Studi Terbaru Ungkap Penyebab Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa

Penelitian di jurnal Nature Communications mengungkap penyebab astronaut sering sembelit di luar angkasa. Analisis 488 sampel plasma dari 52 astronaut ISS menunjukkan mikrogravitasi memperlambat pergerakan makanan di usus, membuat bakteri beralih memfermentasi protein. Perubahan metabolik ini muncul beberapa minggu setelah tiba di luar angkasa dan mereda setelah kembali ke Bumi.

Sep 19, 2026 - 02:35
Sep 19, 2026 - 02:35
 0
Studi Terbaru Ungkap Penyebab Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa
Studi Terbaru Ungkap Penyebab Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa

Masalah sembelit yang dialami para astronaut selama bertugas di luar angkasa akhirnya mendapat penjelasan ilmiah. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications pada 29 Juni 2026 mengungkap bahwa kondisi mikrogravitasi berperan besar dalam memperlambat pergerakan makanan di dalam usus, yang kemudian mengubah cara bakteri usus memecah nutrisi.

Studi ini melibatkan 52 astronaut yang tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Para peneliti dari Universitas Copenhagen dan NASA menganalisis sampel darah para astronaut sebelum, selama, dan sesudah menjalankan misi di ISS. Secara keseluruhan, mereka memeriksa 488 sampel plasma dari astronaut yang menghabiskan waktu antara dua hingga sembilan bulan di ISS pada periode 2006 hingga 2018.

Giorgia La Barbera, salah satu penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa perubahan pada sampel mengindikasikan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah lebih tinggi dari biasanya. Perubahan ini hanya muncul dalam hitungan minggu setelah astronaut tiba di luar angkasa dan terus berlangsung hingga mereka kembali ke Bumi.

Tim peneliti menggunakan teknik metabolomik untuk mengukur molekul-molekul kecil yang beredar dalam darah. Metode ini memberikan gambaran biokimia tentang bagaimana tubuh astronaut, serta mikroba di dalamnya, merespons kondisi luar angkasa. Mereka menemukan perubahan pada sekitar 40 senyawa dalam sirkulasi darah selama penerbangan luar angkasa, termasuk beberapa metabolit yang dihasilkan saat bakteri di usus besar memfermentasi protein.

Normalnya, bakteri di usus besar memfermentasi serat dan karbohidrat untuk menghasilkan energi. Namun, ketika pencernaan melambat, pasokan karbohidrat dapat habis sehingga mikroba beralih memecah lebih banyak protein dan menghasilkan metabolit berbeda yang masuk ke aliran darah. Peningkatan senyawa ini menandai bahwa makanan membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati usus.

Henrik Roager, salah satu penulis studi, menyatakan bahwa kurangnya gravitasi di luar angkasa kemungkinan besar membuat makanan bergerak lebih lambat di dalam usus, sejalan dengan bukti meningkatnya fermentasi protein. Kondisi inilah yang diduga menjadi penyebab sembelit pada astronaut. Perbedaan pola makan, seperti asupan kafein, ikan, dan lemak, hanya menyumbang sebagian kecil dari perubahan metabolik tersebut, sehingga faktor makanan saja tidak cukup untuk menjelaskan efek ini.

Perubahan metabolik ini muncul tak lama setelah astronaut memasuki luar angkasa dan sebagian besar mereda dalam beberapa hari setelah mereka kembali ke Bumi. Meski para peneliti tidak mengukur kecepatan pergerakan makanan secara langsung, perubahan metabolik yang teramati mengarah pada kesimpulan bahwa pergerakan di dalam usus memang melambat.

Temuan ini diharapkan dapat membantu para peneliti merancang strategi pola makan untuk menjaga sistem pencernaan astronaut tetap lancar selama misi masa depan ke Bulan dan Mars, sekaligus memberikan petunjuk baru mengenai gangguan pencernaan di Bumi. Selain rasa tidak nyaman akibat sembelit, peningkatan fermentasi protein dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida, yang beberapa di antaranya dihubungkan dengan efek negatif bagi kesehatan. Solusi penanganannya mungkin cukup sederhana, yakni dengan menambah asupan serat dan meningkatkan konsumsi karbohidrat yang terfermentasi secara perlahan agar mikroba usus memiliki cukup karbohidrat dan tidak terlalu bergantung pada fermentasi protein.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0