Studi Ungkap Burung Laut Bisa Kena Jet Lag, Arah Migrasi Jadi Melenceng
Studi terbaru di jurnal Science mengungkap burung laut seperti camar Manx bisa mengalami jet lag saat migrasi jarak jauh melintasi Atlantik. Ketidaksesuaian jam biologis dengan waktu setempat membuat kompas matahari mereka meleset hingga sekitar 15 derajat dan arah terbang menyimpang dari jalur seharusnya.
Migrasi jarak jauh ternyata bukan hanya soal stamina. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa burung laut yang terbang melintasi Atlantik bisa mengalami jet lag, kondisi ketika jam biologis internal tidak sinkron dengan waktu setempat. Akibatnya, navigasi mereka terganggu dan arah terbang menjadi melenceng.
Temuan ini berangkat dari cara burung menentukan arah. Banyak hewan, termasuk burung, memanfaatkan posisi Matahari sebagai kompas alami. Karena Matahari terus bergerak melintasi langit, burung memerlukan jam internal agar bisa menafsirkan posisinya dengan tepat. Biasanya, Matahari terbit menjadi isyarat untuk mengatur ulang jam tubuh dan menentukan arah terbang.
Masalah muncul ketika burung terbang cepat ke arah timur atau barat pada siang hari. Jam internal mereka berpotensi tidak lagi selaras dengan waktu Matahari di lokasi yang sedang dilintasi. Dalam kondisi itu, burung bisa salah memperkirakan posisi Matahari sehingga terbang sedikit menyimpang dari jalur yang seharusnya.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (29/10) itu menganalisis data pelacakan GPS selama 20 tahun terhadap 1.045 burung camar Manx (Puffinus puffinus). Dari periode tersebut, terkumpul sekitar 3.688 perjalanan mencari makan. Burung camar Manx sendiri berkembang biak di pulau-pulau lepas pantai barat Inggris dan Irlandia, dan rutin terbang ratusan kilometer hingga 1.000 kilometer ke arah barat untuk mencari makanan.
Saat kembali ke sarang, burung-burung itu bergerak ke arah timur melintasi garis bujur menuju zona yang Matahari-nya terbit lebih awal. Kondisi ini membuat mereka berpotensi mengalami jet lag hingga satu jam, mirip yang dialami manusia ketika terbang ke wilayah dengan zona waktu lebih awal. Tim peneliti lalu membandingkan arah pergerakan burung dengan pergerakan Matahari menggunakan model statistik.
Hasilnya, penyimpangan arah terbang burung sejalan dengan efek pergeseran orientasi waktu pada kompas Matahari mereka. Peneliti menilai penyimpangan itu cenderung disebabkan oleh kompas Matahari, bukan dinamika magnet Bumi seperti dugaan alternatif pada hipotesis sebelumnya. Kesalahan navigasi ini tetap terjadi bahkan saat burung terbang di sepanjang garis pantai yang terlihat, yang seharusnya bisa menjadi penanda lokasi.
"Sungguh menakjubkan untuk berpikir bahwa miliaran hewan migrasi menatap matahari untuk menentukan arah, mengandalkan jam yang berdetak tanpa suara di dalam tubuh mereka, dan bahwa kesalahan pada jam tersebut dapat menyebabkan mereka menyimpang sedikit dari jalur yang seharusnya," kata peneliti utama Patrick Lewin.
Meski begitu, efek jet lag pada navigasi burung yang diamati tergolong kecil, sekitar 15 derajat. Burung juga tampaknya mampu mengenali posisi dan terus menyesuaikan arah rute pulang. Menurut perhitungan peneliti, burung camar yang kembali dari jarak 1.000 kilometer dengan kesalahan kompas rata-rata 7 derajat hanya akan menempuh jarak tambahan sekitar 5 kilometer dari rute idealnya.
Kendati demikian, temuan ini menunjukkan dampak yang lebih luas bagi hewan yang bermigrasi lebih jauh tanpa bisa terus-menerus menyesuaikan arah. Pada burung yang melakukan migrasi pertama, kesalahan navigasi berpotensi menggeser mereka dari tujuan hingga ratusan kilometer. Peneliti juga menyebut efek jet lag berpotensi menimbulkan dampak lain seperti gangguan tidur dan kelelahan, sehingga penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kesehatan, perilaku, dan kelangsungan hidup burung. Selain itu, cara burung camar beradaptasi menyesuaikan arah terbang dinilai bisa membantu mempelajari cara mengatasi jet lag pada manusia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)