Ungku Saliah: Ulama Sungai Sariak, Kisah Karamah, dan Wajah yang Hidup di Rumah Makan Minang

Ungku Saliah bukan sekadar sosok dalam foto yang menghiasi sejumlah rumah makan Minang. Ia dikenal sebagai ulama dari Sungai Sariak, Padang Pariaman, yang kisah hidupnya berkembang menjadi bagian dari tradisi lisan, ziarah, spiritualitas, dan identitas budaya masyarakat Pariaman. Investigasi ini menelusuri sosok Ungku Saliah berdasarkan sumber sejarah, penelitian akademik, tradisi masyarakat, serta kajian tentang foto Ungku Saliah yang hingga kini masih ditemukan di berbagai tempat usaha masyarakat Minang.

Oct 2, 2026 - 10:22
 0
Ungku Saliah: Ulama Sungai Sariak, Kisah Karamah, dan Wajah yang Hidup di Rumah Makan Minang
Ungku Suliah

PADANG PARIAMAN — Wajah seorang lelaki tua dengan pakaian putih dan peci hitam telah lama menjadi bagian dari pemandangan yang akrab bagi sebagian masyarakat Minangkabau, terutama mereka yang berasal dari Pariaman. Potret itu dapat ditemukan di sejumlah rumah makan dan kedai milik masyarakat Pariaman, baik di Sumatera Barat maupun di daerah rantau, dan bagi sebagian orang kehadirannya bukan sekadar hiasan dinding, melainkan simbol yang membawa ingatan kepada seorang ulama bernama Ungku Saliah.

Nama Ungku Saliah sendiri telah melewati perjalanan yang panjang. Ia hidup pada masa ketika surau menjadi salah satu pusat penting pendidikan Islam di Minangkabau, dikenal sebagai guru agama di kawasan Sungai Sariak, kemudian dikenang sebagai tokoh yang dianggap memiliki karamah, hingga akhirnya sosoknya menjadi bagian dari simbol budaya dan identitas masyarakat Pariaman di perantauan.

Di balik foto yang kini mudah ditemukan di ruang usaha tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih panjang daripada sekadar siapa lelaki dalam gambar itu: siapa sebenarnya Ungku Saliah, bagaimana reputasinya terbentuk, dan mengapa ingatan tentang dirinya mampu bertahan lebih dari setengah abad setelah ia meninggal dunia?

Dari Dawat dan Tradisi Surau

Sejarawan Suryadi dalam tulisannya mengenai Ungku Saliah menyebut bahwa tokoh tersebut diperkirakan lahir sekitar 1887 di Pasa Panjang, Sungai Sariak, dengan nama kecil Dawat atau Dawaik. Sumber yang sama menyebut ayahnya bernama Tulih dan ibunya Tuneh, sementara perjalanan pendidikan agamanya berlangsung melalui sejumlah ulama yang menjadi bagian dari jaringan keilmuan Islam Minangkabau.

Pada usia sekitar 15 tahun, Dawat disebut mulai belajar mengaji kepada Syekh Muhammad Yatim Tuanku Mudiak Padang di Surau Kalampaian, Ampalu Tinggi. Ia kemudian memperdalam ilmu tarekat kepada Syekh Aluma Nan Tuo di Koto Tuo dan melanjutkan pengajiannya kepada Syekh Abdurrahman di Bintungan Tinggi sebelum kembali ke kampung halamannya. Gelar Saliah kemudian melekat pada dirinya dan semakin dikenal ketika ia menjadi guru mengaji di Sungai Sariak.

Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Ungku Saliah tidak dapat dilepaskan dari tradisi pendidikan surau yang menjadi salah satu fondasi penting kehidupan intelektual dan keagamaan masyarakat Minangkabau. Surau pada masa itu bukan hanya tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga ruang tempat seorang murid memperoleh pengetahuan agama, membangun hubungan dengan guru, dan kemudian meneruskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat.

