Bos Instagram Akui Fitur Take a Break Jarang Dipakai Remaja, Persidangan Meta Makin Panas
CEO Instagram Adam Mosseri bersaksi di persidangan federal Oakland bahwa fitur Take a Break jarang diaktifkan remaja sebelum dijadikan setelan default. Ia membantah Meta sengaja menunda penerapan fitur itu. Persidangan gugatan 29 negara bagian AS ini menuduh Meta melanggar hukum federal terkait data anak dan berpotensi denda hingga US$200 miliar.
CEO Instagram Adam Mosseri angkat bicara dalam persidangan yang menyeret Meta terkait tuduhan merancang Instagram dan Facebook agar membuat anak-anak kecanduan. Dalam kesaksiannya, Mosseri mengungkap bahwa fitur perlindungan remaja bernama Take a Break ternyata jarang digunakan sebelum akhirnya diaktifkan sebagai setelan default.
Fitur Take a Break sendiri berfungsi meminta pengguna remaja menutup Instagram setelah memakainya dalam jangka waktu tertentu. Mosseri menyampaikan hal itu saat diperiksa jaksa untuk Colorado, Jason Slothouber, pada hari keempat persidangan di pengadilan federal Oakland, California, seperti dikutip dari Reuters.
Mosseri membantah tuduhan yang menyebut Instagram sengaja menunda mengaktifkan Take a Break sebagai setelan default bagi pengguna remaja selama hampir tiga tahun sejak peluncurannya. Ia menjelaskan, ketika fitur itu diperkenalkan pada 2021 dalam uji coba awal, lebih dari 90 persen remaja yang mengaktifkannya tetap mempertahankan fitur tersebut. Namun, jumlah remaja yang mengaktifkannya atas kemauan sendiri setelah periode itu disebut sangat sedikit.
"Sebagian besar remaja tidak menginginkannya," kata Mosseri. "Kami memutuskan untuk tetap melanjutkannya," imbuhnya.
Sebelum Mosseri bersaksi, Direktur Desain Produk Instagram Francesco Fogu lebih dulu memberikan keterangan kepada jaksa yang sama. Fogu menyatakan perusahaan sudah mengetahui bahwa akan lebih sedikit orang mengaktifkan Take a Break jika fitur itu tidak dijadikan setelan default. Ia juga mengaku timnya pernah mempresentasikan materi terkait keselamatan remaja kepada pimpinan Instagram pada 2023.
Salah satu slide dalam presentasi tersebut menunjukkan pengguna remaja melihat konten perundungan, bunuh diri, kebencian, seksual, dan kekerasan 1,5 kali lebih banyak dibandingkan pengguna dewasa. Namun, slide itu diduga telah dihapus.
Mosseri merupakan saksi sentral dalam gugatan yang diajukan oleh 29 negara bagian Amerika Serikat. Gugatan tersebut menuduh Meta melanggar hukum federal karena mengumpulkan data anak di bawah usia 13 tahun secara ilegal. Jika terbukti bersalah, Meta berpotensi menghadapi hukuman senilai US$200 miliar.
Sejumlah ahli menilai persidangan ini sebagai kasus hukum terbesar terkait dampak media sosial terhadap remaja. Persidangan masih berlanjut dengan menghadirkan sejumlah saksi penting dari internal Meta.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0