Waspada Arisan Bodong, Kenali Enam Tanda Bahaya Sebelum Uang Anda Raib
Arisan bodong masih marak dan kerap memakan korban. Perencana keuangan Andi Nugroho dan Budi Rahardjo membeberkan sejumlah tanda bahaya, mulai dari janji keuntungan dua hingga tiga kali lipat dalam waktu singkat, pengelola yang agresif mencari anggota, mekanisme tidak transparan, anggota yang tidak saling mengenal, admin sulit dihubungi, hingga pencairan yang mulai ditunda. Masyarakat diminta tidak mudah tergiur iming-iming hasil besar secara instan.
Arisan masih menjadi cara populer di tengah masyarakat untuk mengumpulkan uang bersama. Namun, skema yang mengatasnamakan arisan juga kerap disalahgunakan untuk penipuan dengan menawarkan keuntungan atau hadiah yang tidak masuk akal. Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menilai masyarakat perlu mencermati sejumlah tanda sebelum ikut serta dalam arisan, terutama jika keuntungan yang dijanjikan jauh lebih besar ketimbang uang yang disetorkan.
Menurut Andi, janji keuntungan dua atau tiga kali lipat dalam waktu singkat merupakan salah satu tanda bahaya. Ia menegaskan calon peserta semestinya mempertanyakan dari mana sumber keuntungan tersebut dan apakah skema yang ditawarkan benar-benar masuk akal. "Keuntungan yang akan didapat oleh peserta arisan tidak realistis, bisa dua atau tiga kali lipat dari uang yang disetorkan padahal waktu perputarannya relatif singkat," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/8).
Perencana keuangan Oneshildt, Budi Rahardjo, menambahkan modus arisan bodong dapat menjadi kedok skema ponzi atau investasi bodong. Salah satu cirinya adalah pengelola yang agresif mencari anggota baru, berbeda dari arisan pada umumnya yang berlangsung di antara orang-orang yang sudah saling mengenal. "Mengenalinya cukup mudah, biasanya arisan ini sistemnya mencari anggota di mana saja secara agresif. Padahal biasanya arisan hanya untuk orang-orang terdekat yang saling mengenal," kata Budi.
Tanda berikutnya adalah mekanisme yang tidak transparan. Arisan patut dicurigai jika admin tidak mampu menjelaskan cara menentukan penerima atau pemenang dengan jelas. Andi juga menyoroti admin yang berusaha menutupi identitas anggota lain sebagai salah satu indikator bahaya. Selain itu, peserta sebaiknya mengikuti arisan yang anggotanya sudah dikenal. Jika tidak saling mengenal, calon peserta dianjurkan berkomunikasi dan berkenalan lebih dulu dengan peserta lainnya.
Admin yang sulit diajak berkomunikasi atau tidak mampu menjelaskan skema arisan juga perlu diwaspadai. Hal serupa berlaku pada grup WhatsApp yang dikunci sehingga hanya admin yang bisa mengirim pesan. Tanda yang lebih serius muncul ketika pencairan mulai terlambat. Andi menyebut admin yang memundurkan atau menunda jadwal pencairan, bahkan menghilang saat jatuh tempo, sebagai indikator arisan bermasalah. Budi menegaskan pembayaran yang mulai terhambat menandakan sistem arisan sudah tidak berjalan semestinya. "Ketika pembayaran sudah mulai terhambat, maka itu sudah menunjukkan bahwa sistem arisan sudah gagal," ujar Budi.
Untuk menghindari arisan bodong, Andi menyarankan masyarakat tidak mudah tergiur iming-iming hasil besar dalam waktu cepat. Calon peserta perlu memastikan admin dapat menjelaskan skema arisan secara jelas dan masuk akal, memilih arisan yang pesertanya sudah dikenal, serta berkomunikasi dengan anggota lain sebelum bergabung. Menurut Andi, arisan bodong masih memakan korban karena sebagian masyarakat ingin mendapatkan hasil besar secara instan, ditambah literasi keuangan yang masih relatif rendah, khususnya dalam pengelolaan uang dan investasi.
Budi mengingatkan masyarakat agar tidak langsung percaya hanya karena tawaran datang dari orang terdekat. "Jangan mudah tergiur iming-iming hadiah yang menggiurkan, perhatikan seberapa agresif orang yang menawarkan arisan, apalagi jika pengelolanya adalah orang yang tidak dikenal. Meskipun yang mengajak adalah orang terdekat entah teman, saudara, kerabat atau lainnya," ujarnya. Ia menambahkan korban dapat berasal dari orang yang bersifat spekulatif maupun masyarakat yang belum mampu mengenali skema mencurigakan. "Korban-korban baru juga akan selalu ada di masa yang akan datang. Inovasi sistem arisannya pun bisa bertransformasi mengikuti perkembangan zaman," kata Budi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0