Penelitian mengenai tradisi shalawat dulang di Sungai Sariak juga menyebut Ungku Saliah dalam konteks jaringan murid yang membawa tradisi keagamaan dari Ulakan ke Sungai Sariak, yang menunjukkan bahwa namanya berada dalam lingkungan perkembangan tradisi Islam lokal yang lebih luas.

Dengan demikian, sebelum masyarakat mengenalnya melalui cerita mengenai karamah, terdapat lapisan sejarah yang lebih konkret: Ungku Saliah adalah seorang guru agama yang hidup dalam jaringan pendidikan Islam berbasis surau.

Ketika Seorang Guru Menjadi Tokoh Keramat

Seiring perjalanan waktu, ingatan masyarakat terhadap Ungku Saliah berkembang melampaui perannya sebagai guru agama. Cerita mengenai berbagai kejadian luar biasa yang dikaitkan dengannya kemudian berkembang dan diwariskan secara lisan, sehingga ia dikenal sebagai tokoh yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat Pariaman.

Suryadi, dengan merujuk penelitian Miko Juni Putra berjudul Biografi dan Dokumentasi Cerita tentang Ungku Saliah Kiramat di Sungai Sariak dari Universitas Andalas, mencatat sejumlah cerita yang berkembang dalam ingatan kolektif masyarakat Sungai Sariak mengenai kekeramatan Ungku Saliah. Salah satu cerita yang didokumentasikan berkaitan dengan seorang pedagang yang dipercaya akan mengalami perubahan nasib dagang berdasarkan apakah ia mengikuti atau menolak harga yang ditawarkan Ungku Saliah.

Namun, cerita semacam itu perlu ditempatkan secara hati-hati ketika ditulis dalam sebuah artikel jurnalistik. Keberadaan sebuah cerita dalam tradisi masyarakat merupakan fakta sosial, tetapi cerita mengenai kemampuan supranatural tidak otomatis menjadi fakta empiris yang telah terbukti.

Karena itu, istilah seperti karamah, keramat, atau kemampuan luar biasa dalam kisah Ungku Saliah harus dipahami dalam konteks keyakinan dan folklor masyarakat yang mewariskannya. Pendekatan seperti ini memungkinkan kisah tersebut tetap dihargai sebagai bagian dari budaya tanpa mengubah kepercayaan menjadi klaim ilmiah yang tidak memiliki pembuktian independen.

Wafat pada 1974, tetapi Ingatan Tidak Berakhir

Ungku Saliah disebut meninggal dunia pada 3 Agustus 1974 di rumahnya di Sungai Sariak. Setelah wafat, makamnya kemudian dilengkapi gobah dan tetap menjadi tempat yang dikunjungi peziarah.

Dalam banyak tradisi masyarakat, kematian seorang ulama tidak selalu berarti berakhirnya hubungan sosial antara tokoh tersebut dengan masyarakat. Ingatan terhadap seorang guru dapat diteruskan melalui murid, keluarga, makam, cerita, ritual, maupun benda-benda yang dianggap memiliki hubungan dengan dirinya.

Fenomena Ungku Saliah menunjukkan proses semacam itu. Sosok yang semula dikenal sebagai guru agama kemudian menjadi tokoh yang diziarahi dan diceritakan kembali, sementara cerita mengenai dirinya terus berkembang di tengah masyarakat yang telah mengalami perubahan sosial dan geografis.

Perubahan tersebut menjadi semakin jelas ketika foto Ungku Saliah mulai hadir di berbagai tempat usaha masyarakat Pariaman.

Mengapa Foto Ungku Saliah Ada di Rumah Makan?

Bagi orang yang tidak mengenal tradisi masyarakat Pariaman, keberadaan foto Ungku Saliah di rumah makan mungkin terlihat sebagai sebuah kebiasaan yang sulit dijelaskan. Namun penelitian antropologi menunjukkan bahwa praktik tersebut mempunyai makna sosial dan budaya yang cukup kuat.

