Kabut Asap Makin Tebal, Solok Selatan Pilih Sekolah Tatap Muka, Ini Alasannya
Pemkab Solok Selatan kembali memberlakukan sekolah tatap muka meski kabut asap kian tebal. Evaluasi menunjukkan PJJ tidak efektif karena banyak siswa tetap keluyuran tanpa masker. Pemerintah mewajibkan masker dan terus mengevaluasi kondisi cuaca, sementara BMKG menyebut asap berasal dari kebakaran hutan di Jambi dan Sumatera Selatan.
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan memutuskan tetap menjalankan pembelajaran tatap muka di tengah kabut asap yang masih menyelimuti wilayah itu sejak sebulan terakhir. Kebijakan ini diambil setelah pemerintah mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dinilai kurang efektif mencegah siswa terpapar asap.
Sekretaris Daerah Solok Selatan, Dr. Syamsurizaldi, menyatakan kondisi kabut asap sangat dinamis sehingga kebijakan pendidikan akan terus menyesuaikan perkembangan cuaca. Menurutnya, kabut justru terasa lebih tebal setelah hujan hampir merata di seluruh wilayah Solok Selatan, bertepatan dengan dimulainya kembali sekolah tatap muka.
"Situasi kabut terkini memang agak tebal setelah hujan hampir di seluruh wilayah Solok Selatan, yang bertepatan juga dengan kembali dimulainya proses belajar tatap muka," kata Syamsurizaldi, Rabu (21/10/2026).
Pemerintah kabupaten akan mengevaluasi kondisi asap untuk menentukan kebijakan pada Kamis (22/10/2026) pagi. Untuk sementara, sekolah tatap muka tetap berjalan dengan catatan seluruh warga sekolah wajib mengenakan masker saat berangkat, selama belajar, dan ketika pulang.
Kepala Dinas Pendidikan Solok Selatan, Hamudis, menjelaskan evaluasi PJJ dilakukan bersama Kantor Kementerian Agama Solok Selatan. Hasilnya, PJJ dinilai tidak efektif karena masih banyak siswa yang keluar rumah tanpa masker. Selain itu, sejumlah orang tua mengeluhkan kesulitan mendampingi anak belajar dari rumah, termasuk masalah anak yang lebih sibuk dengan gadget.
"Dari hasil evaluasi PJJ yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kemenag, ternyata PJJ tidak efektif untuk memastikan anak tidak terpapar kabut asap. Sebab masih banyak yang keluyuran keluar rumah, bahkan tanpa mengenakan masker," ujar Hamudis.
Di sisi lain, kabut asap yang kian tebal mengganggu jarak pandang dan pernapasan. Plt. Kepala Dinas Perkim-LH dan Perhubungan Solok Selatan, Alfino Sendra, menjelaskan hujan ringan justru membuat asap terasa lebih pekat. Uap air dari tanah yang hangat menempel pada partikel asap PM2.5 sehingga membentuk butiran kabut basah yang lebih besar dan padat.
Menurut Alfino, hujan intensitas ringan hingga sedang tidak cukup membilas polutan dari atmosfer. Akibatnya, hujan bukan membersihkan udara, melainkan menambah massa air pada partikel asap sehingga menghalangi cahaya dan memperpendek jarak pandang.
Pantauan BMKG menyebut asap yang menyelimuti Solok Selatan merupakan kiriman dari kebakaran hutan di Jambi dan Sumatera Selatan. Hujan lokal yang mendinginkan permukaan tanah menciptakan lapisan inversi, yakni udara bawah dingin sementara lapisan atas tetap hangat, sehingga asap terperangkap dan sulit menyebar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)