Singapura Janjikan Bantuan Nyaris Rp1 M per Anak demi Atasi Angka Kelahiran Terendah
Singapura meluncurkan paket dukungan finansial besar bagi keluarga menyusul angka kelahiran yang merosot ke rekor terendah 0,87 pada 2025. Setiap anak berhak menerima total bantuan hingga hampir US$70.000 atau sekitar Rp975 juta, mulai dari hadiah kelahiran, kredit tahunan, hingga dana pendidikan. Pemerintah juga menambah hari cuti orang tua dan menekan tarif penitipan anak.
Singapura mengambil langkah besar untuk mendorong warganya memiliki anak. Perdana Menteri Lawrence Wong mengumumkan paket dukungan finansial yang nilainya mencapai hampir US$70.000 atau setara Rp975 juta untuk setiap anak yang lahir dari warga negara Singapura. Kebijakan ini disampaikan dalam pidato tahunan pada Minggu (23/8) sebagai respons atas angka kelahiran yang terus menurun.
Dalam pidatonya, Wong merinci sejumlah bantuan yang akan diterima setiap bayi sejak lahir. Orang tua akan mendapatkan hadiah bayi sebesar US$10.000 atau sekitar Rp139,9 juta, ditambah hibah MediSave US$5.000 atau sekitar Rp69,69 juta. Selain itu, Rekening Pengembangan Anak akan menerima hibah awal US$5.000 dan hibah tambahan antara US$1.000 hingga US$5.000.
Dukungan tidak berhenti di masa bayi. Setiap anak akan menerima Kredit Anak tahunan sebesar US$2.000 atau sekitar Rp27,87 juta per tahun, mulai usia 1 tahun hingga 16 tahun. Mereka juga mendapat tambahan dana Edusave setiap tahun selama sekolah dasar dan menengah. Ketika menginjak usia 17 tahun, dana tambahan sebesar US$10.000 atau sekitar Rp139 juta akan dimasukkan ke Rekening Pendidikan Pascasarjana mereka.
"Jadi secara keseluruhan, setiap anak di Singapura akan menerima hampir US$70.000 dalam bentuk dukungan keuangan langsung seiring pertumbuhan mereka," ujar Wong seperti dikutip dari situs resmi Perdana Menteri Singapura.
Selain bantuan finansial, pemerintah juga merevisi kebijakan cuti perawatan anak. Saat ini, orang tua yang bekerja berhak atas cuti jika anak bungsunya berusia enam tahun atau kurang, dan dua hari jika anak bungsunya berusia 7 hingga 12 tahun. Jumlah hari cuti akan ditingkatkan menjadi delapan hari untuk satu anak berusia hingga 12 tahun, 10 hari untuk dua anak, dan 12 hari untuk tiga anak atau lebih. Pemerintah akan menanggung seluruh pengeluaran cuti terkait anak yang diatur dalam undang-undang hingga batas penggantian tertentu.
Wong juga menyatakan pemerintah akan berupaya menekan tarif penitipan anak seharian penuh menjadi S$150 atau sekitar US$118 per bulan, dan biaya perawatan bayi menjadi S$300 di sekolah-sekolah yang didukung pemerintah. Saat ini, keluarga bisa membayar hampir US$600 per bulan untuk penitipan anak seharian penuh dan lebih dari US$1.000 per bulan untuk perawatan bayi.
"Pada akhirnya, keputusan untuk memiliki anak adalah keputusan yang sangat pribadi. Kebijakan saja tidak dapat mewujudkannya. Tetapi yang dapat kita lakukan adalah mempermudah warga Singapura yang ingin memiliki anak untuk memulai dan membesarkan keluarga," kata Wong. "Ini adalah salah satu investasi terbaik yang dapat kita lakukan," imbuhnya.
Langkah ini diambil setelah angka kelahiran total Singapura turun ke level terendah sepanjang sejarah, yaitu 0,87 pada 2025. Pemerintah telah membentuk kelompok kerja antarlembaga yang diketuai Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah untuk mengatasi tren tersebut. Meskipun pemerintah berkomitmen memastikan warga Singapura tetap menjadi mayoritas, pertumbuhan populasi dan angkatan kerja secara keseluruhan diperkirakan akan lebih lambat dalam beberapa tahun mendatang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0