Kunci Kemenangan Lula di Pilpres Brasil: 10 Juta 'Pasukan' WhatsApp dan Strategi Gerilya Digital
Kemenangan Lula da Silva di putaran kedua Pilpres Brasil tak lepas dari strategi gerilya media sosial. Anggota Kongres Andre Janones membangun kanal WhatsApp 'Exercito de Lula' yang kini berisi 10 juta anggota untuk memobilisasi dukungan, membalikkan dominasi dunia maya kubu Flavio Bolsonaro, dan mengantarkan Lula menang dengan 51,76 persen suara.
Kemenangan Presiden petahana Lula da Silva pada putaran kedua pemilihan umum Brasil Oktober lalu tidak terlepas dari peran strategi gerilya media sosial yang dijalankan tim kampanyenya. Salah satu tokoh di balik manuver tersebut adalah Andre Janones, anggota Kongres yang memanfaatkan kanal WhatsApp sebagai basis mobilisasi pendukung.
Melalui kanal yang diberi nama "Exercito de Lula" atau Pasukan Lula, Janones mengklaim telah merekrut sekitar 1,5 juta orang pada awal pembentukannya. Dalam unggahannya di platform X pada 7 Oktober, beberapa hari setelah putaran pertama, ia menyebut langkah itu sebagai satu-satunya cara menembus gelembung informasi karena algoritma dinilai hanya mengirim konten dari kalangan kanan secara organik. Kini kanal tersebut dikabarkan telah memiliki 10 juta anggota.
Pada putaran pertama 4 Oktober, tidak ada calon yang meraih ambang batas 50 persen plus satu. Lula memperoleh 47,03 persen suara, sementara pesaingnya dari sayap kanan, Flavio Bolsonaro, yang juga anak eks presiden Jair Bolsonaro, meraih 45,16 persen. Hasil itu memaksa keduanya bertarung lagi di putaran kedua.
Meski kanal WhatsApp tersebut sebenarnya sudah ada sejak April, Janones baru memanfaatkannya secara maksimal setelah hasil putaran pertama untuk melawan Flavio. Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah dibentuk, ia mengaku menerima banyak laporan yang menuduhnya menyebarkan berita palsu, padahal kanal itu belum digunakan untuk mengunggah apa pun karena masih tahap mobilisasi. Menurutnya, kubu pendukung Flavio panik karena merasa menang di dunia maya dan khawatir jika kanal itu mencapai 3 juta anggota, ia akan membalikkan hasil pemilu untuk Lula.
Melalui kanal Pasukan Lula, Janones menginstruksikan pengikutnya untuk mempromosikan tagar, mengomentari siaran langsung, membagikan video, menyukai unggahan yang berkaitan dengan Lula, serta mempublikasikan foto dengan gerakan L yang diasosiasikan dengan Lula. Ia juga meminta pendukungnya tidak berkomentar di unggahan lawan dan tidak berinteraksi dengan konten buatan tim kampanye Flavio agar konten lawan tenggelam dengan sendirinya. Janones menyadari bahwa sekadar membaca atau menonton konten kelompok kanan akan dibaca algoritma sebagai bentuk ketertarikan terhadap konten serupa.
Gerakan ini dijalankan sangat intensif. Janones bahkan meminta para pendukung yang kelelahan menyebar konten untuk menyerahkan ponselnya kepada orang lain. Taktik tersebut membuat kubu Flavio frustrasi. Pada 11 Oktober, mereka mengadu ke Mahkamah Agung atas dugaan misinformasi. Saat itu hakim MA memerintahkan penangguhan grup WhatsApp, tetapi keputusan tersebut kemudian dibatalkan.
Putaran kedua digelar pada 25 Oktober dengan hasil Lula meraih 51,76 persen suara dan Flavio 48,21 persen. Kemenangan Lula memang tidak hanya ditentukan oleh perang digital, tetapi juga partisipasi pemilu, redistribusi suara dari kandidat yang tereliminasi, dan perubahan geografis dukungan. Namun mobilisasi online yang dilakukan Janones dinilai sangat penting.
"Saya tidak ragu. Tanpa itu, saya rasa kebangkitan kembali tidak akan terjadi. Dia mengatur gerakan militan, dia memberi mereka metode. Saya pikir itulah poin utamanya," kata kepala eksekutif perusahaan riset IPSE Global, Leonardo Magalhaes Firmino, seperti dikutip CNN. Kubu kanan sempat meremehkan strategi Janones yang dianggap hanya berbicara kepada pendukung Lula. Justru di situlah intinya: komunikasi langsung dengan para pendukung yang sudah yakin, yang kemudian menyampaikan pesan kepada keluarga, teman, dan pemilih yang belum menentukan pilihan atau bahkan berpotensi abstain.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)