Modus Hacker Kuras Rp114 Triliun dari Binance: Wawancara Kerja Palsu hingga Malware AI

Binance mengungkap modus peretas yang menguras aset kripto senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun. Peretas memakai wawancara kerja palsu, malware, dan alat AI internal untuk membobol hot wallet. FBI menuduh Korea Utara sebagai dalang, namun Pyongyang membantah tuduhan tersebut.

Nov 05, 2026 - 08:02
Updated: 7 hours ago
0
Modus Hacker Kuras Rp114 Triliun dari Binance: Wawancara Kerja Palsu hingga Malware AI
Modus Hacker Kuras Rp114 Triliun dari Binance: Wawancara Kerja Palsu hingga Malware AI

Bursa mata uang kripto Binance membeberkan cara peretas melancarkan aksi pembobolan yang menguras aset kripto senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun. Modusnya bukan sekadar serangan siber biasa, melainkan kombinasi wawancara kerja palsu, penyebaran malware, dan pemanfaatan alat berbasis kecerdasan buatan atau AI internal perusahaan.

Berdasarkan informasi terbaru yang dirilis Binance, peretas pertama kali menembus sistem perusahaan pada musim panas. Seorang teknisi tanpa sengaja mengunduh malware yang membuat identitasnya beserta anggota tim lain terekspos. Tim tersebut bertanggung jawab mengelola infrastruktur dompet kripto di Binance.

Setelah itu, peretas berpura-pura menjadi direktur proyek dan menghubungi teknisi lain melalui platform pencarian kerja yang legal. Pelaku kemudian menyamar sebagai staf human resources atau HR pada wawancara video tahap pertama. Wawancara tahap kedua digelar melalui aplikasi percakapan, dengan pelaku mengaku sebagai CEO dari perusahaan fiktif. Lewat tipuan inilah teknisi tersebut akhirnya mengunduh malware ke komputernya.

Operasi peretasan sebenarnya dimulai pada Juni 2026 dan berlanjut dengan penipuan rekrutmen pada September. Rangkaian upaya itu berujung pada pembobolan hot wallet atau dompet digital yang terhubung ke internet pada pekan lalu. Binance menyatakan total US$6,34 miliar berhasil dikuras dari dompet kripto dalam serangan tersebut.

Pada 20 Oktober, pelaku memakai komputer yang telah disusupi serta alat AI internal untuk mengambil alih kendali sistem milik teknisi dan seorang pengembang dompet digital lain dalam tim yang sama. Pelaku lalu memanfaatkan komputer pengembang kedua dengan kredensial curian dari teknisi pertama, sebelum menjalankan skrip berbahaya untuk melancarkan serangan pada 29 Oktober 2026.

"Hal ini seharusnya tidak terjadi, dan kami meminta maaf atas kekhawatiran, gangguan serta ketidakpastian yang ditimbulkan terhadap pengguna, mitra, dan industri secara lebih luas," kata Binance, dikutip dari The Guardian.

FBI menuduh Korea Utara sebagai dalang di balik peretasan ini. Wawancara kerja menggunakan teknologi deepfake dikenal sebagai salah satu metode persenjataan siber negara tersebut. Biasanya metode itu dipakai dari sisi sebaliknya, ketika tenaga profesional TI palsu melamar pekerjaan untuk mengalirkan uang kembali ke Pyongyang.

Pemerintah Korea Utara membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai retorika yang tidak masuk akal. Bantahan disampaikan Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Ia menilai tuduhan itu membuktikan Washington masih menunjukkan sikap permusuhan terhadap Pyongyang.

"FBI berupaya mencap DPRK sebagai 'negara pelaku kejahatan siber' dengan mengklaim telah memperoleh informasi bahwa organisasi peretas yang didukung oleh DPRK terlibat dalam insiden tersebut," ujar Kim, dikutip dari kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA. Ia menambahkan, Amerika Serikat melakukan provokasi politik serius terhadap DPRK dengan menyesatkan opini publik internasional seolah-olah seluruh kejahatan siber di berbagai belahan dunia merupakan perbuatan mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User