Tantangan Teknis dan Administratif Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas

PT MRT Jakarta tengah membangun Pedestrian Deck Dukuh Atas sebagai bagian dari pengembangan kawasan TOD. Proyek ini menghadapi tantangan teknis seperti membangun di atas sungai dan di antara terowongan MRT yang beroperasi, serta menjaga rumah pompa tetap berfungsi. Selain itu, koordinasi dengan banyak pemangku kepentingan menjadi tantangan administratif yang signifikan.

Aug 1, 2026 - 04:32
Aug 1, 2026 - 04:32
 0
Tantangan Teknis dan Administratif Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas
Tantangan Teknis dan Administratif Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas

PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menggarap proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas, sebuah jalur pejalan kaki melingkar yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Proyek ini bertujuan menghubungkan enam moda transportasi, yaitu MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan TransJakarta, serta menciptakan perpindahan antarmoda yang lebih mudah melalui jaringan pejalan kaki yang terintegrasi.

Pembangunan infrastruktur ini tidak sekadar membangun jembatan pejalan kaki, melainkan merupakan mandat perusahaan dalam mengembangkan kawasan berbasis transit di sekitar stasiun MRT. TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, menegaskan bahwa pengembangan kawasan TOD tidak hanya fokus pada pembangunan jalur kereta atau operasional MRT, tetapi juga mendorong integrasi antarmoda, peningkatan konektivitas pejalan kaki, penataan ruang publik, dan pengembangan kawasan yang mampu mendorong aktivitas ekonomi.

Selama hampir tujuh tahun MRT beroperasi, salah satu fokus pengembangan kawasan TOD adalah meningkatkan konektivitas pejalan kaki dengan menghubungkan stasiun, bangunan, dan ruang publik secara seamless. Langkah ini diharapkan dapat mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Sagita menekankan bahwa pengembangan kawasan TOD tidak dapat dilakukan sendiri oleh MRT Jakarta, melainkan membutuhkan kolaborasi dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, operator transportasi, serta pemilik lahan dan bangunan di sekitar kawasan.

Menurut Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, proyek ini memiliki dua tantangan utama, yaitu teknis dan administratif. Secara teknis, sebagian pondasi pedestrian deck harus dibangun di antara terowongan MRT yang masih beroperasi. Struktur bentangnya juga harus melintasi sungai dan Jalan Jenderal Sudirman tanpa mengganggu aktivitas di bawahnya. Agus menyebutkan bahwa bentang kolom mencapai 66 meter di atas sungai dan juga 66 meter di atas jalan.

Tantangan teknis lainnya adalah keberadaan rumah pompa di sisi selatan kawasan. Fasilitas ini harus tetap beroperasi selama proses pembangunan karena berperan mengendalikan genangan di underpass Sudirman. Agus menjelaskan bahwa jika rumah pompa mati, air akan cepat naik di underpass dan menyebabkan banjir. Oleh karena itu, menjaga operasional rumah pompa menjadi prioritas selama konstruksi.

Selain tantangan konstruksi, proyek ini juga menuntut koordinasi lintas instansi karena jalur pedestrian deck akan melintasi aset milik berbagai pihak, mulai dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, PT KAI, Railink, pemerintah pusat, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Agus mengakui bahwa jumlah pemangku kepentingan sangat banyak dan area proyek cukup padat serta sensitif, sehingga manajemen koordinasi menjadi tantangan tersendiri.

Dengan berbagai kompleksitas tersebut, pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi pengguna transportasi umum serta aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Proyek ini menjadi contoh nyata bahwa pengembangan kawasan TOD memerlukan perencanaan matang dan kolaborasi erat antar berbagai pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0