Airlangga Beberkan Belanja Offline Warga RI Tembus Rp2.215 Triliun, Jauh di Atas Transaksi Online
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap transaksi ritel offline Indonesia mencapai US$125 miliar atau sekitar Rp2.215 triliun, jauh lebih besar dibanding transaksi online yang hanya US$61,18 miliar. Ia menyoroti pentingnya teknologi dan pasokan barang agar stok tidak tipis, sekaligus menegaskan konsumsi masih menjadi penggerak utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,06 persen pada kuartal II 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan peta transaksi ritel di Indonesia. Menurutnya, belanja masyarakat secara offline masih jauh lebih besar ketimbang transaksi online, dengan selisih mencapai sekitar dua kali lipat.
Airlangga menyebut nilai transaksi ritel offline menembus US$125 miliar atau setara Rp2.215,26 triliun dengan asumsi kurs Rp17.713 per dolar AS. Sementara transaksi online hanya sekitar US$61,18 miliar atau setara Rp1.083,68 triliun. "Memang kalau kita lihat antara offline dan online itu yang offline kira-kira nilainya sekitar US$125 miliar dan yang online US$61,18 miliar. Artinya perdagangan kita ini dua per tiga offline, sepertiga online," ujarnya dalam acara Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (26/8).
Di hadapan pelaku usaha ritel, Airlangga menekankan bahwa teknologi tetap memegang peranan penting dalam mengelola bisnis. Mulai dari pengaturan stok, perkiraan permintaan, hingga penentuan pilihan barang yang dijual. "Dan kalau kita lihat ritel di berbagai negara itu tidak lepas dari penguasaan teknologi juga untuk pengelolaan stok, demand, maupun pilihan daripada merchandisenya," katanya.
Airlangga juga menyoroti kondisi persediaan barang di sektor ritel. Ia mengaku menerima masukan bahwa stok sejumlah komoditas masih tipis, terutama produk yang pasokannya bergantung pada aliran barang dari luar negeri. Menurutnya, persoalan distribusi dan ketersediaan stok perlu segera didorong agar pasokan dalam negeri lebih terjaga.
Ia mengingatkan, stok yang terbatas berisiko membuat masyarakat beralih berbelanja ke luar negeri. "Tentu kita berharap bahwa aliran barang juga bisa didorong dari dalam negeri. Dan tentu nanti menjadi PR bersama dengan Pak Menteri Perdagangan (Budi Santoso) karena tidak kita tidak ingin stoknya tipis akibatnya masyarakat Indonesia belanjanya di tempat lain di luar negeri. Tapi dengan adanya stok yang lebih besar tentu yang belanja akan lebih banyak lagi," jelas Airlangga.
Di sisi lain, Airlangga menegaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Pada kuartal II 2026, konsumsi tercatat tumbuh 5,06 persen dan menyumbang 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). "Bapak Ibu yang kami hormati, kita lihat di kuartal kedua konsumsi masih baik di pertumbuhan 5,06 persen dan konsumsi ini masih merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia dan ini merupakan aset Indonesia karena ini 53,32 persen adalah kontribusi terhadap PDB," ujarnya.
Selain itu, ia menyebut indeks keyakinan konsumen masih berada di atas level 100. Sementara Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur bertahan di atas 50, yang menurutnya menjadi salah satu indikator penting untuk membaca kondisi ekonomi pada paruh kedua tahun ini.
Airlangga menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Capaian itu disebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0