Kekalahan Trump di Pemilu Sela AS Disambut Sejumlah Pemimpin Dunia, dari Khamenei hingga PM Spanyol
Partai Demokrat memenangkan mayoritas kursi di Senat dan DPR pada pemilu sela AS, menjadi pukulan bagi Trump. Sejumlah pemimpin dunia menyambut hasil ini, termasuk PM Spanyol Pedro Sanchez, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, PM Norwegia Jonas Gahr Store, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, PM Ceko Andrej Babis, PM Polandia Donald Tusk, dan PM Inggris Andy Burnham.
Partai Demokrat berhasil memenangkan pemilu paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat yang digelar pada Selasa (3/11). Berdasarkan hitung cepat New York Times, Demokrat mengamankan 54 kursi di Senat, unggul atas Republik yang meraih 44 kursi. Sementara di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Demokrat meraup 238 kursi, jauh meninggalkan Republik yang hanya memperoleh 147 kursi.
Kemenangan ini menjadi pukulan telak bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Hasil tersebut bahkan disebut sebagai skenario terburuk bagi pemerintahan Trump. Ke depan, kebijakan-kebijakan Trump, terutama terkait perdagangan global, keamanan, dan harga energi, diprediksi akan menghadapi pengawasan ketat dari parlemen yang kini dikuasai oposisi.
Sejumlah pemimpin dunia pun angkat bicara menyikapi hasil pemilu sela ini. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara terbuka menyatakan bahwa rakyat Amerika telah memberikan suara menentang kebijakan yang memiskinkan rakyat. "Kemarin, rakyat Amerika memberikan suara menentang kebijakan yang hanya bertujuan memiskinkan rakyat. Menentang kebencian. Menentang seksisme. Menentang penyangkalan perubahan iklim dan menentang hak istimewa kaum elite," tulis Sanchez di media sosial X.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menilai hasil pemilu sela sebagai tanda kekalahan Amerika Serikat dan melemahnya negara adidaya tersebut. "Kami berharap dominasi Setan Besar semakin cepat dan semakin pasti melemah," ujar Khamenei dalam pernyataannya pada Rabu (4/11). Ia bahkan menyebut kesalahan perhitungan Trump untuk memicu perang dengan Iran justru menjadi bumerang yang melemahkan hegemoni AS. "Saat ini, kekuatan dan hegemoni Amerika Serikat yang terus merosot telah mengalami kejatuhan yang tak dapat dipulihkan dalam kedua dimensi kekuasaannya: baik hard military power dan soft power internasionalnya," tegasnya.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyambut baik kekalahan Trump. Dalam unggahan di media sosial, ia menyatakan bahwa rakyat AS menolak perang. "Rakyat Amerika mengatakan TIDAK PADA PERANG, dan kami mendukung pesan ini. Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak publik demi melayani para pemberi dana dan pemeras internasional, mereka akan menyadari bahwa penolakan kami akan berujung pada mimpi buruk," tulis Ghalibaf.
Dari Norwegia, Perdana Menteri Jonas Gahr Store menyebut pemilu sela AS memperlihatkan sinyal politik yang kuat tentang perubahan arah di kalangan masyarakat. "Ini adalah sinyal politik yang kuat tentang perubahan arah di kalangan pemilih Amerika," ucapnya kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa saat ini muncul suara-suara dalam politik Amerika yang lebih dekat dengan pandangan Norwegia, misalnya dalam hal iklim dan lingkungan, serta kebijakan luar negeri dan bantuan pembangunan.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan hasil ini "mengantarkan era baru dalam hubungan dunia." "Partai Demokrat telah mengambil kendali atas Senat maupun DPR; rakyat Amerika telah bersuara dan terus bersuara seiring dengan berakhirnya seluruh pemilihan umum, dan menurut saya, hal ini benar-benar akan menghadirkan era baru dalam hubungan dunia," ujarnya kepada wartawan.
Perdana Menteri Ceko Andrej Babis menyoroti potensi perselisihan alot di antara para pembuat kebijakan AS. "Saya pikir hasilnya sesuai harapan. Menurut pandangan saya, ini berarti bahwa hingga akhir masa jabatan Presiden Trump, semuanya akan berputar pada pemakzulan dan hak veto, dan semacam kelumpuhan. Di sisi lain, Presiden Trump hampir pasti akan terus melakukan apa pun yang dia inginkan. Semoga dia akhirnya menepati janji untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menyelesaikan konflik di Selat Hormuz," kata Babis.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk turut berkomentar. Ia menyebut demokrasi saat ini "menang" di Amerika. "Hari ini, demokrasi menang di Amerika. Demokrasi itu luar biasa. Saya mencintai demokrasi. Demokrasi adalah hal yang sungguh indah. Dan seperti yang dikatakan oleh Presiden Donald Trump sendiri, tepat setelah pemilihan umum, Partai Demokrat telah melakukannya dengan baik, dan saya sangat setuju dengannya," ucap Tusk.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham secara implisit menyambut kekalahan orang-orang Trump. Menurutnya, hasil pemilu AS adalah pesan agar pemerintah dan parlemen fokus pada hal-hal yang krusial. "Menurut pandangan saya, itulah pesan yang disampaikan oleh para pemilih di AS: mari kita benar-benar memusatkan perhatian secara tajam pada masalah biaya hidup. Saya rasa di seluruh dunia pun ada kesadaran bahwa negara-negara tidak bisa mengatasi hal ini sendirian, apalagi jika terdapat perpecahan antarnegara," ujarnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)