BMKG Catat 5.019 Titik Panas di Indonesia, Kewaspadaan Karhutla Meningkat

BMKG mendeteksi 5.019 titik panas di Indonesia hingga pertengahan Juli 2026, meningkat signifikan dibanding tahun El Nino sebelumnya. Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menjadi wilayah dengan sebaran terbanyak. Puncak risiko karhutla diprediksi terjadi Agustus-September 2026, dengan daerah prioritas seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. BMKG mengimbau intensifikasi pemantauan dan pengawasan.

Aug 4, 2026 - 00:04
Aug 4, 2026 - 00:04
 0
BMKG Catat 5.019 Titik Panas di Indonesia, Kewaspadaan Karhutla Meningkat
BMKG Catat 5.019 Titik Panas di Indonesia, Kewaspadaan Karhutla Meningkat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan telah mendeteksi 5.019 titik panas yang menjadi indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia hingga pertengahan Juli 2026. Jumlah ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan periode El Nino sebelumnya, bahkan melampaui kondisi pada 2015.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7), mengungkapkan bahwa akumulasi titik panas dari Januari hingga pertengahan Juli 2026 meningkat lebih cepat dibandingkan tahun-tahun El Nino sebelumnya, yaitu 2015, 2019, dan 2023. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memperluas dampak karhutla.

Berdasarkan analisis BMKG, Provinsi Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau tercatat sebagai tiga wilayah utama dengan kontribusi sebaran titik panas terbanyak di Indonesia. Selain itu, BMKG juga memproyeksikan puncak risiko karhutla akan terjadi pada Agustus hingga September 2026, seiring dengan meningkatnya potensi kekeringan.

Beberapa daerah yang masuk dalam zona risiko tinggi meliputi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. BMKG juga memperkirakan adanya peningkatan risiko karhutla secara bertahap di wilayah Pulau Sulawesi pada September hingga Oktober 2026.

Ardhasena menekankan bahwa periode Juli hingga akhir September merupakan bulan-bulan paling kritis. Oleh karena itu, intensifikasi pemantauan dan pengawasan di lapangan menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas. BMKG juga telah memantau sebaran partikulat asap kabut karhutla yang menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, BMKG sebelumnya melaporkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan bertahan, dengan indeks El Nino mencapai puncak pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Prediksi terbaru bahkan menunjukkan peluang El Nino tahun ini berkembang melampaui kategori kuat, sehingga potensi dampaknya terhadap kondisi iklim di Indonesia perlu terus diantisipasi.

Hingga dasarian terakhir Juli 2026, BMKG mencatat 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara wilayah yang masih berada pada musim hujan tinggal 77 Zona Musim. Secara spasial, musim kemarau telah mendominasi wilayah selatan khatulistiwa, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua, dengan kategori hari tanpa hujan yang bervariasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0