Ilmuwan Sebut Titik Kritis Gambut Indonesia Sudah Terlewati, Kerusakan Tak Bisa Dipulihkan
Fenomena tipping point atau titik kritis tanpa balik menjadi sorotan Konferensi Global Tipping Points 2026 di Kuala Lumpur. Profesor Gusti Zakaria Anshari menduga Indonesia telah melewati titik kritis lahan gambut, ditandai kerusakan yang terus berlanjut dan sifatnya irreversible. Selain gambut, terumbu karang dan gletser Puncak Jaya Papua juga disebut mendekati atau sudah melewati ambang kritis.
Fenomena tipping point atau titik kritis tanpa balik kembali menjadi perhatian ilmuwan iklim dan lingkungan dunia. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika suatu sistem alam melampaui ambang tertentu sehingga mengalami perubahan yang sulit dihentikan atau dikembalikan seperti semula. Isu tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Konferensi Global Tipping Points 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.
Indonesia menjadi salah satu negara yang perlu mewaspadai fenomena ini. Sejumlah ekosistem penting di Tanah Air menghadapi kerusakan serius, mulai dari hutan gambut hingga terumbu karang. Sebagian ahli bahkan meyakini batas tipping point di Indonesia sudah terlampaui.
Dalam konteks lingkungan, tipping point diibaratkan seperti perahu yang terus miring hingga melewati batas keseimbangannya. Setelah ambang itu terlewati, perahu akan tetap terguling meski prosesnya tidak berlangsung seketika. Pada lapisan es raksasa, pencairan bisa berlangsung ratusan hingga ribuan tahun, tetapi bila titik kritis sudah dilewati, pencairan akan terus berjalan meskipun pemanasan tidak lagi meningkat. Artinya, titik tersebut bukan soal waktu, melainkan soal kondisi yang sudah terkunci.
Salah satu ekosistem paling berharga yang terancam adalah hutan gambut. Menurut pemerintah Indonesia, luas gambut nasional mencapai 13,7 juta hektar pada 2021. Kerusakan hutan gambut mulai terjadi sejak era Orde Baru ketika pembalakan berlangsung masif. Puncaknya pada 1995-1996 saat pemerintah Presiden Suharto membuka sejuta hektar hutan gambut untuk proyek pertanian padi di Kalimantan dan Sumatera. Penelitian tahun 2024 mengungkap sekitar 60-70 persen tanaman kayu di hutan gambut Indonesia sudah habis.
Proyek drainase besar-besaran sepanjang ribuan kilometer kanal dilakukan agar gambut mengering dan bisa ditanami. Namun proyek cetak sawah itu gagal, dan lahan kering yang terbentuk sebagian besar berubah menjadi kebun kelapa sawit. Pola konversi gambut menjadi perkebunan sawit pun makin meluas hingga puluhan tahun setelah Suharto lengser.
Gambut memiliki kemampuan menyimpan emisi karbon lebih dari 10 kali lipat dibanding hutan tropis daratan kering. Ketika gambut dikeringkan atau dibakar, lapisan karbon yang tersimpan ribuan tahun akan teroksidasi dan lepas secara masif ke atmosfer. Lahan yang semula berfungsi sebagai penyerap karbon berubah menjadi sumber emisi raksasa, yang oleh ilmuwan Kjell Kühne dari University of Leeds disebut sebagai carbon bombs atau bom karbon.
Profesor Gusti Zakaria Anshari, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat sekaligus peneliti lahan gambut tropis terkemuka dunia, menduga Indonesia telah melewati titik kritis lahan gambutnya. Menurut dia, kerusakan yang terus berlanjut membuat gambut tidak akan pernah pulih sepenuhnya seperti sedia kala, bahkan jika kerusakan dihentikan.
"Kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut, sebagian daunnya mengering, tidak ada airnya lagi. Itu menunjukkan daya simpan air di gambut itu sudah habis. Jadi sudah kritis. Sementara kalau musim kering, cari airnya sulit. Sungai pada mengering. Itu lah kalau fungsi gambutnya sudah hilang. Paling penting ini, fungsi-fungsi perubahan itu, seperti gambut mengering, emisi karbon yang sangat tinggi. Menurut laporan (lembaga Lingkungan PBB) UNEP juga, itu sifatnya irreversible (tak bisa dipulihkan)," kata Zakaria saat dihubungi CNN Indonesia.
Selain gambut, ekosistem hutan hujan tropis dan terumbu karang Indonesia juga mengalami kerusakan parah. Dalam studi tentang terumbu karang, ilmuwan dunia meyakini tipping point untuk karang sudah terlewati. Indonesia memiliki sekitar seperlima kekayaan karang dunia, dan pemutihan karang besar-besaran terjadi pada 2016 serta 2023-2024. Karang membutuhkan waktu sekitar 10-15 tahun untuk pulih, sehingga dengan siklus pemutihan yang cepat, terumbu karang tidak akan mampu pulih selamanya.
Ilmuwan juga menyoroti gletser di Puncak Jaya, Papua, sebagai indikator tipping point lainnya. Salju abadi Cartensz diperkirakan akan habis mencair dalam beberapa tahun ke depan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)