Lavrov ke Teheran, Rusia Siap Kembali Operasikan PLTN Bushehr Usai Diserang AS-Israel

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu Menlu Iran Abbas Araghchi di Teheran dan menegaskan komitmen membantu mengoperasikan kembali PLTN Bushehr yang rusak akibat serangan AS dan Israel. Spesialis Rusia akan kembali bertahap ke lokasi, sementara Rosatom memperingatkan meningkatnya ancaman dan risiko kontaminasi radioaktif di sekitar pembangkit.

Oct 21, 2026 - 12:02
Updated: 19 hours ago
0
Lavrov ke Teheran, Rusia Siap Kembali Operasikan PLTN Bushehr Usai Diserang AS-Israel
Lavrov ke Teheran, Rusia Siap Kembali Operasikan PLTN Bushehr Usai Diserang AS-Israel

Rusia menegaskan kesiapannya membantu Iran memulihkan dan mengoperasikan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr yang terdampak serangan Amerika Serikat dan Israel. Komitmen itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov saat bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran, Senin (19/10).

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai isu, mulai dari upaya perdamaian di Timur Tengah hingga rencana pemulihan PLTN Bushehr. Lavrov menekankan komitmen Rusia terhadap perjanjian kemitraan strategis berdurasi 20 tahun dengan Iran yang mulai berlaku pada 2 Oktober.

Lavrov menyatakan para spesialis Rusia akan kembali bekerja secara bertahap di PLTN Bushehr setelah sebelumnya meninggalkan lokasi selama perang. Ia juga mengaitkan pemulihan pelayaran dengan upaya menjamin keamanan Iran dari kemungkinan serangan baru.

Serangan Israel yang dibantu Amerika Serikat di sekitar PLTN Bushehr terjadi pada Selasa (17/3/2026) malam. Meski serangan berupa proyektil itu tidak menimbulkan kerusakan, insiden tersebut memicu kemarahan Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zarakhova mengecam serangan itu dan meminta Tel Aviv serta Washington menahan diri dari serangan sembrono, seraya menyoroti keselamatan warga Rusia yang bekerja di pembangkit tersebut.

PLTN Bushehr sendiri merupakan hasil kerja sama panjang Iran-Rusia. Menurut Profesor Emeritus Université Catholique Prancis, Dr Bichara Khader, program nuklir Iran pada awal 1990-an kekurangan dana dan kurang mendapat dukungan negara-negara Barat. Kondisi itu membuat Iran beralih ke Tiongkok dan terutama Rusia, yang mengambil alih peran negara-negara Barat. Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama Bushehr melalui kontrak yang ditandatangani pada 1999, sementara perjanjian dengan Tiongkok ditandatangani lebih awal pada 1990 untuk transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir.

Kerja sama teknologi Iran dengan Rusia dan Tiongkok memicu kemarahan AS, yang menjatuhkan serangkaian sanksi antara 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran.

Ancaman terhadap PLTN Bushehr bukan yang pertama. Kepala perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, Alexei Likhachyov, memperingatkan bahwa pembangkit itu menghadapi ancaman akibat serangan AS-Israel yang terus berlangsung. Ia menyebut ledakan sudah terdengar beberapa kilometer dari garis pertahanan stasiun, meski serangan rudal tidak ditujukan langsung ke stasiun melainkan ke fasilitas militer di sekitarnya. Likhachyov mengingatkan serangan terhadap fasilitas tersebut dapat menyebarkan kontaminan radioaktif ke daerah sekitar.

Likhachyov juga menyatakan pembangunan dua unit baru di Bushehr, satu-satunya pembangkit nuklir Iran yang beroperasi, ditangguhkan akibat serangan udara yang masih berlangsung. Namun, ia menegaskan spesialis Rusia tetap berada di lokasi dan melanjutkan pekerjaan. Rosatom membantu Iran membangun Bushehr yang terhubung ke jaringan listrik nasional pada 2011 dengan kapasitas 1.000 megawatt, dan Moskow bersama Teheran sepakat membangun dua reaktor tambahan dengan konstruksi dimulai pada 2017.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User