Gletser Runtuh di Nepal Picu Banjir Bandang, 165 Tewas dan 1.384 Orang Masih Hilang

Banjir bandang dan longsor di Nepal dipicu runtuhnya bagian bawah gletser pada Rabu (26/8). Sedikitnya 165 orang tewas dan 1.384 lainnya hilang, termasuk turis. USGS menyebut getaran yang dilaporkan bukan gempa, melainkan gelombang seismik dari runtuhan batuan es. Citra satelit menunjukkan pencairan salju besar dalam 24 jam sebelum bencana.

Sep 28, 2026 - 18:47
Sep 28, 2026 - 18:47
 0
Gletser Runtuh di Nepal Picu Banjir Bandang, 165 Tewas dan 1.384 Orang Masih Hilang
Gletser Runtuh di Nepal Picu Banjir Bandang, 165 Tewas dan 1.384 Orang Masih Hilang

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Nepal pada Rabu (26/8) meninggalkan duka mendalam. Sedikitnya 165 orang dilaporkan tewas, sementara 1.384 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk sejumlah turis. Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengungkap bahwa peristiwa ini dipicu oleh runtuhnya bagian bawah gletser.

Penyebab pasti runtuhnya gletser tersebut belum dapat dipastikan. Pihak berwenang Nepal sempat menduga adanya gempa bumi yang memicu peristiwa itu. Namun, USGS menegaskan bahwa getaran yang dilaporkan sebenarnya merupakan gelombang seismik yang dihasilkan dari hantaman batuan es yang runtuh, lalu diikuti aliran material puing-puing.

Perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah kejadian dari Planet Labs memperlihatkan perubahan drastis. Lereng gunung yang semula hijau dan asri kini tertimbun endapan sedimen serta puing-puing berwarna kecoklatan. Vikram Gupta, ahli geologi teknik di Universitas Sikkim, India, menyatakan bahwa sebagian besar ujung gletser runtuh dan memicu bencana, kemungkinan besar turut membawa batuan serta sedimen dalam jumlah besar.

Ilmuwan bumi Dan Shugar menambahkan bahwa citra tersebut mengindikasikan mencairnya salju dalam jumlah besar dalam rentang 24 jam sebelum bencana. Menurutnya, beberapa gletser di lembah masih diselimuti salju sehari sebelumnya, tetapi kini sebagian besar telah menjadi es terbuka. Hal ini menunjukkan suhu di kawasan tersebut kemungkinan sedang hangat.

Shugar juga mengungkapkan bahwa bagian bawah gletser terlepas di ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh menghantam dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya. Ia menyebut aktivitas pembangunan di sekitar lokasi turut berpotensi menjadi faktor pemicu. Para peneliti akan menyelidiki lebih lanjut apakah krisis iklim berperan dalam bencana ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2023 mencatat bahwa pegunungan bersalju di Nepal telah kehilangan hampir sepertiga cadangan esnya dalam 30 tahun terakhir akibat pemanasan global. PBB menambahkan bahwa gletser di Nepal mencair 65 persen lebih cepat pada dekade terakhir dibandingkan dekade sebelumnya.

Andrew Zolli, Chief Impact Officer di Planet Labs, menyatakan organisasinya akan segera merilis citra satelit yang lebih lengkap dengan lisensi terbuka untuk membantu upaya penanganan darurat di lapangan. Menurutnya, analisis Shugar menunjukkan kejadian ini kemungkinan merupakan dampak dari runtuhnya gletser akibat pencairan yang sangat cepat. Apakah faktor iklim berpengaruh, kata dia, akan menjadi fokus kajian dalam beberapa hari mendatang.

Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berada di area yang terdampak paling parah di Distrik Rasuwa, wilayah pegunungan yang dihuni sekitar 50.000 jiwa. Otoritas Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal menyampaikan bahwa banjir bandang akibat gletser ini terjadi di Sungai Lhende akibat tanah longsor sekitar 20 km di sebelah timur laut titik perbatasan Nepal-Tiongkok. Prakash Pokharel, ahli geologi dari lembaga tersebut, menegaskan banjir bandang disebabkan longsoran es dan batuan di wilayah Nepal.

Bencana banjir, tanah longsor, longsoran es, dan kekeringan tercatat semakin sering terjadi dengan tingkat keparahan meningkat di kawasan Hindu Kush Himalaya. International Centre for Integrated Mountain Development menyatakan perubahan iklim yang terakselerasi di wilayah udara, darat, dan air menjadi ancaman nyata bagi masyarakat setempat. Lembaga itu menambahkan bahwa banjir bandang mengirimkan gelombang arus air deras yang membawa sedimen serta batu-batu besar melalui sistem aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Ketinggian air sungai di wilayah Galchhi di hilir bahkan dilaporkan melonjak hingga sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0