Tiga Tahun Perang di Gaza: 74 Ribu Warga Tewas, 700 Ribu Anak Kehilangan Pendidikan

Tiga tahun setelah agresi Israel di Gaza, lebih dari 74.245 warga Palestina tewas dan sekitar dua juta penduduk kehilangan akses kebutuhan dasar. Meski gencatan senjata diumumkan Oktober 2025, 1.462 warga masih tewas. Ekonomi hancur, 98 persen sekolah rusak, dan 700 ribu anak kehilangan hampir tiga tahun pendidikan tatap muka.

Oct 08, 2026 - 20:02
Updated: 9 hours ago
0 0
Tiga Tahun Perang di Gaza: 74 Ribu Warga Tewas, 700 Ribu Anak Kehilangan Pendidikan
Tiga Tahun Perang di Gaza: 74 Ribu Warga Tewas, 700 Ribu Anak Kehilangan Pendidikan

Tiga tahun sudah agresi Israel di Jalur Gaza berlangsung sejak pascaserangan Hamas. Wilayah Palestina itu kini berubah drastis dan nyaris sulit dikenali. Serangan udara dan darat Israel telah meratakan banyak rumah, permukiman, serta infrastruktur penting, sementara sekitar dua juta penduduk berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti air, makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 74.245 warga Palestina tewas selama perang. Meski gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, penderitaan belum berakhir. Sebanyak 1.462 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata diberlakukan, sementara serangan dan aktivitas militer Israel masih berlangsung di sejumlah wilayah Gaza.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September menunjukkan 94 persen penduduk Gaza masih membutuhkan tempat tinggal dan bantuan rumah tangga dasar. Sekitar 65 persen rumah tangga tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat. Banyak keluarga kekurangan perlengkapan tidur, penerangan, peralatan memasak, dan fasilitas sanitasi. Akses air bersih pun semakin sulit, dengan 91 persen rumah tangga mengalami kerawanan air tingkat sedang hingga tinggi pada awal Agustus, meningkat dari 84 persen pada Juni. Gaza juga masih tidak memiliki jaringan listrik yang berfungsi sehingga rumah tangga dan layanan penting bergantung pada generator serta bahan bakar yang kian langka.

Perang turut menghancurkan perekonomian Gaza. Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan 92 persen lembaga ekonomi Gaza rusak atau hancur sejak Oktober 2023. Tingkat pengangguran mencapai 78 persen, sementara PDB per kapita pada 2025 hanya US$212 atau sekitar 17 persen dari level 2022. Sektor pertanian dan industri hanya beroperasi sekitar enam persen dari tingkat produksi 2022, dan sektor konstruksi hanya mencapai sekitar 1 persen dari kapasitas sebelum perang. Akibatnya, harga kebutuhan pokok pada September masih sekitar 200 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum Oktober 2023.

Sistem pendidikan Gaza juga porak-poranda. UNICEF memperkirakan hampir 98 persen sekolah rusak atau hancur. Hingga April 2026, sekitar 700 ribu anak berusia 4 hingga 17 tahun kehilangan hampir tiga tahun pendidikan tatap muka. Sebagian anak kini belajar di tenda atau ruang belajar sementara, sementara sekitar 200 ribu anak tidak memiliki akses pendidikan. Kementerian Pendidikan Palestina memperingatkan hilangnya keterampilan dasar dan meningkatnya kesenjangan akademik yang dapat memengaruhi masa depan seluruh generasi anak di Gaza.

Sektor kesehatan berada dalam kondisi kritis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan seluruh 36 rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan, dan hanya 19 yang masih berfungsi tanpa ada yang beroperasi dengan kapasitas penuh. Rumah sakit yang tersisa menghadapi kekurangan obat, peralatan medis, perlengkapan diagnostik, dan bahan bakar, sehingga mengganggu pengobatan pasien kanker, dialisis, serta penderita penyakit kronis. Sejak Oktober 2023, sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi untuk perawatan di luar Gaza, namun puluhan ribu pasien lain masih membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia.

Kondisi tempat tinggal yang padat, minimnya air bersih, dan buruknya sanitasi meningkatkan risiko wabah penyakit. Pada September, WHO memperingatkan sistem kesehatan Gaza tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadapi risiko tersebut. Perang juga mengubah wilayah Gaza secara geografis. Euro-Med Human Rights Monitor memperkirakan sekitar 70 persen wilayah Gaza berada di bawah kendali militer Israel atau terkena pembatasan akses, membuat lebih dari dua juta warga Palestina terkonsentrasi di kurang dari 30 persen wilayah Gaza. Rafah menjadi contoh paling jelas, di mana operasi militer Israel pada Mei 2024 menyebabkan lebih dari 800 ribu orang kembali mengungsi, dan kini hampir seluruh wilayah Rafah kecuali bagian barat di Mawasi Rafah berada di bawah kendali Israel.

Pemerintahan dan keamanan Gaza juga melemah. Hamas yang memerintah sejak 2007 menyatakan pada Juli akan menyerahkan kekuasaan administratif kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG), badan teknokrat Palestina yang dibentuk berdasarkan rencana pasca perang, namun proses transisi belum terlaksana. Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat 12 serangan terhadap polisi antara Januari dan Mei 2026 yang menewaskan 53 orang, termasuk 35 polisi. PBB menilai serangan terhadap lembaga pemerintahan publik memperburuk kekacauan dan melemahkan perlindungan warga sipil, sementara kelompok hak asasi manusia Palestina memperingatkan lemahnya aparat keamanan berkontribusi terhadap penculikan, serangan terhadap properti, serta penjarahan bantuan kemanusiaan. Bagi warga Gaza, tiga tahun perang menciptakan kehidupan penuh ketidakpastian tanpa kepastian kapan mereka dapat kembali hidup normal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User