak konflik berkepanjangan terjadi. PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan telah memperingatkan bahwa jalur distribusi bantuan semakin sempit, dan kekurangan pangan menjadi ancaman serius bagi lebih dari dua juta penduduk di wilayah tersebut.

Serangan yang tak berkesudahan telah menghancurkan infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah. Warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan, menjadi korban utama dari konflik ini. Data terbaru menyebutkan bahwa ribuan orang kini hidup tanpa akses ke air bersih dan listrik, sementara kebutuhan medis mendesak tidak bisa terpenuhi.

Ketidakpastian Masa Depan Gaza

Apabila Netanyahu benar-benar memutuskan untuk mengambil alih Gaza secara penuh, ini bisa menjadi titik balik dalam sejarah konflik Israel-Palestina. Namun di sisi lain, langkah ini juga berisiko memicu konflik regional yang lebih luas, mengingat sejumlah negara Arab telah menyuarakan keberatan keras terhadap potensi invasi total ke wilayah Palestina.

Pengamat politik internasional menilai bahwa Netanyahu sedang memainkan kartu politik yang sangat berani, bahkan mungkin nekat. Dengan tekanan dari dalam negeri dan koalisi pemerintahannya yang semakin rapuh, keputusan besar seperti ini bisa menjadi pertaruhan politik yang menentukan masa depan kariernya.

Namun satu hal yang pasti: warga Gaza adalah pihak yang paling dirugikan dalam konflik ini. Sementara elite politik dan militer menyusun strategi, jutaan rakyat sipil di Gaza hanya bisa berharap pada bantuan internasional dan secercah harapan untuk perdamaian yang belum juga datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0