El Nino Kuat Tak Hentikan Hujan Lokal di Sejumlah Wilayah Indonesia

Meski El Nino telah mencapai level kuat, sejumlah wilayah Indonesia masih mengalami hujan lokal. BMKG menjelaskan hal ini dipicu oleh gelombang atmosfer seperti Kelvin dan Rossby, serta bibit siklon tropis. Hujan lebat tercatat di Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Aceh. Namun, prakiraan Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah akan mengalami curah hujan rendah.

Aug 1, 2026 - 04:32
Aug 1, 2026 - 04:32
 0
El Nino Kuat Tak Hentikan Hujan Lokal di Sejumlah Wilayah Indonesia
El Nino Kuat Tak Hentikan Hujan Lokal di Sejumlah Wilayah Indonesia

Fenomena El Nino yang telah memasuki level kuat tidak serta-merta menghentikan hujan di seluruh wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan dengan intensitas bervariasi masih terjadi secara lokal di sejumlah daerah pada periode 27-29 Juli 2026. Hal ini disebabkan oleh dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan dalam skala lokal.

Berdasarkan data BMKG, curah hujan tertinggi tercatat di Sumatera Barat mencapai 126 milimeter per hari. Disusul Kepulauan Riau dengan 97 milimeter per hari dan Aceh 83,5 milimeter per hari. Sementara itu, Jawa Barat mencatat curah hujan 53,4 milimeter per hari, dan Sumatera Utara 52,6 milimeter per hari.

Hujan lokal tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang memengaruhi sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah. Selain itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif pada periode yang sama mengindikasikan peningkatan tutupan awan yang mendukung pembentukan awan hujan.

Meskipun demikian, perkembangan iklim global masih mendukung berlanjutnya cuaca kering di Indonesia. Indeks Niño 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26, sedangkan Southern Oscillation Index (SOI) berada pada -28,2. Kedua indikator tersebut menandakan El Nino kuat yang diprakirakan masih dapat mengalami penguatan.

El Nino berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah. Kondisi ini terlihat dalam prakiraan Dasarian I Agustus 2026, di mana curah hujan kategori rendah diprediksi mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia. Sekitar 8,57 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah, dan tidak ada wilayah dengan kategori tinggi maupun sangat tinggi.

Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa peluang hujan tetap ada di sejumlah wilayah. Aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin yang melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan diprakirakan mendukung pertumbuhan awan hujan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial juga berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, Bibit Siklon Tropis 94W yang terpantau di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat dapat membentuk pola konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Filipina. Kondisi ini mendorong pertemuan dan penumpukan massa udara sehingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi gelombang atmosfer, bibit siklon tropis, serta daerah konvergensi dan konfluensi.

BMKG juga mengingatkan adanya potensi peningkatan kecepatan angin permukaan di sejumlah wilayah perairan, seperti Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, serta Samudra Hindia selatan Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur. Peningkatan angin juga berpotensi terjadi di Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura. Masyarakat dan pelaku aktivitas kelautan diminta mewaspadai potensi gelombang tinggi serta angin kencang di wilayah perairan yang terdampak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0