Zulhas Beber Kapasitas PSEL: Baru Tangani 22 Persen Sampah, Target 75 Persen pada 2029

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) baru menangani 22 persen masalah sampah nasional. Pemerintah menargetkan 70-75 persen persoalan sampah tuntas pada 2029 melalui PSEL, pirolisis, RDF, dan pemilahan dari sumber. Proyek PSEL Kota Bekasi bernilai Rp3 triliun diproyeksikan mengolah 1.500 ton sampah per hari.

Sep 30, 2026 - 00:02
Sep 30, 2026 - 00:02
 0
Zulhas Beber Kapasitas PSEL: Baru Tangani 22 Persen Sampah, Target 75 Persen pada 2029
Zulhas Beber Kapasitas PSEL: Baru Tangani 22 Persen Sampah, Target 75 Persen pada 2029

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) baru menjangkau 22 persen dari total penanganan sampah nasional. Pernyataan itu disampaikan pria yang akrab disapa Zulhas dalam acara Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi di Bantar Gebang, Bekasi, Rabu (26/8).

Zulhas menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah di Indonesia tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan saja. Diperlukan strategi terintegrasi yang menggabungkan pengolahan sampah baru lewat PSEL, teknologi pirolisis untuk memproses sampah lama, Refuse Derived Fuel (RDF), hingga gerakan pemilahan sampah langsung dari sumbernya di tengah masyarakat.

"Jadi yang kita bicarakan (PSEL) hari ini, itu saudara-saudara, hanya 22 persen. Kalau selesai semua, yang dikerjakan oleh Pandu, Danantara dan kawan-kawan, itu baru 22 persen," ujar Zulhas dalam acara tersebut.

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis berbagai persoalan sampah dapat diselesaikan secara signifikan. Zulhas meyakini kolaborasi seluruh pemangku kepentingan mampu menuntaskan sekitar 70 hingga 75 persen masalah sampah pada 2029. Bahkan, ia berharap krisis sampah yang menumpuk sejak Indonesia merdeka dapat terurai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

"Kalau kita kerja sama seperti itu, insya Allah 2029 (sekitar) 70 sampai 75 persen bisa kita selesaikan sampah ini. Yang mulai Indonesia merdeka sampai hari ini masalahnya tambah banyak. Tapi 2-3 tahun ini bisa kita selesaikan, saya meyakini asal bisa kerja sama dengan semua pihak," kata Zulhas.

Proyek PSEL Kota Bekasi sendiri resmi dimulai melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) antara konsorsium pengembang dan PT PLN (Persero). Nilai investasi proyek ini mencapai Rp3 triliun.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan bahwa PSEL Kota Bekasi diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari atau lebih dari 500 ribu ton per tahun. Kapasitas itu setara dengan penanganan 70 persen total timbunan sampah harian di Kota Bekasi. Proyek ini direalisasikan melalui investasi Danantara lewat PT Denera yang bekerja sama dengan mitra Wangneng, dan ditargetkan menyuplai energi hijau untuk kebutuhan 55 ribu rumah warga Kota Bekasi.

"Kita ekspektasi juga insya Allah akhir 2027, awal 2028 udah selesai. Jadi emang kita ngebutlah. End-to-end ini dari mulai proses November ini mungkin di bawah 24 bulan kita udah selesai, termasuk PPA. Karena ini masalah krisis kan, krisis sampah. Kita coba secepat mungkin," jelas Pandu.

Kehadiran PSEL Kota Bekasi diharapkan memberi dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat setempat. Proyek ini diproyeksikan mampu menekan emisi karbon hingga 640 ribu ton setara CO2 per tahun, mengurangi kebutuhan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekitar 90 persen, serta membuka 1.000 lapangan kerja hijau baru di kawasan tersebut.

"Kita merancang program ini untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, energi hijau, dan memberdayakan ekonomi lokal dengan mengacu pada standar lingkungan EU IED atau Europe Industrial Emission Directive," pungkas Pandu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0