Hujan Intensif Guyur Sumsel hingga Kalsel, BMKG Ungkap Efek Operasi Dry Ice dan Garam
BMKG melaporkan hujan intensif mengguyur Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan setelah operasi modifikasi cuaca dengan kombinasi dry ice dan garam NaCl. Operasi ini dilakukan untuk membongkar lapisan inversi, menekan kepekatan asap karhutla, dan memicu pembentukan awan hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hujan dengan intensitas tinggi telah mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan setelah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Wilayah yang dilaporkan mengalami hujan intensif antara lain Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa hujan tersebut terjadi setelah OMC dilakukan dengan menggabungkan metode penyemaian dry ice dan bahan natrium klorida (NaCl) atau garam. "Saya kira banyak berita bahwa terjadi hujan di Sumatra Selatan, di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dengan sangat intensif setelah dilakukannya OMC dengan menggabungkan antara dry ice dan NaCl gitu ya," ujar Faisal di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10).
Menurut Faisal, BMKG bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi wilayah Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk mengendalikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Ia menyebut selama dua sampai empat minggu sebelum datangnya musim hujan, kebakaran meningkat di sejumlah wilayah.
"Saat ini, kita harus terus memperkuat karena menjelang dua sampai empat minggu sebelum datangnya musim hujan, kebakaran cukup meningkat ya di beberapa lokasi. Sehingga, kami mencoba untuk menerapkan dry ice," kata Faisal.
Faisal menjelaskan bahwa OMC dry ice dilakukan untuk mengurangi kepekatan asap dengan membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di bawah ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki. Setelah asap naik, matahari dapat memicu penguapan dan terbentuknya awan hujan. Selanjutnya, BMKG melakukan penyemaian awan menggunakan NaCl.
Untuk memastikan pelaksanaan operasi berjalan tepat sasaran, BMKG melakukan pemantauan berbasis ilmiah melalui pengukuran menggunakan radiosonde. Pengukuran ini bertujuan mengetahui profil suhu dan tekanan udara di atmosfer serta mengidentifikasi posisi lapisan inversi, sehingga penyemaian dapat dilakukan pada titik yang telah ditentukan.
"Kita melakukan uji radiosonde naik ke atas, untuk mengetahui berapa suhu dan tekanan udara, profilling di atas, sehingga kita tahu persisi di bagian mana lapisan inversinya. Lalu, penyemaian kita lakukan pada titik tersebut," ungkap Faisal.
Selain itu, BMKG turut memantau kualitas udara di permukaan, termasuk konsentrasi PM2.5. Faisal menyebut jarak pandang di sejumlah wilayah bertambah setelah operasi dilakukan. Sebagai contoh, bandara di Sumatra Selatan yang sebelumnya tertutup asap kembali terbuka, disertai perbaikan kualitas udara.
BMKG juga memantau pergerakan asap kebakaran hutan yang sempat mencapai wilayah Jakarta. Asap tersebut terpantau selama sekitar lima hingga enam jam pada ketinggian lebih dari empat kilometer sebelum bergerak menjauhi Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat. "Kemarin sempat terpantau beberapa jam, ya. Kurang lebih sekitar, kalau saya tidak salah 5-6 jam. Masuknya itu memang asap yang berada di ketinggian lebih dari 4 kilometer. Jadi, kita pun di sini tidak merasakan asapnya," jelas Faisal.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)