Penelitian Alimin, Mumin Roup dan Restia Gustiana yang diterbitkan dalam Kontekstualita: Jurnal Sosial Keagamaan pada 2022 meneliti praktik pemajangan foto Ungku Saliah di kedai masyarakat Minang-Pariaman di Sungai Sariak, Kota Padang dan Tangerang Selatan. Penelitian kualitatif tersebut menemukan adanya hubungan yang erat antara sosok Ungku Saliah dengan sebagian pedagang asal Pariaman yang memajang fotonya di tempat usaha.

Bagi para pedagang yang menjadi subjek penelitian, foto tersebut diyakini memiliki hubungan dengan harapan terhadap kedatangan pelanggan dan kelarisan dagangan. Dengan demikian, foto Ungku Saliah tidak hanya berfungsi sebagai representasi seorang ulama, tetapi juga memperoleh makna simbolik dalam kehidupan ekonomi masyarakat yang membawanya ke wilayah rantau.

Penelitian lain yang dilakukan di kedai etnis Minang-Pariaman di Kelurahan Binjai, Medan Denai, juga menemukan tiga pemaknaan utama terhadap foto tersebut, yaitu sebagai simbol pelaris dagang, penolak bala dan pembawa keberuntungan. Temuan itu berasal dari observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan yang dilakukan peneliti.

Temuan tersebut tidak berarti bahwa semua masyarakat Pariaman memiliki keyakinan yang sama. Justru penelitian menunjukkan bahwa simbol tersebut memperoleh makna melalui pengalaman dan keyakinan komunitas yang menggunakannya.

Antara Kepercayaan dan Bukti Empiris

Pertanyaan berikutnya menjadi lebih sulit: apakah foto Ungku Saliah memang membuat sebuah rumah makan menjadi laris?

Pertanyaan tersebut telah masuk ke ranah penelitian kuantitatif. Penelitian Suci Kurnia Irfani dari UIN Imam Bonjol Padang pada 2023 menggunakan 100 konsumen rumah makan Pariaman di Ulakan Tapakis sebagai sampel dan menguji hubungan antara simbol foto Ungku Saliah, brand image, serta keputusan pembelian menggunakan pendekatan Structural Equation Model berbasis Partial Least Square.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol foto Ungku Saliah berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image, sedangkan brand image juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Namun, pengaruh langsung simbol foto Ungku Saliah terhadap keputusan pembelian dilaporkan positif tetapi tidak signifikan.

Perbedaan tersebut penting karena memberikan batas antara keyakinan masyarakat dan kesimpulan berdasarkan data penelitian. Dengan kata lain, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa foto Ungku Saliah secara langsung memiliki kekuatan supernatural yang membuat dagangan menjadi laris, tetapi menunjukkan bahwa simbol tersebut dapat memiliki fungsi dalam membentuk citra usaha.

Di sinilah foto seorang ulama dapat memiliki dua kehidupan sekaligus: sebagai simbol spiritual bagi sebagian masyarakat dan sebagai simbol identitas dalam dunia perdagangan.

Wasilah dan Hubungan Spiritual Masyarakat

Hubungan masyarakat dengan Ungku Saliah juga tidak berhenti pada pemajangan foto atau ziarah ke makam. Penelitian Riqa Neli Hidayat dari UIN Imam Bonjol Padang pada 2018 mendokumentasikan praktik ber-wasilah dengan Angku Saliah dalam berdoa pada masyarakat Nagari Lareh Nan Panjang, Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto, Padang Pariaman.

Penelitian tersebut merupakan penelitian lapangan kualitatif yang menggunakan wawancara dan dokumentasi. Hasilnya mencatat beberapa bentuk praktik wasilah yang dilakukan masyarakat, termasuk membaca Al-Fatihah dan mengaitkan doa dengan sosok Angku Saliah, serta menjelaskan bahwa masyarakat yang melakukan praktik tersebut meyakini Ungku Saliah sebagai orang yang memperoleh karamah dan memiliki kedekatan dengan Allah.

