Utang WIKA Rp34 Triliun Jadi Sorotan, Danantara Tolak Restrukturisasi Sekadar Perpanjang Tenor

COO Danantara Dony Oskaria mengungkap utang PT Wijaya Karya (WIKA) mencapai Rp34 triliun dan aset perusahaan dinilai belum cukup menekan beban tersebut. Danantara menolak restrukturisasi yang hanya memperpanjang tenor 30-40 tahun dan ingin pembenahan tuntas, termasuk merger empat BUMN Karya serta divestasi aset noninti.

Oct 08, 2026 - 12:03
Updated: 17 hours ago
0 0
Utang WIKA Rp34 Triliun Jadi Sorotan, Danantara Tolak Restrukturisasi Sekadar Perpanjang Tenor
Utang WIKA Rp34 Triliun Jadi Sorotan, Danantara Tolak Restrukturisasi Sekadar Perpanjang Tenor

Beban utang PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang mencapai Rp34 triliun menjadi perhatian serius Danantara Indonesia. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menilai aset perusahaan belum memadai untuk menurunkan nilai utang tersebut sehingga proses restrukturisasi membutuhkan waktu lebih panjang.

"Yang bikin lama, contoh WIKA. WIKA ini utangnya kan besar. Tapi underlying-nya enggak cukup untuk menurunkan utangnya. Kurang lebih utang WIKA itu Rp34 triliun," ujar Dony usai menghadiri Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10).

Dony menegaskan pihaknya tidak ingin restrukturisasi dilakukan sekadar dengan memperpanjang tenor utang hingga 30 sampai 40 tahun. Menurutnya, langkah semacam itu hanya menunda persoalan dan berpotensi kembali muncul sebagai masalah di kemudian hari.

"Karena waktu kita merestrukturisasi, saya tidak mau hanya asal-asal dikumpulin, terus kemudian ditarik 30 tahun, 40 tahun, enggak ada gunanya. Nanti akan menjadi problem lagi," katanya.

Ia menyatakan Danantara ingin pembenahan WIKA dilakukan secara fundamental dan tuntas, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar perbaikan BUMN tidak bersifat sementara. Dony juga menyoroti persoalan lama yang masih melekat di WIKA, termasuk tagihan terkait proyek kereta cepat.

"Kita mesti betul-betul melihat ini mesti diapain perusahaan ini. Karena arahnya Bapak Presiden, sekali kita melakukan perbaikan itu harus tuntas. Kita enggak mau setengah-setengah, hanya poles-poles itu enggak ada gunanya," ujarnya.

Selain WIKA, Danantara mencatat Waskita Karya juga memerlukan restrukturisasi. Dony menyebut pihaknya tengah mengkaji struktur bisnis dan aset Waskita, termasuk kemungkinan mempertahankan bisnis jalan tol melalui Waskita Toll Road.

"Waskita juga sama. Waskita itu dia punya aset jalan tol kan, Waskita tol road. Kita lagi melihat apakah nanti yang akan bertahan tolnya aja. Ini kan pertimbangannya enggak bisa asal-asalan," kata Dony.

Sebelum menuntaskan restrukturisasi, Danantara akan lebih dulu melakukan merger terhadap empat BUMN Karya, yakni PT Nindya Karya dengan PT Brantas Abipraya serta PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT PP (Persero) Tbk. Dony menargetkan proses merger rampung paling lambat akhir November 2026.

"Yang merger dulu yang Nindya dan Brantas sama Adhi dan PP. Nah setelah kita merger, kita akan melakukan divestasi aset-aset non-related dengan core business-nya," ujarnya.

Aset noninti tersebut akan dijual dan hasilnya dipakai untuk menurunkan beban utang, sementara sisa utang direstrukturisasi sesuai kemampuan pembayaran masing-masing perusahaan. Dony juga menegaskan pola pembiayaan BUMN Karya akan diubah, dari corporate financing menjadi berbasis proyek, disertai perbaikan tata kelola perusahaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User