Pakar IPB Jelaskan Penyebab Retakan Tanah di Kalimantan, Bukan Berarti Jadi Gurun

Fenomena retakan tanah di Dusun Limus, Kalimantan Barat, dijelaskan Guru Besar IPB University Widiatmaka akibat pengeringan tanah mengandung liat yang menyusut dan memicu tegangan. Ia menegaskan kondisi ini menyerupai tanah retak di Afrika, bukan bukti lahan berubah menjadi gurun. Penyebab spesifik masih perlu penelitian lapangan.

Oct 12, 2026 - 12:02
Updated: 2 days ago
0 0
Pakar IPB Jelaskan Penyebab Retakan Tanah di Kalimantan, Bukan Berarti Jadi Gurun
Pakar IPB Jelaskan Penyebab Retakan Tanah di Kalimantan, Bukan Berarti Jadi Gurun

Fenomena retakan tanah yang muncul di lahan Dusun Limus, Kalimantan Barat, menjadi perhatian publik. Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB University, Widiatmaka, menjelaskan bahwa retakan tersebut terbentuk melalui proses alami ketika tanah atau endapan lumpur kehilangan air dan mengalami penyusutan.

Menurut Widiatmaka, retakan pada umumnya terjadi pada tanah atau material yang mengandung liat. Saat kehilangan air, material itu menyusut, sementara penyusutannya tertahan oleh lapisan di bawah atau material di sekitarnya. Tegangan yang muncul kemudian membuat permukaan pecah dan membentuk pola retakan.

Proses pengeringan tersebut, kata dia, bisa dipicu berbagai kondisi, seperti hujan yang semakin jarang, penguapan tinggi, genangan yang surut, hingga perubahan sistem aliran air atau drainase. Retakan juga dapat berkaitan dengan penurunan atau pergerakan tanah.

Meski begitu, Widiatmaka menegaskan penyebab retakan tanah di Dusun Limus belum dapat dipastikan secara spesifik karena belum dilakukan pemeriksaan lapangan. Namun, ia memastikan telah terjadi pengeringan pada tanah atau endapan lumpur yang menyebabkan penyusutan di lahan tersebut.

"Belum dapat dipastikan apakah pengeringan itu terutama akibat cuaca kering, surutnya genangan, atau perubahan tata air dan penggunaan lahan," jelas Widiatmaka pada Rabu (7/10), dikutip dari laman IPB.

Ia juga menyoroti anggapan yang menyamakan fenomena ini dengan tanah retak di Afrika dan menyebut lahan tersebut telah menjadi gurun. Menurutnya, perbandingan itu perlu dilihat secara hati-hati karena faktor pemicunya belum tentu sama.

"Lebih tepat menyebutnya menyerupai tanah retak di kawasan kering Afrika, bukan bukti bahwa lahan di Kalimantan telah berubah menjadi gurun," tegasnya.

Widiatmaka menilai kontribusi kekeringan maupun perubahan iklim terhadap kejadian tersebut masih perlu dibuktikan melalui data lapangan dan riwayat hujan. Selain itu, ia mengingatkan perlunya perhatian terhadap aktivitas manusia yang dapat mempercepat pengeringan, seperti berkurangnya naungan akibat pembukaan lahan, perubahan drainase, pengambilan air, serta aktivitas penambangan.

Ia menjelaskan retakan tanah seperti ini tidak selalu menjadi ancaman lingkungan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan jika retakan terjadi berulang, meluas, disertai penurunan permukaan tanah, kematian vegetasi, atau berkurangnya sumber air.

"Retakan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ancaman serius. Kondisi tanah, air, dan penggunaan lahannya perlu diperiksa terlebih dahulu," tandas Widiatmaka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User