Bos Instagram Bersaksi di Pengadilan AS, Bantah Sembunyikan Data Fitur Remaja

Bos Instagram Adam Mosseri membantah tuduhan jaksa AS bahwa perusahaannya menyembunyikan data rendahnya penggunaan fitur remaja. Dalam sidang di California, ia menegaskan tak menyuruh timnya menyembunyikan apa pun dan menyatakan Instagram tidak pernah mengumumkan angka spesifik fitur Take a Break. Meta terancam denda hingga US$200 miliar jika terbukti bersalah.

Sep 28, 2026 - 18:47
Sep 28, 2026 - 18:47
 0
Bos Instagram Bersaksi di Pengadilan AS, Bantah Sembunyikan Data Fitur Remaja
Bos Instagram Bersaksi di Pengadilan AS, Bantah Sembunyikan Data Fitur Remaja

CEO Instagram Adam Mosseri memberikan kesaksian dalam sidang di pengadilan federal Oakland, California, Selasa (26/8), terkait gugatan sejumlah negara bagian Amerika Serikat terhadap Meta. Dalam kesempatan itu, ia membantah tegas tuduhan jaksa bahwa pihaknya menyembunyikan informasi soal rendahnya penggunaan fitur remaja di platformnya.

"Saya tidak menyuruh tim saya untuk menyembunyikan apa pun," ujar Mosseri, seperti dikutip The Guardian, Rabu (26/8). Pernyataan itu disampaikannya setelah jaksa berkali-kali mencecarnya dengan pertanyaan mengenai alasan Instagram tidak mengungkap jumlah pengguna fitur remaja yang tergolong sedikit.

Mosseri menjelaskan bahwa perusahaannya memang tidak mempublikasikan setiap angka statistik secara rinci. "Kami tidak menerbitkan setiap angka statistik secara detail," tegasnya. Ia juga menegaskan tidak pernah mengumumkan secara resmi berapa banyak remaja yang memakai fitur Take a Break, fitur pengingat agar pengguna menutup aplikasi jika terlalu lama berselancar.

Jaksa dari negara bagian Colorado, Jason Slothouber, dalam persidangan menyebut hanya 1,8 persen remaja yang menggunakan fitur Take a Break. Menanggapi angka tersebut, Mosseri menyatakan pihaknya tidak pernah merilis data itu ke publik. "Saya sudah bilang secara terbuka bahwa tingkat penggunaannya rendah. Saya tidak tahu apakah saya pernah menyebutkan angkanya secara spesifik," jelasnya.

Sidang yang berlangsung sejak pekan lalu ini merupakan bagian dari tuntutan sejumlah negara bagian AS terhadap Meta. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu dituduh sengaja membuat anak-anak kecanduan platform besutannya serta menutupi dampak buruknya. Negara-negara bagian AS juga menuding Meta rutin mengambil data anak di bawah usia 13 tahun tanpa izin orang tua, yang melanggar undang-undang federal dan negara bagian.

Jika terbukti bersalah, Meta menghadapi denda hingga US$200 miliar atau setara Rp3.545 triliun. Perusahaan juga bisa dipaksa mengubah desain produknya agar lebih ramah bagi pengguna anak. Para ahli hukum menilai hasil sidang ini berpotensi mengubah secara total cara kerja aplikasi media sosial bagi anak-anak.

Meta membantah seluruh tuduhan tersebut. Menurut perusahaan, negara-negara bagian itu hanya mencari pembayaran yang tidak masuk akal. Juru bicara Meta menyatakan tim keamanannya selalu berupaya memberikan perlindungan terbaik, dan kesaksian Mosseri justru menunjukkan perusahaan melakukan penelitian untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Selama sepekan terakhir, juri telah mendengarkan kesaksian sejumlah pihak, termasuk Arutro Bejar, mantan insinyur keamanan Meta. Bejar mengungkapkan bahwa Meta menerapkan strategi menutup mata dan mulut terkait keamanan anak di platform mereka. Juri juga mendengar keterangan dari seorang psikolog serta sejumlah karyawan dan mantan karyawan perusahaan.

Sidang diperkirakan masih berlangsung hingga September mendatang. Beberapa nama lain, termasuk CEO Meta Mark Zuckerberg, turut dijadwalkan memberikan kesaksian dalam perkara ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0