Trump Setop Sanksi Rusia 60 Hari demi Solar Murah, Zelensky dan Senator AS Murka

Presiden AS Donald Trump membebaskan Rusia dari sanksi dan tarif ekonomi selama 60 hari demi menekan lonjakan harga solar dan BBM. Keputusan yang diambil dua hari sebelum UU berlaku itu memicu kritik dari Senator Republik Thom Tillis dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menilai Washington justru memberi imbalan atas agresi Putin.

Oct 19, 2026 - 00:01
Updated: 1 day ago
0
Trump Setop Sanksi Rusia 60 Hari demi Solar Murah, Zelensky dan Senator AS Murka
Trump Setop Sanksi Rusia 60 Hari demi Solar Murah, Zelensky dan Senator AS Murka

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan membebaskan Rusia dari sanksi dan tarif ekonomi luas selama 60 hari. Kebijakan ini diambil untuk menekan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, sekaligus menganalisis dampaknya terhadap perekonomian global.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjelaskan, penundaan pembatasan ekonomi tersebut sengaja dilakukan saat harga energi global bergejolak akibat eskalasi konflik di sejumlah kawasan, termasuk perang AS dengan Iran. Menurut Rubio, berbagai konflik yang terjadi bersamaan itu sangat terasa dampaknya pada kenaikan harga minyak dan solar.

"Presiden ingin memanfaatkan periode 60 hari ini untuk menganalisis apa arti penerapan sanksi dan tarif tersebut bagi perekonomian global, bahkan bagi perekonomian AS," ujar Rubio dalam keterangan resmi, Sabtu (17/10).

Rubio juga membela transaksi solar dengan Rusia. Ia menegaskan, solar Rusia akan tetap masuk ke pasar global sehingga AS memilih ikut mengambil pasokan tersebut. "Solar yang akan dijual Putin itu, mereka akan menyediakannya ke pasar global dengan satu atau lain cara. Satu-satunya perbedaan adalah seberapa banyak yang akan diperoleh Amerika Serikat," tambahnya.

Sanksi yang seharusnya mulai berlaku pekan ini menyasar pejabat tinggi Rusia, oligarki, hingga lembaga keuangan. Aturan itu juga memberi wewenang bagi AS untuk menindak pembeli utama minyak dan gas Rusia. Kebijakan awal tersebut dirancang Kongres AS untuk memotong sumber dana Presiden Rusia Vladimir Putin dalam membiayai perang di Ukraina.

Namun, Trump membatalkannya tepat dua hari sebelum undang-undang itu efektif berlaku, setelah mencapai kesepakatan impor solar dengan Kremlin. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran masyarakat AS atas tingginya biaya hidup dan lonjakan harga solar, bahan bakar vital yang menggerakkan sektor angkutan darat, pertanian, hingga konstruksi. Tekanan ekonomi ini menjadi isu krusial bagi kubu Partai Republik menjelang pemilu bulan depan.

Trump menegaskan bahwa penundaan sanksi merupakan langkah terbaik untuk kepentingan nasional maupun situasi global. "Kita akan menemukannya, dan kalian juga akan menemukannya. Ini keputusan yang sangat baik, dan ini akan menjadi keputusan yang baik bagi negara, serta menurut saya baik bagi dunia," kata Trump.

Meski demikian, keputusan tersebut langsung menuai gelombang kritik dari internal Kongres AS maupun sekutu luar negeri. Senator Republik Thom Tillis menilai langkah Trump keliru dalam memprioritaskan penyelesaian krisis energi. "Lebih dari sekadar tidak bertanggung jawab. Jika Presiden benar-benar ingin menurunkan harga energi, ia bisa melakukannya dengan menyelesaikan masalah Iran, bukan dengan membantu Vladimir Putin," tegas Tillis.

Kecaman senada datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia khawatir kebijakan penundaan sanksi ini bakal meluas dan menilai langkah Washington justru memberi imbalan bagi tindakan agresi militer Putin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User