China Ancang-Ancang Balas Jika AS Tak Cabut Larangan Impor Robot

China menegaskan akan membalas dengan tegas jika AS bersikeras memberlakukan larangan impor robot dan inverter daya buatan China. Kementerian Perdagangan China menilai langkah FCC AS diskriminatif dan mendistorsi pasar. Para pengamat menilai larangan ini justru merugikan AS karena menghambat inovasi dan meningkatkan biaya energi.

Aug 4, 2026 - 00:04
Aug 4, 2026 - 00:04
 0
China Ancang-Ancang Balas Jika AS Tak Cabut Larangan Impor Robot
China Ancang-Ancang Balas Jika AS Tak Cabut Larangan Impor Robot

Pemerintah China menyatakan akan mengambil tindakan balasan yang tegas untuk melindungi kepentingan nasionalnya apabila Amerika Serikat tetap mempertahankan kebijakan larangan impor robot dan inverter daya baru buatan China. Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Perdagangan China pada Kamis, 30 Juli 2025, sebagai respons atas kebijakan yang dikeluarkan oleh Komisi Komunikasi Federal AS (FCC).

Kementerian Perdagangan China mendesak AS untuk segera mencabut langkah-langkah tersebut dan menghentikan tindakan yang dinilai keliru. Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan bahwa kebijakan AS tersebut bersifat diskriminatif dan menekan perusahaan serta produk China. Beijing juga menilai AS telah menggeneralisasi konsep keamanan nasional dan menyebut kebijakan itu sebagai distorsi pasar serta perilaku intimidasi sepihak.

Kebijakan larangan impor ini diumumkan FCC pada Selasa, 28 Juli 2025, dengan tujuan melindungi pengembangan kecerdasan buatan (AI) AS dari ancaman keamanan nasional dan memindahkan kembali industri-industri kunci yang diprediksi akan tumbuh pesat. FCC memperbarui daftar perangkat yang dibatasi dengan memasukkan dua kategori baru, yaitu perangkat robotik canggih seperti robot humanoid dan robot berkaki empat, serta inverter daya terhubung yang diproduksi di luar negeri.

FCC beralasan bahwa perangkat-perangkat tersebut dapat menimbulkan kerentanan rantai pasok yang berpotensi mengganggu keamanan ekonomi dan nasional AS, serta menciptakan risiko keamanan siber yang mengancam infrastruktur kritis. Namun, China menilai langkah ini mengabaikan kepentingan industri kedua negara dan tidak berdasar pada fakta yang objektif.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, pada Rabu, 29 Juli 2025, menyatakan bahwa proteksionisme tidak akan membuat AS lebih kompetitif dan justru akan merugikan kepentingan perusahaan serta konsumen Amerika. Mao Ning menambahkan bahwa China akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China.

Para pengamat industri menilai larangan ini justru akan berdampak negatif bagi AS. Pengamat senior industri telekomunikasi, Xiang Ligang, mengatakan bahwa larangan tersebut akan memaksa perusahaan AS beroperasi secara tertutup dan memperlambat inovasi. Sementara itu, Direktur Cutting-Edge Technology Research Institute yang berbasis di Beijing, Zhang Xiaorong, menyebut isolasi semacam itu akan menghambat proses pembelajaran dan perbandingan teknologi, terutama di bidang robot humanoid yang masih dalam tahap awal pengembangan.

Zhang Xiaorong juga menyoroti pentingnya inverter daya sebagai komponen kunci bagi pusat data AI dan integrasi energi terbarukan. Menurutnya, menolak produk China yang lebih hemat biaya dapat meningkatkan biaya listrik dan memperlambat kemajuan AI akibat masalah pasokan atau harga. Xiang Ligang menambahkan bahwa sistem energi AS saat ini masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik untuk mendukung perkembangan AI, sehingga larangan impor inverter China bukanlah langkah yang bijak.

Kebijakan larangan impor ini menambah ketegangan hubungan dagang antara China dan AS, yang sebelumnya juga diwarnai oleh berbagai sengketa perdagangan dan teknologi. China menegaskan akan terus memantau perkembangan dan siap mengambil langkah balasan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0