Dalam konteks jurnalistik, temuan tersebut sebaiknya dibaca sebagai dokumentasi mengenai praktik keagamaan masyarakat, bukan sebagai pembuktian terhadap klaim metafisik yang berada di luar kemampuan metode penelitian tersebut.

Perbedaan ini penting agar pembahasan mengenai Ungku Saliah tidak terjebak pada dua kutub yang sama-sama menyederhanakan persoalan: menganggap semua cerita sebagai fakta yang sudah terbukti, atau sebaliknya menganggap seluruh keyakinan masyarakat sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai sejarah dan budaya.

Apakah Kisah Ungku Saliah Tercatat dalam Tambo?

Pertanyaan tentang tambo juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Tambo merupakan salah satu tradisi penting dalam ingatan sejarah dan adat Minangkabau, tetapi tidak setiap cerita yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau dapat secara otomatis disebut sebagai bagian dari tambo.

Dalam penelusuran sumber yang tersedia untuk artikel ini, dokumentasi mengenai Ungku Saliah lebih banyak ditemukan melalui penelitian modern, tulisan sejarah lokal, wawancara dan tradisi lisan. Salah satu sumber yang paling sering dirujuk adalah penelitian Miko Juni Putra tahun 2006 yang secara khusus mendokumentasikan biografi dan cerita tentang Ungku Saliah. Suryadi kemudian menggunakan penelitian tersebut sebagai salah satu rujukan ketika menulis mengenai Ungku Saliah.

Karena itu, pernyataan bahwa “menurut tambo Ungku Saliah memiliki kesaktian tertentu” membutuhkan bukti naskah yang spesifik. Tanpa naskah atau rujukan primer yang dapat diperiksa, klaim tersebut lebih tepat disebut sebagai tradisi lisan atau cerita masyarakat.

Bagi penelitian sejarah, perbedaan ini sangat penting karena setiap sumber mempunyai karakter dan tingkat verifikasi yang berbeda.

Dari Ulama Menjadi Identitas Perantauan

Perjalanan Ungku Saliah menjadi semakin menarik ketika dilihat dari perspektif masyarakat Pariaman sebagai komunitas perantau. Ketika masyarakat meninggalkan kampung halaman dan membuka usaha di berbagai daerah, mereka tidak hanya membawa keterampilan berdagang dan resep masakan, tetapi juga membawa simbol-simbol budaya yang menjadi bagian dari identitas mereka.

Foto Ungku Saliah menjadi salah satu simbol tersebut.

Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 2026 dalam IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya bahkan melihat pemajangan foto Ungku Saliah melalui konsep spiritual capital dan market identity. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan etnografis dengan observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap pedagang di Pariaman, Padang dan Tangerang Selatan selama periode 2021–2024.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa foto Ungku Saliah dipahami sebagian pedagang sebagai bentuk religious branding dan symbolic capital, yang berkaitan dengan keyakinan mengenai perlindungan spiritual, keberkahan dan identitas pasar. Penelitian itu juga menemukan adanya perkembangan penggunaan simbol tradisional tersebut dalam pemasaran melalui media sosial.

Temuan ini memperlihatkan bahwa simbol lama tidak selalu hilang ketika masyarakat memasuki kehidupan modern. Sebaliknya, simbol tersebut dapat mengalami perubahan fungsi dan menemukan ruang baru dalam kehidupan ekonomi serta komunikasi digital.

Seorang Ulama, Sebuah Ingatan Kolektif

Lebih dari lima puluh tahun setelah wafatnya, Ungku Saliah masih menempati ruang khusus dalam ingatan sebagian masyarakat Pariaman. Sejarah mengenai dirinya dapat ditelusuri melalui riwayat pendidikan agama, jaringan guru dan murid, kehidupan di Sungai Sariak, makam, serta berbagai penelitian yang telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, kisah tentang karamahnya hidup melalui tradisi lisan dan keyakinan masyarakat, yang kemudian menjadi objek penelitian antropologi, studi agama dan kajian budaya. Perbedaan antara kedua lapisan tersebut justru membuat sosok Ungku Saliah semakin menarik untuk diteliti, karena sejarah seorang manusia dan perjalanan sebuah legenda ternyata dapat berjalan berdampingan tanpa harus dipaksakan menjadi satu jenis cerita.

