Sosiolog Maihasni Soroti Pencurian Anak di Plaza Andalas: Keluarga, Ekonomi, dan Lingkungan Jadi Pemicu
Fenomena pencurian yang melibatkan anak di Plaza Andalas menjadi perhatian publik. Sosiolog Maihasni menilai tindakan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi faktor keluarga, ekonomi, dan lingkungan pergaulan. Ia menekankan pentingnya hukuman mendidik dan peran semua pihak dalam pencegahan.
Kasus pencurian yang melibatkan anak-anak di Plaza Andalas, Sumatera Barat, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Publik terbelah antara desakan menghukum berat para pelaku dan tudingan kepada orang tua yang dianggap lalai mengawasi anak. Menanggapi hal ini, akademisi dan pakar sosiologi, Maihasni, memberikan pandangannya bahwa peristiwa tersebut tidak dapat dilihat sebagai persoalan tunggal.
Menurut Maihasni, ada berbagai faktor sosial yang saling berkaitan, mulai dari keluarga, lingkungan pergaulan, kondisi ekonomi, hingga peran pemerintah. "Fenomena itu tidak berdiri sendiri. Ada hubungan dengan yang lain. Enggak bisa disalahkan satu saja," ujarnya saat diwawancarai jurnalis Infosumbar.net.
Dalam perspektif sosiologi, Maihasni menjelaskan bahwa perilaku seseorang terbentuk melalui proses sosialisasi. Keluarga menjadi agen sosialisasi primer yang pertama kali mengenalkan nilai dan norma kepada anak. "Yang pertama melakukan sosialisasi tentu keluarga terdekat. Keluarga yang pertama memperkenalkan mana yang baik, mana yang buruk," katanya. Namun, ketika fungsi keluarga tidak berjalan optimal, anak bisa kehilangan pengawasan dan mencari lingkungan lain di luar keluarga.
Maihasni menyoroti bahwa kurangnya kontrol dan kasih sayang membuat anak lepas dan mencari tempat lain, sehingga masuk ke dalam sosialisasi sekunder seperti teman sebaya dan lingkungan. Pengaruh teman sebaya bisa sangat kuat karena anak dan remaja memiliki kelompok acuan atau reference group. Keinginan mengikuti gaya hidup atau memiliki barang yang sama dengan teman menjadi salah satu dorongan, terutama ketika anak berada dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
"Faktor ekonomi itu juga sangat besar pengaruhnya. Kemudian faktor lingkungan," tegas Maihasni. Tekanan ekonomi membuat orang tua lebih banyak bekerja untuk mencari nafkah, sehingga waktu untuk berinteraksi dan mengawasi anak berkurang. "Orang tua sibuk mencari nafkah sehingga anak tidak terkontrol. Ditambah lagi pengaruh kawan yang mengisi kesehariannya," ujarnya. Ia menilai kesejahteraan masyarakat perlu ditingkatkan agar orang tua tidak kehilangan waktu untuk anak-anak mereka.
Terkait desakan hukuman berat, Maihasni menegaskan bahwa perbuatan anak tetap harus ada konsekuensi, tetapi hukuman tersebut harus mendidik dan mempertimbangkan usia serta perkembangan anak. "Tidak bisa dilepaskan begitu saja, tetap harus ada hukuman. Tapi hukuman yang mendidik," tegasnya. Anak-anak masih dalam tahap perkembangan sehingga perilakunya dapat dibentuk melalui pembinaan berkelanjutan, berbeda dengan orang dewasa.
Maihasni juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mencegah kriminalitas anak. Upaya pencegahan harus menyeluruh, meliputi peningkatan kesejahteraan dan program pengawasan serta pembinaan anak yang konsisten. "Kontrol itu harus berkelanjutan, tidak sekali. Kalau hanya sekali, semangatnya bisa hilang. Tapi kalau berkelanjutan, itu bisa diminimalisir," ujarnya. Ia mengingatkan bahwa pencegahan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. "Jangan sampai anak yang disalahkan semuanya. Semuanya harus berbenah diri," pungkasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)