Pasar Smartphone Asia Tenggara Terpuruk ke Titik Terendah Sejak 2014, Harga HP Naik Jadi Biang Kerok

Pasar smartphone Asia Tenggara anjlok ke 19,3 juta unit pada kuartal kedua 2026, terendah sejak 2014. Omdia mencatat penurunan 23 persen tahun ke tahun, namun nilai pasar bertahan di US$6,6 miliar karena harga jual rata-rata naik 31 persen. Kenaikan harga memori dan pergeseran konsumen ke segmen US$100-199 menjadi penyebab utama, dengan Indonesia dan Filipina diprediksi terdampak paling besar.

Sep 30, 2026 - 00:02
Sep 30, 2026 - 00:02
 0
Pasar Smartphone Asia Tenggara Terpuruk ke Titik Terendah Sejak 2014, Harga HP Naik Jadi Biang Kerok
Pasar Smartphone Asia Tenggara Terpuruk ke Titik Terendah Sejak 2014, Harga HP Naik Jadi Biang Kerok

Pasar smartphone di Asia Tenggara mencatat kinerja terburuk dalam lebih dari satu dekade. Riset terbaru Omdia menunjukkan pengiriman ponsel di kawasan ini hanya mencapai 19,3 juta unit pada kuartal kedua 2026, angka terendah sejak 2014. Secara tahunan, volume pengiriman merosot 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski volume anjlok, nilai pasar justru relatif bertahan di level US$6,6 miliar. Hal ini terjadi karena harga jual rata-rata (ASP) naik 31 persen menjadi US$342 per unit. Kenaikan harga tersebut menjadi faktor utama yang menahan laju penurunan nilai pasar di tengah melemahnya permintaan.

Research Manager Omdia, Le Xuan Chiew, menyatakan bahwa Asia Tenggara sedang menuju penyusutan pasar tahunan terparah dalam setidaknya tujuh tahun terakhir. Omdia memprediksi pengiriman smartphone di kawasan ini akan menyusut hingga 25 persen secara tahunan menjadi 75,3 juta unit pada 2026. Tren ini diperkirakan berlanjut dari paruh pertama ke paruh kedua 2026 seiring harga HP yang semakin membebani penjualan.

Beberapa negara seperti Indonesia dan Filipina diprediksi terdampak lebih besar karena pasar keduanya sangat bergantung pada penjualan HP murah dan toko ritel umum. Tekanan harga memori yang semakin terasa di paruh pertama 2026 menjadi pemicu utama kondisi ini. Menurut Le Xuan Chiew, perangkat yang dikirimkan pada semester pertama 2026 masih mencerminkan biaya memori berdasarkan rata-rata gabungan dari pembelian sebelumnya, bukan harga pasar saat ini. "Ini berarti margin saat ini belum mencerminkan kenaikan biaya memori. Seiring menipisnya persediaan dengan biaya lebih rendah, vendor akan menghadapi dampak penuh dari harga memori yang lebih tinggi saat ini," ujarnya.

Riset Omdia juga menemukan pergeseran pola konsumsi. Segmen harga US$100-199 (sekitar Rp1,7-3,5 juta) kini menyerap pangsa pasar terbesar dari sisa permintaan tingkat pemula, meningkat dari 32 persen menjadi 39 persen dari total pengiriman. Artinya, banyak seri HP yang sebelumnya dijual di bawah US$100 sengaja dinaikkan harganya ke rentang tersebut.

Senior Analyst Omdia, Sheng Win Chow, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan pengiriman HP di segmen harga US$100 ke atas tetap turun 2 persen. Hal ini menunjukkan kelas harga yang lebih mahal tidak mampu menyerap semua pembeli. "Banyak calon pembeli akhirnya memilih untuk tidak jadi beli daripada harus pindah ke HP yang lebih mahal," kata Sheng Win Chow.

Secara historis, sebagian besar volume penjualan di bawah US$100 di Asia Tenggara berasal dari diskon besar-besaran pada model yang awalnya diluncurkan dengan harga lebih tinggi. Namun pada kuartal kedua, Omdia menemukan perubahan pola karena vendor tidak hanya mengenalkan model baru dengan harga lebih tinggi, tetapi juga menaikkan harga perangkat yang sudah ada, seperti pada peluncuran Samsung Galaxy A07 dan A17 serta Xiaomi Redmi Note 15.

Di tengah pasar yang lesu, pangsa pasar Samsung justru naik menjadi 32 persen pada kuartal kedua 2026 di Asia Tenggara, didukung penjualan di segmen harga US$200-299. Sementara itu, Xiaomi mencatat kenaikan ASP sebesar 43,5 persen meski jumlah pengiriman unit turun 21 persen, mencerminkan kenaikan harga pada beberapa ponsel terbarunya seperti Redmi Note 15, Xiaomi 17T, dan Redmi A7 Pro. Pengiriman ponsel Xiaomi di bawah US$100 turun 69 persen, sedangkan di kelas US$100-199 naik 55 persen.

Transsion, induk dari merek Tecno, Infinix, dan Itel yang berfokus pada pasar entry-level, juga terdampak. Pengiriman smartphone dengan harga US$100 ke bawah turun 47 persen, sementara untuk harga US$100-199 naik 12 persen. Kondisi ini menggambarkan betapa tekanan harga telah mengubah lanskap pasar smartphone Asia Tenggara secara signifikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0