Wali Kota Saint-Denis Dihantam Gas Air Mata Saat Lindungi Mahasiswa Demonstran
Bally Bagayoko, Wali Kota Saint-Denis, Prancis, menjadi sorotan setelah videonya menghadang polisi untuk melindungi demonstran mahasiswa viral. Ia terkena gas air mata saat berdiri di antara demonstran dan polisi dalam aksi protes di Paris. Bagayoko mendukung mahasiswa dari kawasan pinggiran Paris yang menuntut investasi pendidikan lebih baik.
Aksi solidaritas Wali Kota Saint-Denis, Prancis, Bally Bagayoko, terhadap demonstran mahasiswa menjadi perhatian publik setelah rekaman video yang memperlihatkannya menghadang polisi tersebar luas di media sosial. Dalam insiden yang terjadi di Paris pada Selasa (6/10), Bagayoko berdiri di antara barisan demonstran dan petugas polisi antihuru-hara. Ia terlihat meminta aparat menghentikan tindakan mereka, namun gas air mata yang ditembakkan ke arah kerumunan justru mengenai dirinya. Bagayoko pun harus mendapatkan perawatan dengan larutan garam untuk meredakan iritasi pada matanya.
Pria berusia 53 tahun itu menyatakan dukungannya terhadap para mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kawasan pinggiran Paris, wilayah yang mayoritas dihuni masyarakat kelas pekerja. Ia secara tegas meminta polisi tidak menuntut para mahasiswa yang mengikuti aksi. Menurutnya, banyak dari mahasiswa tersebut sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas. Pernyataan itu disampaikan Bagayoko kepada Reuters di Balai Kota Saint-Denis, Rabu (7/10).
Aksi demonstrasi mahasiswa ini sendiri telah berlangsung sejak akhir September. Mereka memprotes kondisi pendidikan yang dinilai memprihatinkan, seperti ruang kelas yang terlalu padat, bangunan sekolah yang tidak layak, kekurangan guru, serta ketimpangan akses pendidikan. Saint-Denis, kota di pinggiran utara Paris, menjadi salah satu lokasi awal demonstrasi. Kawasan ini juga dikenal memiliki tingkat kemiskinan lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional Prancis.
Bagayoko menilai pemerintah belum memenuhi janji untuk menciptakan kesetaraan bagi seluruh masyarakat, terutama warga kelas pekerja dan masyarakat di daerah pedesaan. Ia mendesak pemerintah meningkatkan investasi di bidang pendidikan dan mengenakan pajak lebih tinggi kepada para miliarder. Bagayoko juga menyoroti bahwa aksi protes ini bukan kali pertama ia terlibat dalam isu pendidikan di Saint-Denis.
Perjalanan hidup Bagayoko sebelum menjadi wali kota terbilang panjang. Ia lahir di Levallois-Perret pada 1973 dan tumbuh di wilayah Plaine, Saint-Denis, setelah keluarganya pindah ke sana pada 1975. Ia menempuh pendidikan di SMA Paul-Eluard, lalu meraih gelar master di bidang Sains dan Teknologi Pengetahuan serta mengikuti pelatihan geopolitik di Universitas Paris-8 di Saint-Denis.
Selain aktif di dunia pendidikan, Bagayoko memiliki latar belakang di bidang transportasi dan olahraga. Sejak 2000, ia bekerja sebagai eksekutif di RATP. Ia juga pernah menjadi pemain bola basket semi-profesional di level Nasional 2 dan memperoleh diploma kepelatihan negara sebelum bergabung dengan Saint-Denis Union Sports (SDUS).
Karier politiknya dimulai pada 2001 ketika terlibat dalam pemerintahan Patrick Braouezec, wali kota Saint-Denis dari Partai Komunis Prancis. Setahun kemudian, ia menjadi wakil wali kota yang menangani komunikasi dan teknologi informasi baru. Pada 2004, ia dipercaya menangani urusan pemuda di bawah pemerintahan wali kota Didier Paillard. Bagayoko kemudian terpilih sebagai anggota Dewan Umum Seine-Saint-Denis pada 2008 dan menjabat sebagai wakil presiden dewan tersebut hingga 2015.
Pada 2012, Bagayoko bergabung dengan gerakan Ensemble yang merupakan bagian dari Front Kiri, yang kemudian berkembang menjadi La France Insoumise. Ia kembali terpilih sebagai wakil wali kota Saint-Denis pada 2014 dengan tanggung jawab bidang olahraga dan integrasi lapangan kerja. Pada 2020, ia maju dalam pemilihan wali kota Saint-Denis melalui partai La France Insoumise (LFI) dan memperoleh 18 persen suara, berada di posisi ketiga. Setelah itu, ia menjadi anggota dewan kota dari pihak oposisi hingga 2026.
Puncak karier politiknya terjadi pada 15 Maret ketika Bagayoko terpilih sebagai wali kota Saint-Denis dan Pierrefitte-sur-Seine setelah memenangkan pemilihan putaran pertama dengan 50,77 persen suara. Kini, aksinya membela mahasiswa demonstran semakin memperkuat citranya sebagai pemimpin yang berpihak pada rakyat kecil.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)