Harga Pangan Melonjak, Pedagang Sayur dan Warteg Keluhkan Omzet Anjlok hingga 20 Persen

Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan membuat pedagang sayur dan warteg mengeluh. Daya beli pelanggan melemah sehingga omzet pedagang turun lebih dari 20 persen. Pedagang berharap pemerintah turun tangan menekan harga agar usaha kecil tidak semakin terpuruk.

Oct 22, 2026 - 08:02
Updated: 9 hours ago
0
Harga Pangan Melonjak, Pedagang Sayur dan Warteg Keluhkan Omzet Anjlok hingga 20 Persen
Harga Pangan Melonjak, Pedagang Sayur dan Warteg Keluhkan Omzet Anjlok hingga 20 Persen

Kenaikan harga berbagai komoditas pangan mulai dirasakan langsung oleh pedagang kecil. Penjual sayuran hingga pengelola warung nasi (warteg) mengaku terpukul karena harga barang dagangan melonjak sementara daya beli pelanggan melemah. Imbasnya, omzet mereka turun lebih dari 20 persen.

Keluhan itu disampaikan Kholifah, pedagang sayur di Pasar Anyar, Kota Tangerang. Menurutnya, dalam tiga hingga empat hari terakhir hampir semua harga dagangannya naik. Cabai rawit merah, misalnya, melesat dari Rp60 ribu menjadi Rp90 ribu, sedangkan cabai rawit hijau dari Rp50 ribu menjadi Rp70 ribu. Cabai keriting pun naik dari Rp40 ribu menjadi Rp75 ribu.

Bukan hanya cabai, harga tomat dan mentimun juga naik Rp5 ribu menjadi Rp18 ribu. Lemon dan jeruk nipis mengalami kenaikan Rp10 ribu, sementara sawi putih, sawi hijau, dan kubis naik sekitar Rp5 ribu. Kholifah menduga kenaikan ini dipicu musim kemarau panjang yang menyebabkan banyak gagal panen.

Dampaknya terasa pada pola belanja pelanggan. Jika biasanya membeli sayuran satu kilogram, kini banyak yang hanya mengambil setengah kilogram. Kondisi ini membuat omzet Kholifah merosot drastis. "Kalau begini terus, amsyong," keluhnya saat ditemui di lapak dagangannya, Kamis (22/10).

Senada dengan Kholifah, Andini, pedagang warteg di Jalan Darusallam II, Kecamatan Batuceper, mengaku keberatan dengan lonjakan harga bahan pokok. Beras yang sebelumnya Rp600 ribu per 50 kilogram kini menjadi Rp750 ribu, sedangkan minyak goreng dari Rp14 ribu naik menjadi Rp19 ribu. Bumbu dapur seperti bawang putih, kemiri, dan serai juga ikut naik.

Meski terhimpit, Andini enggan menaikkan harga jual karena takut pelanggan kabur. Ia juga menolak mengurangi takaran bumbu masakan demi menekan biaya, lantaran khawatir rasa dan kualitas produknya menurun sehingga dikeluhkan pelanggan. Ia memilih merelakan keuntungan menyusut daripada kehilangan pembeli.

"Paling mengurangi keuntungan saya, dari biasanya dapat Rp300 ribu sekarang Rp200 ribu per hari," ujar Andini. Para pedagang berharap pemerintah bekerja lebih keras menekan kenaikan harga pangan agar masyarakat kecil tidak menjadi korban pelemahan ekonomi yang semakin terasa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User