Everest Bukan yang Tertinggi? Pakar Geologi Telusuri Jejak Gunung Purba yang Mungkin Lebih Megah
Everest setinggi 8.849 meter dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia, tetapi para ahli geologi menduga ada gunung purba yang mungkin lebih tinggi. Lewat lapisan kerak Bumi dan jejak pegunungan kuno seperti Transgondwana, Nuna, dan Greenvile, mereka memperkirakan ketinggian gunung masa lalu, meski kepastiannya masih menjadi pertanyaan terbuka.
Gunung Everest di Nepal dengan ketinggian 8.849 meter di atas permukaan laut selama ini diakui sebagai gunung tertinggi di dunia. Namun, pertanyaan tentang apakah ada gunung lain yang pernah lebih tinggi dari Everest masih menyisakan misteri yang menarik perhatian para ahli geologi.
Para ahli belum memiliki data cukup rinci untuk memastikan gunung mana yang paling tinggi ratusan juta tahun lalu. Profesor geologi di University of Adelaide, Australia, mengakui bahwa tingkat perincian seperti itu memang tidak akan pernah bisa diperoleh. Meski begitu, sisa-sisa sedimen yang terperangkap di dalam kerak Bumi masih menyimpan petunjuk tentang kemegahan puncak gunung pada masa purba.
Gunung terbentuk ketika kerak benua terdorong ke atas akibat tumbukan lempeng tektonik. Kerak ini sangat berat dan bagiannya jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan. Puncak setinggi Everest pun ditopang oleh bagian kerak yang menjorok jauh ke bawah Bumi, mirip gunung es yang hanya menampakkan sebagian kecil tubuhnya di atas permukaan.
Sebagai gambaran, kerak Bumi di bawah Himalaya diperkirakan membentang hingga kedalaman 50 mil atau 80 kilometer. Sementara itu, ketinggian Everest mencapai 29.000 kaki. Artinya, gunung tertinggi di dunia ini paling banyak hanya mewakili sekitar 14 persen dari keseluruhan massa batuan yang menjadi bagiannya. Kondisi ini menunjukkan adanya batas ketinggian yang bisa dicapai sebuah gunung sebelum akhirnya runtuh karena beratnya sendiri.
Himalaya sendiri mulai terbentuk sekitar 50 juta hingga 40 juta tahun lalu akibat tumbukan lempeng India dan Eurasia. Dalam sejarah pembentukan gunung, Himalaya tergolong muda, sehingga masih sangat tinggi dan terus bertambah karena kedua lempeng masih bertabrakan. Namun, gunung-gunung dengan puncak terjal umumnya mengalami erosi cepat seiring waktu.
Tumbukan antarbenua seperti itu ternyata telah berulang kali terjadi. Pegunungan Super Transgondwana menjadi salah satu contohnya. Rangkaian pegunungan purba ini mulai terbentuk sekitar 650 juta tahun lalu ketika Afrika dan Amerika Selatan bertabrakan dengan wilayah Arabia, India, Australia, dan Antartika hingga membentuk superbenua Gondwana. Bukti keberadaannya masih dapat ditemukan di India bagian selatan, Sri Lanka, Tanzania, dan Kenya, dengan panjang rangkaian diperkirakan mencapai tiga kali panjang Himalaya.
Ahli geokimia dari Curtin University, Ziyi Zhu, memperkirakan kerak Bumi di wilayah tersebut lebih dalam daripada kerak di bawah Himalaya. Lapisan kerak yang membentang hingga kedalaman 18 mil atau 30 kilometer itu memberikan petunjuk ketinggian pegunungan purba. Pada suatu masa, lapisan tersebut kemungkinan berada di tengah kolom kerak yang kedalamannya mencapai 60 kilometer, sehingga gunung di atasnya bisa setinggi Everest.
Kandidat lain adalah Pegunungan Greenvile yang terbentuk sekitar 1,3 miliar tahun lalu seiring pembentukan superbenua Rodinia, dengan sisa-sisa di sekitar Ontario tenggara dan Vermont barat laut. Sekitar 2 miliar tahun lalu, pembentukan superbenua Nuna atau Columbia juga meninggalkan bukti pegunungan raksasa yang diteliti melalui komposisi kristal zirkon di dalam kerak Bumi.
Menurut Zhu, rangkaian pegunungan Nuna, Transgondwana, dan Himalaya saat ini menjadi kandidat terbaik sebagai pegunungan dengan puncak tertinggi yang pernah ada. Kendati demikian, menentukan secara pasti satu puncak gunung tertinggi pada masa lampau kemungkinan belum bisa dilakukan dengan metode ilmiah yang tersedia saat ini. Zhu pun menegaskan bahwa persoalan ini masih menjadi pertanyaan terbuka.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)