Calon PM Israel Gadi Eisenkot Kritik Netanyahu soal Kesepakatan dengan Hamas
Calon Perdana Menteri Israel dari partai Yashar, Gadi Eisenkot, mengkritik PM Netanyahu terkait kesepakatan dengan Hamas yang disebut menyetujui peta jalan Board of Peace dan melucuti senjata. Eisenkot menilai kesepakatan harus dinilai dari tercapainya tujuan perang. Ia juga menyoroti kurangnya transparansi Netanyahu dan kegagalan operasi militer di Gaza. Survei menunjukkan elektabilitas Eisenkot unggul atas Netanyahu.
Calon Perdana Menteri Israel dari partai baru Yashar, Gadi Eisenkot, melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu terkait kabar bahwa Hamas menyetujui peta jalan Board of Peace (BoP) dan bersedia melucuti senjata di Jalur Gaza. Eisenkot, yang dianggap sebagai penantang terkuat Netanyahu, menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus dinilai berdasarkan satu ukuran utama, yaitu apakah berhasil mencapai tujuan perang Israel, yakni menghancurkan atau melumpuhkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas.
Dalam pernyataannya di platform X, Eisenkot menulis bahwa apa pun yang tidak memenuhi tujuan tersebut merupakan kegagalan total. Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel itu juga menyoroti kegagalan Netanyahu dalam memaparkan isi kesepakatan kepada publik Israel. Menurutnya, hal ini menimbulkan pertanyaan serius, termasuk potensi bahwa kesepakatan tersebut dipaksakan kepada Israel tanpa keterlibatan langsung pemerintah dalam proses penyusunannya.
Eisenkot juga mengkritik hasil agresi Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Ia menilai operasi militer tersebut gagal mencapai hampir seluruh tujuan perang yang telah ditetapkan, kecuali keberhasilan membebaskan para sandera Israel. Kritik ini muncul di tengah memburuknya sentimen publik terhadap pemerintahan Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada Oktober mendatang.
Di dalam negeri, ketidakjelasan hasil perang dengan Iran dan Hamas di Jalur Gaza terus memperburuk citra Netanyahu yang telah memimpin selama tujuh periode. Sementara itu, di kancah internasional, Israel semakin terisolasi akibat agresinya di Gaza dan hubungan yang merenggang dengan Presiden AS Donald Trump karena perbedaan pandangan soal perang dengan Iran.
Sejauh ini, dua nama muncul sebagai kandidat yang dianggap layak menggantikan Netanyahu, yaitu Gadi Eisenkot dan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett. Hasil survei menunjukkan elektabilitas Eisenkot unggul, dengan 38 persen responden menyebutnya sebagai sosok yang pantas menjadi perdana menteri, sementara Netanyahu hanya memperoleh 27 persen dan Bennett juga 27 persen.
Dalam jajak pendapat mengenai tingkat kepercayaan publik, Eisenkot kembali unggul dengan 38 persen, diikuti Netanyahu 27 persen, dan Bennett 12 persen. Sementara itu, dalam hal manajemen ekonomi, Bennett justru unggul dengan 28 persen responden meyakininya lebih mampu menangani ekonomi dan biaya hidup, disusul Netanyahu 23 persen, dan Eisenkot 16 persen.
Kritik Eisenkot ini menambah tekanan politik terhadap Netanyahu yang tengah berjuang mempertahankan posisinya di tengah berbagai tantangan domestik dan internasional. Dengan pemilu yang semakin dekat, dinamika politik Israel diprediksi akan semakin memanas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0