Menlu Tata Ungkap Alasan Indonesia Calonkan Budi Gunadi Sadikin sebagai Dirjen WHO
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir mengungkap tujuan Indonesia mencalonkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai Direktur Jenderal WHO. Pencalonan ini untuk memperjuangkan arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang. Budi akan bersaing dengan tiga kandidat lain dari Qatar, Arab Saudi, dan Belgia.
Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Christiawan Nasir membeberkan alasan di balik pencalonan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pernyataan ini disampaikan Tata, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers di Gedung Palapa, Kementerian Luar Negeri, tak lama setelah serah terima jabatan.
Menurut Tata, meskipun terjadi pergantian Menlu, semangat Indonesia tetap sama dalam memperjuangkan berbagai agenda internasional. Hal ini termasuk upaya pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan posisi Direktur Jenderal WHO.
"Semangat yang sama mendasari pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029-2030," ujar Tata. Ia menambahkan bahwa Indonesia akan mendorong Dewan Keamanan PBB agar lebih efektif, representatif, transparan, dan demokratis.
Tata juga menegaskan bahwa pencalonan Budi Gunadi Sadikin sebagai Dirjen WHO bertujuan untuk menciptakan arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang. "Begitu pula pencalonan Menteri Kesehatan kita sebagai Direktur Jenderal WHO demi arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang," jelasnya.
Untuk memperjuangkan dua hal tersebut, Indonesia akan menggunakan strategi pengelompokan seperti G20, BRICS, MIKTA, OKI, APEC, dan D8. Tujuannya agar isu-isu prioritas negara berkembang terus dibahas di forum internasional.
Dalam pemilihan Dirjen WHO, Budi Gunadi Sadikin akan bersaing dengan tiga kandidat lain yang diusulkan oleh negara masing-masing. Mereka adalah Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, dan Hans Henri P Kluge dari Belgia.
Pada Agustus lalu, Budi mengaku didorong oleh Presiden Prabowo Subianto untuk maju sebagai Dirjen WHO. "Itu kan amanah dari Bapak Presiden. Jadi pastilah saya akan kerja buat Bapak Presiden, apapun tugas dari Beliau akan kita jalankan dengan sebaik-baiknya," kata Budi usai rapat di kompleks parlemen.
Proses pemilihan Dirjen WHO dilakukan oleh Majelis Kesehatan Dunia, badan pembuat keputusan tertinggi WHO yang terdiri dari semua negara anggota. Majelis Kesehatan Dunia akan memilih setelah melalui proses nominasi oleh Dewan Eksekutif WHO.
Dewan Eksekutif WHO akan menyaring para kandidat, menyusun daftar pendek, dan menominasikan hingga tiga kandidat untuk dipertimbangkan Majelis Kesehatan Dunia. Selanjutnya, Majelis Kesehatan Dunia akan menunjuk Direktur Jenderal dari nama-nama yang dicalonkan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)