14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Tiga Segmen Ini Jadi Sorotan BMKG

Indonesia dikelilingi 14 segmen megathrust yang berpotensi memicu gempa besar hingga magnitudo 9,2. BMKG menyoroti segmen Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba karena diduga sudah lama tidak melepaskan energi gempa besar. Meski begitu, BMKG menegaskan kondisi ini merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa yang akan segera terjadi.

Sep 28, 2026 - 18:47
Sep 28, 2026 - 18:47
 0
14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Tiga Segmen Ini Jadi Sorotan BMKG
14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Tiga Segmen Ini Jadi Sorotan BMKG

Wilayah Indonesia berada dalam lingkaran zona megathrust yang menjadi sumber ancaman gempa besar. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa zona megathrust merupakan bagian dari zona subduksi, yakni bidang kontak tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Menurut Daryono, bidang kontak pada zona ini relatif dangkal dan dapat terkunci dalam waktu lama. Akibatnya, energi atau regangan terus menumpuk. Ketika regangan tersebut dilepaskan secara tiba-tiba melalui pergeseran besar, gempa berkekuatan sangat besar bisa terjadi, bahkan melampaui magnitudo 8,0. "Jika rupture menyebabkan deformasi dasar laut yang signifikan, gempa tersebut juga dapat memicu tsunami," ujar Daryono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (24/8).

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, tercatat 14 segmen megathrust dalam keseluruhan sistem regional. Sebanyak 11 segmen berada di Indonesia dan 3 segmen di Filipina. Daryono memaparkan wilayah Indonesia yang berhadapan dengan sistem subduksi meliputi pantai barat Sumatra, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Utara. Selain itu, terdapat pula sistem subduksi di kawasan Banda dan Indonesia bagian timur yang memiliki karakter tektonik berbeda namun tetap menjadi sumber bahaya gempa.

Meski demikian, Daryono mengingatkan bahwa keberadaan zona megathrust tidak berarti seluruh wilayah akan mengalami gempa besar secara bersamaan. Setiap segmen memiliki karakteristik, geometri, laju konvergensi, tingkat penguncian, dan sejarah kegempaan yang berbeda.

Daftar 14 zona megathrust tersebut mencakup Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi magnitudo maksimum M9,2; Nias-Simeulue M8,7; Batu M7,8; Mentawai-Siberut M8,9; Mentawai-Pagai M8,9; Enggano M8,9; Jawa M9,1; Jawa bagian barat M8,9; Jawa bagian timur M8,9; Sumba M8,9; Sulawesi Utara M8,5; Palung Cotabato M8,3; Filipina Selatan M8,2; dan Filipina Tengah M8,1.

Dari seluruh segmen itu, Mentawai-Siberut, Sumba, dan Selat Sunda menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena terdapat indikasi seismic gap, yakni bagian sistem subduksi yang dalam catatan sejarah relatif sedikit mengalami gempa besar pada periode tertentu. "Semua segmen ini bisa berpotensi gempa besar. Namun demikian, ini ada yang kita curigai, ada beberapa segmen yang kemungkinan sudah lama tidak terjadi gempa-gempa besar. Jadi contohnya ini segmen Mentawai-Siberut, itu yang berkali-kali kita sampaikan sudah lama tidak terjadi gempa," jelas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/8).

"Terus segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya. Ini juga sudah lama tidak terjadi gempa sama segmen di Sumba. Ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitudo besar. Jadi, tiga segmen ini yang kita terus monitor saat ini," tambahnya. BMKG menegaskan kondisi tersebut merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa yang akan segera terjadi.

Wijayanto juga menyoroti dua dampak yang dapat dipicu megathrust. Pertama, tsunami yang dapat terjadi ketika gempa berada di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut. Energi dari gempa disebut dapat memicu gelombang tsunami, misalnya apabila gempa besar terjadi di segmen Mentawai-Siberut. "Kalau rilisnya di segmen Mentawai-Siberut, tentunya nanti daerah Sumatera Barat, daerah Sumatera Utara, daerah Bengkulu itu akan terdampak, dan mungkin bisa juga nanti berdampak ke negara-negara sekitar Indian Ocean," jelasnya.

Wijayanto mengatakan BMKG telah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekitar terkait apa saja yang perlu dilakukan jika terjadi bencana. Selain tsunami, megathrust juga dapat menyebabkan guncangan kuat saat gempa terjadi. Guncangan ini berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur maupun bangunan, bahkan tanah longsor hingga kebakaran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0