BMKG Soroti Tiga Segmen Megathrust yang Lama Tak Lepas Energi, Potensi Gempa Besar Jadi Perhatian

BMKG memantau ketat tiga segmen megathrust di Indonesia, yakni Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba, karena sudah lama tidak melepaskan energi besar. Meski berpotensi gempa dahsyat, para ahli menegaskan kondisi ini adalah potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa yang akan segera terjadi.

Oct 2, 2026 - 08:02
Oct 2, 2026 - 08:02
 0
BMKG Soroti Tiga Segmen Megathrust yang Lama Tak Lepas Energi, Potensi Gempa Besar Jadi Perhatian
BMKG Soroti Tiga Segmen Megathrust yang Lama Tak Lepas Energi, Potensi Gempa Besar Jadi Perhatian

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengawasi tiga dari 14 segmen megathrust yang membentang di Indonesia. Ketiga segmen tersebut menjadi perhatian khusus karena sudah lama tidak melepaskan energi besarnya. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan bahwa seluruh segmen di zona megathrust sebenarnya berpotensi menimbulkan gempa besar. Namun, ada beberapa segmen yang paling dicurigai, yaitu Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba.

Menurut Wijayanto, segmen Mentawai-Siberut telah berkali-kali disampaikan belum mengalami gempa besar dalam waktu lama. Hal serupa juga terjadi pada segmen Selat Sunda yang masuk ke segmen Jawa bagian barat. "Segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya, ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitude besar," ujarnya kepada CNNIndonesia, Senin (24/8). Ia menambahkan bahwa tiga segmen inilah yang saat ini terus dipantau secara intensif.

Di sisi lain, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa segmen Mentawai-Siberut dan Selat Sunda kerap menjadi perhatian karena adanya indikasi seismic gap. Berdasarkan jurnal Distribusi Frekuensi Gempa dan Dimensi Fraktal pada Seismik Gap di Indonesia yang diterbitkan BMKG tahun 2021, seismic gap didefinisikan sebagai wilayah dengan potensi gempa tinggi yang seharusnya sudah melepaskan energi dalam bentuk gempa besar, tetapi berdasarkan data katalog energi tersebut belum terlepas.

Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa kondisi ini merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi. "Secara ilmiah harus dibedakan antara 'memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar' dan 'akan segera mengalami gempa besar'," tegasnya. Ia menjelaskan bahwa untuk menilai potensi gempa besar di zona megathrust, para ahli menggabungkan berbagai parameter secara bersamaan.

Parameter tersebut antara lain geometri dan luas bidang kontak subduksi. Semakin luas area yang dapat mengalami pergeseran (rupture), semakin besar pula magnitudo gempa yang mungkin terjadi. Selain itu, laju konvergensi lempeng juga diperhitungkan untuk melihat seberapa cepat dua lempeng bergerak saling mendekat dan seberapa cepat regangan tektonik terhimpun. Para ahli juga menggunakan metode penguncian (coupling) yang menunjukkan semakin kuat bidang kontak terkunci, semakin besar potensi akumulasi slip deficit. "Slip deficit, selisih antara gerakan yang seharusnya terjadi akibat konvergensi lempeng dan gerakan yang benar-benar dilepaskan secara aseismik," imbuh Daryono.

Sejarah gempa dan paleosismologi turut digunakan untuk menilai rupture di masa lalu, termasuk bukti gempa dan tsunami purba. Data GNSS/GPS dan geodesi juga dimanfaatkan untuk mengukur deformasi kerak dan akumulasi regangan. Aktivitas gempa maupun gempa susulan (aftershock) dianalisis guna memahami struktur dan aktivitas di zona subduksi. "Model skenario rupture dan Mmax digunakan untuk memperkirakan ukuran gempa maksimum yang secara fisik mungkin terjadi," jelas Daryono.

Sementara itu, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 terus diperbarui pada beberapa aspek, seperti geometri sesar, segmentasi, skenario rupture, Mmax, slip rate, serta model prediksi gerakan tanah (GMPE). Daryono menegaskan bahwa pemutakhiran peta dilakukan karena tersedianya data geologi, seismologi, geodesi/GNSS, hasil penelitian terbaru, dan metode pemodelan yang lebih baik. "Bertambahnya jumlah segmen pada peta bukan berarti bumi tiba-tiba memiliki lebih banyak megathrust, tetapi menunjukkan bahwa pemetaan sumber gempa menjadi lebih detail dan ilmiah," kata Daryono.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0