Dari sudut pandang sejarah, ia adalah seorang guru agama yang tumbuh dari tradisi surau dan jaringan keilmuan Islam Minangkabau. Dari sudut pandang masyarakat yang mempercayai karamahnya, ia adalah sosok yang memiliki kedudukan spiritual khusus. Sementara dalam kehidupan masyarakat Pariaman masa kini, wajahnya telah berkembang menjadi simbol identitas yang hadir di ruang-ruang perdagangan, termasuk rumah makan yang tersebar di daerah rantau.

Mungkin karena itulah foto Ungku Saliah terus bertahan.

Bukan semata-mata karena semua cerita tentang dirinya telah terbukti, tetapi karena masyarakat telah memberikan makna yang terus berubah terhadap sosok tersebut. Bagi sebagian orang, ia adalah guru yang dihormati; bagi yang lain, ia adalah tokoh keramat; sementara bagi masyarakat Pariaman di perantauan, fotonya dapat menjadi pengingat terhadap kampung halaman, tradisi agama dan identitas yang mereka bawa ketika meninggalkan Sungai Sariak.

Ungku Saliah telah wafat pada 1974, tetapi perjalanan sosial namanya belum berhenti. Ia terus hidup melalui makam yang diziarahi, cerita yang diwariskan, penelitian yang dilakukan, dan sebuah foto yang hingga kini masih memandang para pengunjung dari dinding rumah makan Minang.

Di situlah sejarah Ungku Saliah menjadi lebih dari sekadar kisah seorang ulama; ia menjadi cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatan, memberi makna kepada tokohnya, dan membawa warisan tersebut melintasi generasi serta batas geografis.

Referensi

  1. Suryadi, “Minang Saisuak #100 – Ungku Saliah Kiramaik, Sungai Sariak (c. 1887–1974)”; tulisan ini juga merujuk penelitian Miko Juni Putra dari Universitas Andalas mengenai biografi dan folklor Ungku Saliah.
  2. Alimin, Mumin Roup & Restia Gustiana, “Ritual Pemajangan Foto Ungku Saliah di Kedai Etnik Minang Pariaman,” Kontekstualita: Jurnal Sosial Keagamaan, Vol. 37 No. 1, 2022, hlm. 17–32.
  3. Apriando Saputra & Bakhrul Khair Amal, “Makna Simbol Ungku Saliah pada Kedai-Kedai Etnis Minang Pariaman di Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai,” Jurnal Antropologi Sumatera.
  4. Riqa Neli Hidayat, Wasilah dengan Angku Saliah dalam Berdo'a, UIN Imam Bonjol Padang, 2018.
  5. Suci Kurnia Irfani, Pengaruh Simbol Foto Ungku Saliah pada Rumah Makan Pariaman terhadap Keputusan Pelanggan dengan Brand Image sebagai Variabel Intervening, UIN Imam Bonjol Padang, 2023.
  6. “Shalawat Dulang dalam Perayaan Maulid Nabi di Nagari Sungai Sariak Kecamatan VII Koto Kabupaten Padang Pariaman,” UIN Imam Bonjol Padang.
  7. Ahmad Bisyri Abd.Shomad, Mumin Roup & Restia Gustiana, “Spiritual Capital and Market Identity: The Symbolism of Ungku Saliah in Minang-Pariaman Trade Strategies,” IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya, Vol. 23 No. 2, diterbitkan 31 Januari 2026.
  8. Syaiful Azmi, Fenomena Mistis Pemajangan Foto Ungku Saliah di Rumah Makan Minang Khas Pariaman di Kota Pekanbaru, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2025.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0