Selat Hormuz Ditutup, Impor Minyak RI Terancam dan Harga BBM Berisiko Melonjak

Penutupan Selat Hormuz oleh IRGC mengancam pasokan BBM Indonesia karena sekitar 25 persen impor minyak mentah RI berasal dari Timur Tengah. Selain pasokan berkurang, harga minyak dunia, biaya sewa tanker, dan premi asuransi perang ikut naik sehingga beban pembelian Pertamina bertambah dan harga BBM berpotensi terdampak.

Oct 21, 2026 - 16:02
Updated: 14 hours ago
0
Selat Hormuz Ditutup, Impor Minyak RI Terancam dan Harga BBM Berisiko Melonjak
Selat Hormuz Ditutup, Impor Minyak RI Terancam dan Harga BBM Berisiko Melonjak

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda berimbas pada penutupan Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan jalur pelayaran strategis itu tertutup bagi lalu lintas kapal. Penutupan tersebut disebut mengganggu sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah dunia atau hampir 20 juta barel per hari.

Dampaknya terasa hingga Indonesia. Praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menjelaskan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Menurut dia, sekitar 25 persen kebutuhan impor RI berasal dari Timur Tengah atau setara 0,3 juta barel per hari.

"Sekitar 25 persen diimpor dari Timur Tengah atau setara dengan 0,3 juta bopd. Jumlah yang sangat signifikan jika Selat Hormuz terus ditutup," ujar Hadi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/10).

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menambahkan bahwa Selat Hormuz memegang peran vital karena menghubungkan pusat produksi energi di Teluk dengan pasar Asia melalui koridor sempit. Menurutnya, gangguan di jalur itu tidak hanya berdampak pada berkurangnya pasokan minyak mentah.

"Konflik di Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan BBM Indonesia karena gangguan tidak berhenti pada berkurangnya minyak mentah," kata Syafruddin kepada CNNIndonesia.com.

Ia menjelaskan kilang dan distributor domestik membeli minyak mentah, LPG, serta produk BBM dengan harga internasional yang langsung menyerap risiko gejolak di Selat Hormuz. Ketika ancaman keamanan meningkat, pasar menaikkan harga sebelum kelangkaan fisik terjadi, antara lain akibat penambahan inventaris, kenaikan tarif sewa kapal tanker, dan lonjakan premi asuransi perang.

Serangan terhadap tanker, ancaman ranjau, pengawalan militer, hingga gangguan navigasi turut menambah ongkos sewa dan waktu tempuh. Beban itu, menurut Syafruddin, langsung memengaruhi biaya pembelian minyak Pertamina. "Biaya itu masuk ke harga crude dan produk olahan yang dibeli Pertamina," ujarnya.

Syafruddin juga mengingatkan bahwa Indonesia telah menjadi pengimpor bersih (net importer) minyak sejak 2004. Kondisi itu membuat setiap kenaikan harga global memperbesar kebutuhan dolar AS. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga minyak impor dalam rupiah berpotensi melonjak lebih cepat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User