Trump Kerahkan Segala Cara demi Kalahkan Demokrat di Pemilu Sela AS
Menjelang pemilu sela AS, Partai Republik dan Donald Trump berupaya keras menjegal kebangkitan Partai Demokrat yang diprediksi menang. Berbagai taktik dilakukan, mulai dari mengancam pejabat lokal, menjanjikan uang Rp90 juta per orang, menyerang identitas lawan, hingga menuduh Demokrat komunis.
Partai Republik dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah berupaya keras menghadapi kebangkitan Partai Demokrat menjelang pemilihan sela atau midterm election yang digelar Selasa (3/11). Sejumlah jajak pendapat memprediksi Demokrat akan memenangi kontestasi ini. Survei RealClearPolling menunjukkan partai berlambang biru itu memimpin dengan 51,5 persen suara, sementara Republik berada di angka 43,1 persen.
Pemilu sela tidak hanya menentukan kursi Senat dan Dewan Perwakilan, tetapi juga berbagai posisi pemerintahan di tingkat federal, negara bagian, hingga lokal. Melihat kondisi tersebut, Trump dan Partai Republik disebut kalang kabut dan mengerahkan berbagai taktik untuk menggagalkan kemenangan Demokrat.
Menurut laporan lembaga think tank Atlantic, Trump berupaya menggunakan kekuatan negara untuk mengamankan kemenangan elektoral bagi partainya. Mereka berusaha melemahkan pemungutan suara melalui pos, menuntut negara bagian menyerahkan daftar pemilih, mengancam akan menuntut pejabat pemilihan negara bagian dan lokal, serta menolak mengesampingkan gagasan mengerahkan pasukan atau agen federal ke tempat pemungutan suara. Selain itu, mereka mempublikasikan penangkapan dramatis sejumlah kecil orang yang dituduh memilih atau mendaftar sebagai bukan warga negara.
The Guardian mencatat upaya yudisial paling agresif terjadi di Alaska pada Oktober lalu. Pemerintahan Trump meminta pengadilan federal turun tangan sebelum hari pemilihan dan memblokir pengesahan jika kandidat Republik kalah.
Dalam kampanye di Iowa dan Kansas, Trump menjanjikan akan memberikan US$5000 atau sekitar Rp90 juta kepada setiap warga negara AS jika mereka menang. Partai Republik juga mengumpulkan dan membelanjakan dana lebih besar daripada Demokrat. Salah satu penyumbang terbesar adalah bos Tesla sekaligus pemilik media sosial X, Elon Musk, yang telah memberi hampir US$500 juta untuk membantu Partai Republik. Komite Nasional Partai Republik menerima sekitar US$341 juta dan menghabiskan sekitar US$303 juta per 14 Oktober, menurut Al Jazeera.
Trump turun langsung berkampanye di Iowa dan Kansas, dua negara bagian lumbung suara Republik. "Saya akan bertolak ke Iowa, dan kemudian-yang tak kalah penting-ke Kansas (ini akan menjadi perhentian terakhir saya!), untuk memastikan para Patriot hebat kita turun memberikan suara bagi kandidat-kandidat yang sungguh luar biasa," kata Trump pada Minggu.
Kampanye Republik juga diwarnai bahasa pedas dan hinaan. Trump dan anggota partainya menuduh kandidat Demokrat terkemuka sebagai radikal hingga pro-teroris. Trump pernah memaki calon Senat Michigan, Abdul El-Sayed, dan salah menyebut nama depannya menjadi Mohammed. "Dia adalah ekstremis radikal, simpatisan teroris, dan tidak berbeda dengan sahabatnya, Hasan Piker yang membenci Amerika," ujar Trump. Ia juga menilai nilai-nilai El-Sayed tidak sesuai dengan nilai warga Michigan atau Amerika Serikat.
Selain itu, Trump berulang kali menuduh Demokrat membuat AS menjadi negara komunis dan menuding anggotanya sebagai komunis radikal. "Jadi, Partai Demokrat membenci negara kita. Mereka komunis. Mereka orang-orang gila sayap kiri radikal," kata Trump pada September lalu, dikutip The Guardian. Tudingan komunis sendiri selalu menjadi momok dalam politik AS, berbeda dengan di Eropa, di mana setiap pemerintahan yang memproklamirkan diri sebagai komunis dianggap gagal.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)