FBI Bongkar Jaringan Laptop Pekerja IT Korea Utara, 187 Perangkat Disita di Texas

FBI membongkar peternakan laptop ilegal yang dipakai pekerja IT Korea Utara untuk menyusup ke perusahaan AS. Dalam Operasi Lonestar Roundup di Texas, penyidik menyita sekitar 187 laptop dan 100 perangkat. Skema ini memakai identitas curian dan VPN untuk mendapat kerja jarak jauh, dengan pendapatan diduga mengalir ke program persenjataan Korea Utara.

Oct 21, 2026 - 16:02
Updated: 14 hours ago
0
FBI Bongkar Jaringan Laptop Pekerja IT Korea Utara, 187 Perangkat Disita di Texas
FBI Bongkar Jaringan Laptop Pekerja IT Korea Utara, 187 Perangkat Disita di Texas

Amerika Serikat melalui Biro Investigasi Federal (FBI) Dallas mengungkap praktik "peternakan laptop" atau laptop farm yang digunakan pekerja IT asal Korea Utara untuk menyusup ke sistem perusahaan AS. Peternakan laptop adalah kumpulan perangkat laptop yang dioperasikan guna mendukung aktivitas ilegal para pekerja IT Korea Utara, termasuk mengakses sistem perusahaan dengan identitas warga AS yang dicuri atau dipalsukan.

Dalam operasi bertajuk Lonestar Roundup, FBI menggeledah lebih dari 40 rumah di Texas dan menyita sekitar 187 laptop serta perangkat KVM (keyboard, video, mouse). Penyidik juga menyita sekitar 100 perangkat yang dipakai para pekerja IT Korea Utara dan kaki tangannya di AS untuk menjalankan skema penipuan di Texas Utara.

Menurut Kantor Kejaksaan AS, tujuan skema tersebut adalah memperoleh pekerjaan jarak jauh secara ilegal dan menghasilkan pendapatan bagi program persenjataan Korea Utara yang terkena sanksi. Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Utara Texas, Ryan Raybould, menegaskan investigasi ini bukan sekadar soal penipuan, melainkan upaya rezim asing yang bermusuhan menyusup ke perusahaan-perusahaan AS melalui identitas curian dan akses tersembunyi di dalam wilayah AS.

Raybould menyatakan pembongkaran kasus ini akan memutus salah satu sumber pendapatan yang diandalkan pemerintah Korea Utara untuk mendanai program persenjataan yang mengancam stabilitas global. Senada dengan itu, Kepala FBI Dallas R. Joseph Rothrock menyebut Operasi Lonestar Roundup bertujuan memberantas aktivitas siber berbahaya yang dilakukan pemerintah Korea Utara untuk mendukung program senjata pemusnah massal (WMD), rudal balistik, intelijen, dan nuklir.

"Setiap laptop yang disita berpotensi mewakili satu perusahaan yang telah mempekerjakan IT Korea Utara," ujar Rothrock.

Berdasarkan penyelidikan, para pekerja IT Korea Utara melamar dan mendapatkan pekerjaan jarak jauh menggunakan dokumen identitas curian atau palsu. Mereka memanfaatkan jaringan privat virtual (VPN) dan infrastruktur proxy agar lokasi kerja mereka seolah-olah berada di AS. Mereka dibantu pihak-pihak berbasis di AS yang menerima laptop dari perusahaan korban, menyimpan dan mengonfigurasi perangkat, memasang perangkat lunak akses jarak jauh, serta menyalurkan penghasilan ke rekening yang dikendalikan Korea Utara.

Perusahaan keamanan siber AS, CrowdStrike, mengidentifikasi kelompok pekerja IT Korea Utara beserta fasilitatornya sebagai "Famous Chollima". Nama itu kini digunakan banyak korban untuk merujuk pada kasus tersebut. Penyidik juga menemukan bahwa para pelaku diduga memakai sejumlah akun Google palsu untuk mendukung aktivitas kriminal ini.

Departemen Kehakiman AS menyatakan investigasi masih berlangsung dan berkomitmen memberantas jaringan keuangan ilegal Korea Utara serta melindungi perusahaan-perusahaan AS dari skema penyusupan terselubung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User