Harga Telur Anjlok Bikin Peternak Demo hingga Buang Telur, Mendag Beberkan Pemicunya

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap penyebab peternak ayam petelur berdemo hingga membuang telur, yaitu harga di tingkat peternak yang sempat anjlok ke Rp22 ribu-Rp23 ribu per kg sehingga tak mampu menutup biaya pakan. Kini harga rata-rata nasional naik menjadi Rp26.800 per kg, mendekati harga acuan Rp30 ribu per kg yang ditetapkan sejak Juni 2024.

Oct 08, 2026 - 16:02
Updated: 13 hours ago
0 0
Harga Telur Anjlok Bikin Peternak Demo hingga Buang Telur, Mendag Beberkan Pemicunya
Harga Telur Anjlok Bikin Peternak Demo hingga Buang Telur, Mendag Beberkan Pemicunya

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan penyebab di balik aksi demonstrasi yang dilakukan peternak ayam petelur, termasuk aksi membuang telur. Menurutnya, hal itu terjadi karena harga telur di tingkat peternak sempat merosot tajam hingga tidak cukup untuk menutup biaya produksi, terutama pakan.

Busan, sapaan akrabnya, menyebut harga telur di tingkat peternak sebelumnya hanya berkisar Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Dengan harga serendah itu, peternak kesulitan membeli pakan sehingga banyak yang melakukan protes dan membuang telur.

Meski demikian, pemerintah mengklaim harga telur kini mulai membaik. Berdasarkan pemantauan, harga rata-rata nasional telah mencapai Rp26.800 per kilogram, mendekati harga acuan yang ditetapkan sebesar Rp30 ribu per kilogram.

"Telur sekarang hari ini itu harga rata-rata nasionalnya Rp26.800, harga acuannya kan Rp30 ribu," ujar Mendag usai membuka acara Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) 2026, Kamis (8/10).

Ia menjelaskan bahwa penetapan harga acuan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai komponen, mulai dari biaya produksi, distribusi, hingga keterjangkauan harga bagi konsumen. Harga yang terlalu rendah dikhawatirkan membuat peternak gulung tikar, yang pada akhirnya bisa memicu kelangkaan dan kenaikan harga di tingkat konsumen.

"Tidak sampai harga terlalu rendah, nanti peternak tutup. Kalau peternak tutup, ya telur enggak ada, justru telur langka dan telur menjadi mahal," kata Busan.

Di sisi lain, pemerintah juga mempertimbangkan daya beli masyarakat. Karena itu, harga acuan ditetapkan pada titik yang dinilai mampu mempertemukan kepentingan produsen dan konsumen. Harga acuan pembelian telur tersebut telah berlaku sejak Juni 2024 dan masih menjadi acuan hingga sekarang.

Sebelumnya, sekitar 1.050 peternak ayam petelur dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Lampung menggelar aksi di depan Gedung DPR RI. Mereka menyuarakan keluhan soal anjloknya harga telur di tingkat peternak serta tingginya biaya pakan yang menekan usaha mereka.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN) pada Rabu (7/10), Pengurus PPN Suwardi mengungkapkan bahwa harga telur di tingkat peternak sejak April berada di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional sebesar Rp26.500 per kg. Harga rata-rata hanya berkisar Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg, bahkan pada Juni sempat menyentuh Rp17.100 per kg. Kondisi ini membuat peternak diperkirakan merugi sekitar Rp5 ribu-Rp7 ribu per kg setiap hari.

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan akan membawa keluhan peternak kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia berjanji mendorong pemerintah mengupayakan penyerapan telur melalui program pemerintah serta menstabilkan harga jagung sebagai bahan utama pakan ternak. "Kita harus buat peternaknya juga sejahtera. Ini akan kami sampaikan terutama harganya yang anjlok ini supaya bisa diserap oleh program-program pemerintah, ya. Jadi tidak terus mubazir," ujar Titiek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User