Ahli IT Soroti Perusahaan Indonesia yang Baru Bertindak Setelah Sistem Tumbang

Technical Manager ManageEngine Indonesia Hanief Bastian mengungkap mayoritas perusahaan dan organisasi di Indonesia masih menerapkan pendekatan IT reaktif, yakni baru bertindak setelah gangguan terjadi. Perpindahan ke sistem proaktif terhambat kompleksitas infrastruktur dan anggapan bahwa backup sudah cukup. Padahal downtime berisiko menurunkan pendapatan, kepercayaan pengguna, hingga memicu pelanggaran kontrak.

Sep 28, 2026 - 17:44
Sep 28, 2026 - 17:44
 0
Ahli IT Soroti Perusahaan Indonesia yang Baru Bertindak Setelah Sistem Tumbang
Ahli IT Soroti Perusahaan Indonesia yang Baru Bertindak Setelah Sistem Tumbang

Mayoritas perusahaan dan organisasi di Indonesia dinilai belum matang dalam mengelola gangguan sistem teknologi informasi. Mereka masih bertumpu pada pendekatan reaktif, yaitu tindakan yang baru dilakukan setelah insiden terjadi, bukan mencegahnya lebih dulu.

Penilaian itu disampaikan Technical Manager ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian, di Jakarta, Rabu (26/8). Menurutnya, pendekatan reaktif membuat perusahaan cenderung mencari penyebab dan memperbaiki sistem ketika sudah bermasalah, atau yang ia sebut sebagai firefighting.

"Di Indonesia, masih banyak organisasi yang masih belum secara mature berpindah ke proaktif ataupun resilience IT operational. Mereka sebagian besar masih melakukan sistem reaktif, baru ketika ada kejadian melakukan firefighting," ujar Hanief.

Sebaliknya, pendekatan IT proaktif menekankan kemampuan memprediksi dan mendeteksi potensi gangguan sebelum sistem benar-benar tumbang. Namun, perpindahan ke pola ini tidak berjalan mulus karena sejumlah kendala.

Salah satunya adalah kompleksitas infrastruktur dan aplikasi yang digunakan perusahaan. Hanief melihat banyak organisasi memakai beragam tools dari vendor berbeda dengan dashboard masing-masing, sehingga tim IT harus menghubungkan dan menganalisis data secara manual untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan mereka.

Kendala lain adalah anggapan keliru bahwa penyimpanan cadangan data atau backup sudah cukup membuat sistem tangguh terhadap gangguan. Menurut Hanief, backup memang penting sebagai salah satu metode pemulihan, tetapi proses recovery membutuhkan waktu, bisa beberapa jam, beberapa hari, bahkan beberapa minggu.

"Backup itu penting tentunya. Itu adalah salah satu metode recovery. Tapi recovery itu membutuhkan waktu," kata Hanief. "Tidak mungkin kita langsung bisa recover. Biasanya ada waktunya, entah beberapa jam atau beberapa hari atau bahkan sampai beberapa minggu," imbuhnya.

Dampak dari pendekatan yang reaktif pun tidak ringan. Tim IT menjadi sibuk menangani insiden sehingga tidak punya cukup waktu mengerjakan roadmap jangka panjang, melakukan pengembangan, maupun scale-up infrastruktur. Di sisi manajemen, IT masih dipandang sekadar fungsi pendukung, bukan penopang pertumbuhan bisnis.

Hanief menegaskan perubahan mindset menjadi kunci agar perusahaan mau berinvestasi pada sistem proaktif dan resilience sebagai bagian dari strategi bisnis. Ia juga mengingatkan risiko yang mengintai saat sistem down, mulai dari kehilangan pendapatan, turunnya kepercayaan pengguna, hingga pelanggaran kontrak.

"Inilah mengapa proactive system dan juga resilience harus bisa kita benahi sehingga kita bisa menghindari downtime," tutup Hanief.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0