Wamenkeu Juda Agung Beberkan Bukti Hilirisasi: Weda Bay Rp180 Triliun hingga Pabrik BYD di Subang

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memaparkan bukti keberhasilan hilirisasi melalui proyek nikel dan baterai kendaraan listrik di Weda Bay senilai US$10,2 miliar serta pabrik BYD di Subang bernilai Rp11,6 triliun. Meski begitu, peringkat kompleksitas ekonomi Indonesia masih tertinggal dari Malaysia, Thailand, dan India.

Oct 13, 2026 - 16:02
Updated: 17 hours ago
0 0
Wamenkeu Juda Agung Beberkan Bukti Hilirisasi: Weda Bay Rp180 Triliun hingga Pabrik BYD di Subang
Wamenkeu Juda Agung Beberkan Bukti Hilirisasi: Weda Bay Rp180 Triliun hingga Pabrik BYD di Subang

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membeberkan sejumlah proyek strategis dalam negeri sebagai bukti nyata keberhasilan kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Hal itu disampaikannya dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (13/10).

Salah satu capaian yang disorot adalah groundbreaking 11 ekosistem hilirisasi nikel dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Maluku Utara. Proyek tersebut menelan investasi sebesar US$10,2 miliar atau setara Rp180 triliun. "Di Weda Bay, Presiden baru saja meluncurkan ekspor baterai dan dalam kerangka program senilai Rp180 triliun," ujar Juda.

Contoh kedua yang diangkat Juda adalah kehadiran fasilitas perakitan mobil BYD di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Pabrik senilai Rp11,6 triliun yang dikelola PT BYD Auto Indonesia itu memiliki kapasitas maksimal 150 ribu unit per tahun dan diproyeksikan menyerap lebih dari 20 ribu tenaga kerja lokal saat beroperasi penuh.

"Pabrik BYD di Subang yang diresmikan September 2026 ini memperluas rantai industri kita ke tahap manufacturing kendaraan listrik," kata Juda.

Menurut Wamenkeu, hilirisasi menjadi salah satu cara meningkatkan kompleksitas ekonomi Indonesia. Indikator ini mengukur kemampuan suatu negara dalam menghasilkan barang dan jasa yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, teknologi, serta proses produksi yang semakin kompleks.

Merujuk data Harvard Growth Lab, Juda menyebut Indonesia kini berada di posisi 69 dari 140 negara dalam hal peringkat kompleksitas ekonomi. Posisi itu masih tertinggal dari Malaysia, Thailand, dan India karena sebagian ekspor RI masih bertumpu pada produk berbasis sumber daya alam dan produk dengan kompleksitas rendah hingga menengah.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Juda mendorong agar sektor manufaktur nasional terus bergerak ke arah produksi bernilai tambah tinggi. "Dengan demikian, kita dapat menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus menciptakan lapangan kerja yang membutuhkan keterampilan yang lebih tinggi," ujarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User