Anggota Parlemen Australia Kehilangan Dua Kaki Usai Ditabrak Mobil, Polisi Duga Serangan Disengaja

Anggota parlemen independen Australia Helen Haines kehilangan kedua kakinya setelah ditabrak mobil di Wangaratta, Victoria. Polisi menduga insiden itu disengaja. Tersangka Brendan Nugent telah diadili dan ditahan, sementara otoritas menyelidiki kemungkinan motif radikal. Peristiwa ini memicu perdebatan soal meningkatnya ancaman terhadap pejabat terpilih di Australia.

Oct 21, 2026 - 12:03
Updated: 19 hours ago
0
Anggota Parlemen Australia Kehilangan Dua Kaki Usai Ditabrak Mobil, Polisi Duga Serangan Disengaja
Anggota Parlemen Australia Kehilangan Dua Kaki Usai Ditabrak Mobil, Polisi Duga Serangan Disengaja

Anggota parlemen independen Australia, Helen Haines, harus kehilangan kedua kakinya setelah ditabrak mobil di Wangaratta, Victoria. Polisi menilai insiden yang terjadi pada Senin (19/10) sore itu sebagai serangan yang diduga disengaja.

Suami Haines, Phil, mengungkapkan bahwa kondisi istrinya kini stabil setelah menjalani operasi amputasi di sebuah rumah sakit di Melbourne. Kabar tersebut ia sampaikan kepada wartawan pada Rabu (21/10). Menurut Phil, keselamatan sang istri menjadi prioritas utama keluarga setelah peristiwa nahas tersebut.

"Namun, kabar baiknya adalah Helen masih hidup dan kondisinya stabil. Itu adalah hal terpenting bagi keluarga kami," ujar Phil, seperti dilaporkan AFP.

Phil menegaskan bahwa keluarganya tetap melihat kekuatan Helen dari kepribadian dan pemikirannya, meski politikus berusia 65 tahun itu harus kehilangan kedua kaki. "Bagi kami sekeluarga, dua bagian terpenting dari diri Helen adalah hati dan pikirannya," katanya. Ia menggambarkan Helen sebagai pribadi yang memiliki hati besar, penuh welas asih, perhatian, dan kasih sayang.

Haines ditabrak mobil Toyota Land Cruiser saat berada di dekat bagasi mobilnya di Wangaratta, kota yang berjarak lebih dari 200 kilometer di timur laut Melbourne. Pria yang diduga terlibat dalam insiden tersebut, Brendan Nugent (43), telah dihadapkan ke pengadilan pada Rabu (21/10).

Nugent didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk mengemudi secara berbahaya hingga menyebabkan cedera serius, dengan sengaja menimbulkan cedera serius, serta melukai pejabat publik. Dakwaan terakhir merupakan pelanggaran federal yang membawa ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Berdasarkan dokumen pengadilan yang diperoleh AFP, Nugent juga menghadapi dakwaan terkait penanaman ganja dan kepemilikan narkoba. Ia tidak mengajukan permohonan jaminan penangguhan penahanan, dan sidang berikutnya dijadwalkan pada 4 Februari.

Hingga kini, motif di balik dugaan serangan tersebut masih belum diketahui. Polisi menolak berspekulasi mengenai alasan insiden itu. Namun, penyidik tengah menelusuri berbagai kemungkinan, termasuk dugaan bahwa Nugent memiliki pandangan radikal yang menentang pemerintah.

Komisaris Kepolisian Victoria, Mike Bush, menyatakan pihaknya memeriksa jejaring media sosial tersangka serta berbicara dengan para saksi, teman, dan rekan-rekannya. Bush menambahkan, otoritas tidak memiliki informasi intelijen mengenai Nugent sebelum insiden terjadi, dan tidak menemukan indikasi bahwa tersangka merupakan ancaman langsung sebelumnya.

Sementara itu, Komisaris Kepolisian Federal Australia (AFP), Krissy Barrett, menyoroti meningkatnya pandangan ekstremis di dunia maya. Ia menyebut pihaknya terus mencatat kenaikan jumlah pelecehan daring, retorika yang bersifat mengancam, serta intimidasi terhadap anggota parlemen federal. "Situasi ancaman kriminal saat ini sangat tidak stabil," ujarnya.

Dugaan serangan terhadap Haines memicu perdebatan mengenai meningkatnya ketegangan politik di Australia. Meski kekerasan politik tergolong jarang terjadi di negara itu, aparat mencatat peningkatan ancaman dan pelecehan terhadap pejabat terpilih dalam beberapa tahun terakhir.

Gubernur Jenderal Australia, Sam Mostyn, yang mewakili Raja Charles III, menyerukan agar masyarakat kembali mengedepankan kesantunan dalam menghadapi perbedaan pendapat. "Masyarakat Australia mendambakan kebaikan dan kepedulian, dan mereka bertanya kepada kita mengapa kita telah kehilangan kemampuan luar biasa untuk berselisih pendapat dengan cara yang baik," kata Mostyn saat mendampingi Phil.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, juga menyampaikan dukungan kepada Haines. Ia menyayangkan perdebatan politik yang dinilai semakin keras dan menyerang kehidupan pribadi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Albanese, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa dunia saat ini semakin berbahaya dan terpecah dibandingkan satu generasi sebelumnya. "Menurut saya, masyarakat Australia tentu ingin melihat para politisi mereka dapat menjalankan tugasnya dengan tenang, bahkan sekadar untuk mengambil barang dari bagasi mobil mereka sendiri, sungguh," ujar Albanese kepada ABC Melbourne.

Haines merupakan anggota parlemen independen yang mulai menjabat pada 2019. Sebelum terjun ke dunia politik, ia bekerja sebagai perawat dan bidan. Ia dikenal memperjuangkan transparansi politik dan pemberantasan korupsi, serta mendukung langkah-langkah lebih tegas untuk menangani perubahan iklim.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User